Warga Perum Polda Sleman Diajak Siaga, BPBD dan Bhabinkamtibmas Turun Langsung

FAJARLAMPUNG.COM, Sleman – BPBD Sleman mengingatkan warga meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi 11 ancaman bencana. Pesan tersebut disampaikan melalui sosialisasi mitigasi bencana dan kamtibmas.
‎
‎Kegiatan berlangsung di Kompleks Perum Polda RT 15 RW 03, Sidokerto, Purwomartani, Kalasan, Sabtu (10/10/2026) malam, dengan melibatkan seluruh warga setempat.
‎
‎Sosialisasi menghadirkan Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Sleman, Ari Triono, untuk menjelaskan potensi bencana sekaligus langkah penyelamatan yang tepat.
‎
‎Ari menegaskan, pendidikan kebencanaan penting diberikan sejak dini agar masyarakat memahami risiko, mengenali ancaman, serta mengetahui tindakan ketika bencana terjadi.
‎
‎“Pendidikan kebencanaan untuk masyarakat, terutama usia pelajar, sangat penting karena mereka adalah kelompok rentan yang perlu dibekali pengetahuan dasar keselamatan,” ungkap Ari.
‎
‎Menurutnya, pemahaman mengenai langkah penyelamatan dapat membantu masyarakat mengurangi risiko korban jiwa. Karena itu, edukasi kebencanaan perlu dilakukan secara berkelanjutan.
‎
‎BPBD Sleman mencatat terdapat 11 potensi ancaman bencana berdasarkan dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB). Ancaman tersebut memerlukan perhatian serius seluruh lapisan masyarakat.
‎
‎Ancaman pertama adalah erupsi Gunung Merapi, termasuk aktivitas vulkanik, awan panas, dan guguran lava yang berpotensi membahayakan masyarakat di kawasan rawan.
‎
‎Kedua, banjir lahar hujan yang membawa material vulkanik melalui aliran sungai dari Merapi. Warga diminta memahami risiko ketika hujan mengguyur kawasan hulu.
‎
‎Ketiga, banjir dan banjir bandang akibat meluapnya sungai ketika curah hujan tinggi. Masyarakat perlu memperhatikan kondisi lingkungan serta perkembangan cuaca.
‎
‎Keempat, tanah longsor yang berpotensi terjadi terutama di kawasan perbukitan atau lereng labil. Kewaspadaan diperlukan ketika hujan berlangsung lama dan intensitasnya meningkat.
‎
‎Kelima, angin kencang atau puting beliung yang dapat muncul saat peralihan musim maupun musim hujan. Warga perlu mewaspadai perubahan cuaca mendadak.
‎
‎Keenam, gempa bumi akibat aktivitas sesar tektonik maupun kegempaan lokal dan regional. Masyarakat perlu mengetahui jalur evakuasi serta tempat berlindung yang aman.
‎
‎Ketujuh, kekeringan hidrologis yang berpotensi memicu krisis air bersih saat kemarau. Kedelapan, kebakaran hutan dan lahan juga menjadi ancaman yang harus diantisipasi.
‎
‎Kesembilan, likuefaksi dapat terjadi ketika guncangan gempa memengaruhi tanah jenuh air. Kesepuluh, cuaca ekstrem, termasuk hujan es, sambaran petir, dan angin kencang.
‎
‎Kesebelas, kebakaran gedung, permukiman, serta kawasan industri menjadi risiko yang perlu diwaspadai, terutama di lingkungan padat penduduk dan kawasan perkotaan.
‎
‎Ari mengatakan, BPBD Sleman terus memperkuat kesiapsiagaan melalui koordinasi dengan berbagai instansi. Langkah tersebut mencakup pemantauan, sosialisasi, serta kerja sama lintas lembaga.
‎
‎“BPBD Kabupaten Sleman terus melakukan berbagai upaya kesiapsiagaan, di antaranya menjalin kerja sama dengan BPPTKG Yogyakarta dalam melakukan pemantauan dan sosialisasi,” katanya.
‎
‎Selain itu, BPBD berkoordinasi dengan BNPB, lembaga swadaya masyarakat lokal maupun asing, serta berbagai unsur terkait untuk memperkuat upaya pengurangan risiko bencana.
‎
‎Upaya mitigasi juga dilakukan melalui penyusunan Rencana Kontinjensi Erupsi Gunung Merapi pada 2020, pemasangan 35 perangkat Early Warning System, serta penyiapan jalur evakuasi.
‎
‎Jalur tersebut dilengkapi rambu-rambu dan titik kumpul di daerah berpotensi bahaya. Warga diharapkan mengenali fasilitas tersebut sebelum keadaan darurat benar-benar terjadi.
‎
‎Sosialisasi Kamtibmas
‎
‎Bhabinkamtibmas Purwomartani 1, Kalasan, Aiptu Purwadi, berharap sosialisasi membuat masyarakat lebih sigap menghadapi bencana sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap keamanan lingkungan masing-masing.
‎
‎“Walau tidak mengharapkan adanya bencana, tetapi dengan sosialisasi ini, warga masyarakat lebih paham apa yang akan dilakukan jika terjadi bencana alam,” tegas Purwadi.
‎
‎Purwadi juga mengajak warga mengaktifkan kembali sistem keamanan lingkungan atau siskamling. Menurutnya, keamanan dan kenyamanan membutuhkan partisipasi aktif seluruh masyarakat.
‎
‎“Walau ada aparat keamanan, kalau bisa aktifkan lagi siskamling di wilayah masing-masing, demi keamanan dan kenyamanan warga,” jelasnya.
‎
‎Ia turut mengingatkan masyarakat agar mewaspadai penipuan berkedok pinjaman online. Warga diminta berhati-hati mengunduh aplikasi yang berpotensi menjerat pengguna dalam masalah pinjaman.
‎
‎Kepada para orangtua, Purwadi berpesan agar memperhatikan pergaulan anak, terutama ketika mereka sering keluar malam dengan alasan nongkrong atau
‎mencari udara segar.
‎
‎“Kita sebagai orangtua lebih waspada dan tegas terhadap anak-anak kita, terutama anak kita yang suka keluar malam,” pungkasnya.
‎
‎Melalui sosialisasi tersebut, BPBD Sleman dan Bhabinkamtibmas berharap masyarakat semakin sadar terhadap risiko bencana, menjaga keamanan lingkungan, serta membangun kebiasaan saling melindungi.(ady)