Upacara Tarapan Jawa: Padmasangita dan HARPI Melati Jaga Warisan Budaya Daur Hidup di Jogja

FAJARLAMPUNG.COM, Sleman – Paguyuban Karawitan Padmasangita bersama HARPI Melati DIY menggelar pagelaran Upacara Adat Tarapan Gaya Ngayogyakarta untuk mengenalkan tradisi perempuan Jawa kepada masyarakat luas.
‎
‎Acara tersebut berlangsung Sabtu (17/10/2026), pukul 19.00 hingga 20.00 WIB, di Atrium Jogja City Mall, Jalan Magelang Km 6, Sleman, Yogyakarta.
‎
‎Pagelaran ini terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya. Penyelenggara menghadirkan upacara secara simbolik dengan tetap mempertahankan urutan prosesi lengkap sesuai pakem adat Ngayogyakarta.
‎
‎Kolaborasi tersebut berawal dari kesamaan kepedulian Padmasangita dan HARPI Melati DIY terhadap pelestarian tradisi perempuan Jawa di tengah perubahan zaman.
‎
‎Ketua Paguyuban Karawitan Padmasangita sekaligus Tim Pengarah Acara, Dian S. Prijomustiko, mengatakan Tarapan merupakan tradisi penting dalam perjalanan kehidupan perempuan Jawa.
‎
‎”Tarapan menandai peralihan anak perempuan dari masa kanak-kanak menuju remaja dan kedewasaan,” kata Dian dalam keterangan tertulis, Jumat (16/10/2026).
‎
‎Menurut Dian, pagelaran tersebut tidak sekadar menyuguhkan pertunjukan budaya, tetapi juga menjadi sarana edukasi agar generasi muda memahami nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Tarapan.
‎
‎”Urut-urutannya lengkap mulai dari siraman, ngratus rikma, hingga pantesan busana,” ujarnya menjelaskan rangkaian prosesi yang akan diperagakan dalam pagelaran tersebut.
‎
‎Dian berharap masyarakat memahami makna perawatan dan pendampingan anak perempuan sebagai bagian penting mempersiapkan generasi penerus bangsa yang berkualitas.
‎
‎”Anak perempuan harus diruwat dengan sungguh-sungguh karena dari rahimnyalah akan lahir generasi mendatang yang cerdas, tangguh, mandiri, dan berprestasi,” katanya.
‎
‎Ketua HARPI Melati DIY, Rita, menegaskan pihaknya tetap menjaga keaslian tata rias, busana, serta perlengkapan adat meskipun prosesi ditampilkan secara simbolik di ruang publik.
‎
‎”Paes, sanggul, kebaya, jarik, dan seluruh ubo rampe kami sajikan sesuai pakem Ngayogyakarta,” kata Rita mengenai persiapan penampilan tersebut.
‎
‎Ia menjelaskan, penyajian simbolik tidak menghilangkan kelengkapan urutan adat. Pendekatan itu justru memudahkan masyarakat mempelajari tradisi melalui pertunjukan yang terbuka.
‎
‎”Simbolik itu artinya untuk tujuan edukasi di ruang publik, tetapi secara adat urutannya lengkap dan sah,” ujarnya menegaskan.
‎
‎Rita juga menyoroti makna filosofis tata rias dan busana dalam Tarapan, yang tidak hanya berkaitan dengan penampilan fisik perempuan.
‎
‎”Setiap goresan paes adalah simbol kedewasaan, setiap lekuk sanggul adalah lambang kebijaksanaan. Inilah yang harus dilestarikan,” katanya.
‎
‎Ketua DPP HARPI, Listiani Sintawati, turut mengapresiasi kolaborasi Padmasangita dan HARPI Melati DIY sebagai contoh kerja bersama untuk menjaga warisan budaya.
‎
‎”Apa yang dilakukan Padmasangita dan HARPI Melati DIY adalah contoh cantik bagaimana inisiatif baik jika bertemu akan saling menguatkan,” ujar Listiani.
‎
‎Menurut Listiani, pertemuan seni karawitan dengan keterampilan tata rias tradisional mampu menghadirkan pertunjukan yang memberikan hiburan sekaligus pengetahuan mengenai nilai-nilai budaya.
‎
‎”Yang lahir bukan hanya tontonan, tetapi tuntunan. Ketika seorang anak perempuan dirias dalam Tarapan, sejatinya kita sedang merias masa depan bangsa,” tuturnya.
‎
‎Ia berharap inisiatif serupa terus mendapatkan dukungan agar tradisi perempuan Jawa tetap dikenal dan dipahami generasi muda di tengah perkembangan masyarakat.
‎
‎Pagelaran tersebut menghadirkan iringan karawitan langsung oleh Padmasangita, sementara HARPI Melati DIY menangani tata rias, busana, serta tata cara adat Ngayogyakarta.
‎
‎Jaringan Masyarakat Budaya Nusantara (JMBN) menjadi salah satu pihak yang turut mendukung penyelenggaraan acara tersebut bersama sejumlah pihak lainnya.
‎
‎Padmasangita berdiri pada 23 Januari 2023 sebagai wadah alumni SMA Negeri 3 Padmanaba Yogyakarta lintas angkatan untuk melestarikan seni karawitan.
‎
‎Paguyuban tersebut mengusung falsafah Sanggit, Ngrawit, Srawung Sesami sebagai landasan berkesenian, mempererat persaudaraan, dan menjaga tradisi budaya melalui kegiatan bersama.
‎
‎Melalui pagelaran Tarapan, Padmasangita dan HARPI Melati DIY berharap masyarakat semakin mengenal kekayaan adat Ngayogyakarta sekaligus meneruskan warisan budaya kepada generasi berikutnya.(waw)