Susanto Dwi Antoro Dorong Langen Beksan Jaga Warisan Budaya

‎‎FAJARLAMPUNG.COM, Jogja – Semangat pelestarian budaya kembali mendapat perhatian melalui syukuran tujuh tahun Langen Beksan Yogyakarta, Minggu (1/11/2027) di Taman Budaya Embung Giwangan.
‎
‎Momentum ini menjadi pengingat pentingnya ruang budaya yang tumbuh bersama masyarakat setempat.
‎
‎Ketua Komisi A DPRD Kota Yogyakarta, Susanto Dwi Antoro, S.E., dikenal vokal mendukung pelestarian budaya serta pengembangan pariwisata berbasis kemasyarakatan di Yogyakarta secara konsisten.
‎
‎Dukungan tersebut sejalan dengan semangat Langen Beksan Yogyakarta yang menandai perjalanan tujuh tahun melalui perayaan bertajuk “Nyawiji Ngrabuk Yuswo”.
‎
‎Ungkapan tersebut menegaskan kebersamaan sebagai semangat komunitas dalam menjaga keberlanjutan kegiatan seni dan budaya khas Yogyakarta secara bersama.
‎
‎Bagi Susanto, pelestarian budaya perlu melibatkan masyarakat secara luas, bukan hanya menjadi agenda seremonial yang berlangsung sesaat tanpa kesinambungan dan manfaat bagi warga.
‎
‎Komunitas seni memiliki peran penting mengenalkan tradisi kepada generasi muda, sekaligus membuka kesempatan warga terlibat langsung dalam kegiatan kreatif dan produktif bersama masyarakat.
‎
‎Upaya tersebut juga dapat memperkuat daya tarik wisata Yogyakarta melalui pengalaman budaya yang berakar pada kehidupan masyarakat, tradisi, dan kearifan lokal setempat berkelanjutan.
‎
‎Pendekatan pariwisata berbasis kemasyarakatan menempatkan warga sebagai pelaku utama, sehingga manfaat kegiatan budaya diharapkan dapat dirasakan langsung oleh seluruh lingkungan sekitar warga setempat.
‎
‎Perjalanan tujuh tahun Langen Beksan menjadi penanda konsistensi komunitas dalam merawat ruang ekspresi, mempertemukan pelaku seni, serta menjaga tradisi tetap hidup dan berkembang.
‎
‎”Momentum syukuran ini sekaligus menjadi kesempatan mengevaluasi perjalanan komunitas, memperluas kolaborasi, dan merancang kegiatan yang semakin dekat dengan kebutuhan serta aspirasi masyarakat luas,” tegasnya.
‎
‎Pelestarian tidak cukup dilakukan dengan mempertahankan bentuk pertunjukan, tetapi juga membutuhkan regenerasi, ruang belajar, serta dukungan berkelanjutan terhadap para pelaku seni lokal di Yogyakarta.
‎
‎Karena itu, keterlibatan pemerintah, komunitas, pelaku usaha, dan warga diperlukan agar ekosistem budaya dapat berkembang secara berkelanjutan, inklusif, dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.
‎
‎Susanto dikenal aktif menyuarakan dukungan terhadap agenda kebudayaan, terutama ketika kegiatan tersebut membuka partisipasi publik dan menguatkan identitas budaya Kota Yogyakarta secara luas.
‎
‎Semangat itu relevan dengan tantangan menjaga tradisi di tengah perubahan zaman, ketika generasi muda membutuhkan cara kreatif untuk mengenal warisan budaya leluhur secara menarik.
‎
‎”Komunitas seperti Langen Beksan dapat menjadi jembatan antar generasi melalui kegiatan seni yang menghadirkan ruang perjumpaan, pembelajaran, dan kebersamaan bagi seluruh warga di tingkat lokal,” jelasnya.
‎
‎Selain menjaga tradisi, kegiatan budaya
‎berpotensi menggerakkan ekonomi lokal melalui keterlibatan pekerja seni, usaha kecil, serta berbagai layanan pendukung di sekitarnya bagi masyarakat setempat.
‎
‎Namun, pengembangan tersebut perlu tetap berpijak pada nilai budaya, menghormati masyarakat setempat, dan memastikan kegiatan berlangsung dengan semangat gotong royong bersama warga di setiap kegiatan.
‎
‎Syukuran ke-7 Langen Beksan Yogyakarta pun menghadirkan pesan bahwa kebudayaan akan terus hidup ketika dirawat bersama, bukan diserahkan kepada segelintir pihak saja secara nyata.
‎
Harapannya, perjalanan komunitas memasuki tahun berikutnya semakin memperluas jejaring, memperkuat regenerasi, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat luas di Yogyakarta, khususnya Kota Yogyakarta.
‎
Dengan dukungan berbagai pihak,
‎Langen Beksan diharapkan terus menjadi ruang berkesenian sekaligus penggerak pelestarian budaya dan pariwisata yang berpihak kepada kepentingan masyarakat secara inklusif.(waw)