Pemkab Bantul Dorong Pengawasan Sekolah terhadap Pelaksanaan Program MBG
FAJARLAMPUNG.COM, Bantul – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di kawasan Trimurti, Kapanewon Srandakan, Bantul, masih terus berjalan meski diterpa persoalan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Pemerintah Kabupaten Bantul mengaku sudah melaporkan kondisi tersebut kepada pemerintah pusat, namun hingga kini belum ada keputusan penghentian operasional.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Bantul, Hermawan Setiaji, menegaskan kewenangan penutupan sepenuhnya berada di tangan Badan Gizi Nasional (BGN).
“Situasi di lapangan sudah kami sampaikan ke BGN, mulai dari persoalan limbah hingga belum adanya SLHS. Tapi sejauh ini belum ada keputusan penutupan,” ujarnya, Jumat (8/5).
Meski belum dihentikan, Pemkab Bantul meminta pengelola segera melakukan pembenahan, terutama pada sistem IPAL.
Langkah itu menyusul keluhan warga terkait dugaan pencemaran sumur di sekitar lokasi operasional dapur MBG.
“Perbaikan kami minta segera dilakukan dan maksimal 10 hari sejak aduan pertama muncul,” kata Hermawan.
Tak hanya itu, pemerintah juga meminta penggunaan air dari sumur setempat untuk memasak dihentikan sementara sampai persoalan benar-benar tuntas.
Pemkab Bantul kini mulai mendorong sekolah ikut aktif melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG, terutama menyangkut menu makanan yang diberikan kepada para siswa.
“Selama ini sekolah hanya menerima makanan jadi. Sekarang kami dorong agar ikut mengetahui dan berkomunikasi soal menu,” terang Hermawan.
Menurutnya, keterlibatan sekolah penting agar kualitas makanan dan pelaksanaan program bisa diawasi bersama secara lebih terbuka.
Sementara itu, warga Mangiran yang terdampak masih berharap ada tindak lanjut nyata dari pengelola.
Salah seorang warga, Agus Indriyanto, mengaku kondisi air sumur bor pengganti mulai membaik meski belum layak dikonsumsi.
“Airnya sudah agak jernih dan busanya berkurang, tapi masih belum bisa untuk minum atau memasak. Baru untuk mandi dan mencuci,” ujarnya.
Ia menambahkan bantuan air galon masih rutin diberikan, namun belum ada langkah lanjutan lain sejak sumur bor dibuat. (waw)

