Kolaborasi RS dan Kalurahan Tingkatkan Layanan Kesehatan untuk Cegah Stunting

FAJARLAMPUNG.COM, SLEMAN – Upaya menekan angka stunting di Condongcatur terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor antara RS Condong Catur dan Pemerintah Kalurahan.
‎
Sinergi ini diwujudkan dalam podcast edukatif bertajuk “Sinergi Medis dan Strategi Wilayah: Upaya Terpadu Penurunan Stunting di Condongcatur” yang digelar pada Selasa (14/4/2026).
‎
Kegiatan ini menghadirkan perspektif kebijakan dan medis sekaligus sebagai sarana edukasi publik yang akan ditayangkan melalui kanal YouTube resmi RS.
‎
Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, menegaskan bahwa stunting masih menjadi perhatian serius di wilayahnya.
‎
Ia mengungkapkan, “Pada tahun 2024 tercatat 59 kasus, dan berhasil ditekan menjadi 51 kasus di tahun 2025.
‎
Ini hasil kerja bersama yang berkelanjutan.” Ia menambahkan, “Sinergi antara otoritas medis dan kebijakan anggaran di kalurahan adalah kunci agar intervensi berjalan efektif.”
‎
Berbagai program strategis terus digencarkan, seperti Program DAHSYAT (Dapur Sehat Atasi Stunting) dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi kelompok rentan.
‎
Selain itu, penguatan 40 Posyandu dilakukan bersama Puskesmas Depok II dan RS Condong Catur.
‎
“Kami tidak hanya memberi bantuan, tapi memastikan sistem rujukan dari posyandu ke rumah sakit berjalan tanpa kendala,” ujar Reno.
‎
Dari sisi medis, dr. Dhyah Listya Palupi, Sp.A. menjelaskan bahwa stunting bukan sekadar masalah tinggi badan.
‎
“Stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan,” katanya.
‎
Ia menekankan pentingnya ASI eksklusif, MPASI bergizi, serta pemantauan rutin.
‎
“Deteksi dini di posyandu hingga rujukan ke rumah sakit harus berjalan terintegrasi,” jelasnya.
‎
Ia juga menyoroti pentingnya pencegahan sejak sebelum kehamilan melalui program promil.
‎
“Asupan nutrisi seperti asam folat dan zat besi harus dipenuhi sejak awal,” ujarnya. Namun, ia mengakui tantangan masih ada.
‎
“Rendahnya kepercayaan sebagian masyarakat terhadap posyandu menjadi hambatan, sehingga edukasi berkelanjutan sangat diperlukan,” tegasnya.
‎
Melalui kolaborasi ini, masyarakat diharapkan semakin aktif memanfaatkan layanan kesehatan demi mewujudkan generasi bebas stunting. (andriyani)