Evaluasi Janji Kampanye Hasto-Wawan: Enam Program Utama Jadi Sorotan Warga Jogja

‎FAJARLAMPUNG.COM, Jogja – Sejumlah pekerjaan rumah pembangunan Kota Yogyakarta masih membutuhkan penyelesaian. Pemerintahan Hasto Wardoyo dan Wawan Harmawan memiliki waktu hingga 2030 untuk menuntaskan targetnya.
‎
‎Pasangan Hasto-Wawan dilantik pada Februari 2025. Setelah lebih dari setahun memimpin, sejumlah agenda strategis masih menjadi perhatian, mulai pengelolaan sampah hingga pembangunan ruang edukasi.
‎
‎1. Penanganan Sampah Kota yang Belum Optimal Seluruhnya
‎
‎Persoalan sampah menjadi tantangan yang paling disorot. Pemerintah Kota Yogyakarta menjalankan gerakan pemilahan dari rumah melalui program Masyarakat Jogja Olah Sampah atau Mas JOS.
‎
‎Namun, persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan melalui kampanye. Sistem pengolahan, kapasitas fasilitas, dan keterlibatan masyarakat harus berjalan beriringan agar sampah tidak kembali menumpuk.
‎
‎Data Pemkot Yogyakarta pada November 2025 menunjukkan, kota ini menghasilkan sekitar 300 ton sampah setiap hari, sementara kemampuan pengolahan saat itu baru mencapai 190 ton.
‎
‎Wali Kota Hasto Wardoyo menegaskan, pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya. “Pengelolaan sampah dari hulu menjadi kunci pengurangan sampah di hilir,” demikian penekanannya dalam program percontohan pengolahan sampah berbasis warga.
‎
‎2. Penataan Kawasan Sungai (Kali Code, Winongo, dan Gajah Wong)
‎
‎Pekerjaan berikutnya menyangkut penataan kawasan Sungai Code, Winongo, dan Gajah Wong. Ketiga sungai tersebut membutuhkan upaya berkelanjutan agar kebersihan lingkungan terjaga.
‎
‎Penataan sungai tidak sekadar membersihkan sampah yang terlihat. Pemerintah juga perlu mendorong perubahan kebiasaan warga, memperkuat pengawasan, dan memastikan kawasan bantaran tetap terawat.
‎
‎Hasto sebelumnya menekankan pentingnya menghubungkan kebersihan lingkungan dengan kualitas kehidupan masyarakat.
‎
“Merawat lingkungan sama maknanya dengan merawat kehidupan,” ujarnya dalam pemberitaan ANTARA pada Februari 2026.

3. Pembangunan Taman Pintar Kedua di Giwangan
‎
Di bidang pendidikan publik, rencana pembangunan Taman Pintar kedua di kawasan Giwangan menjadi agenda yang patut dipantau. Realisasinya membutuhkan kejelasan tahapan, pembiayaan, dan pelaksanaan pembangunan.
‎
‎Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan memperluas akses masyarakat terhadap ruang belajar yang menyenangkan. Namun, rencana itu perlu diterjemahkan menjadi langkah konkret agar manfaatnya bisa dirasakan warga.
‎
‎4. Revitalisasi Shopping Center Jogja
‎
‎Agenda lainnya adalah revitalisasi Shopping Center Jogja. Kawasan ini direncanakan dikembangkan menjadi ruang budaya yang mendukung aktivitas membaca, diskusi, serta pertemuan penulis dan budayawan.
‎
‎Gagasan tersebut membuka peluang untuk menghidupkan kembali fungsi kawasan sebagai ruang publik. Meski demikian, masyarakat masih perlu menunggu kepastian desain, jadwal pengerjaan, dan skema pelaksanaannya.
‎
‎5. Penyeragaman Fasad Bangunan di Kawasan Malioboro
‎
Penataan fasad bangunan di kawasan Malioboro juga masuk daftar pekerjaan yang perlu dituntaskan. Keselarasan tampak depan bangunan diharapkan memperkuat karakter budaya kawasan wisata tersebut.
‎
‎Penyusunan desain bersama Dinas Kebudayaan DIY menjadi salah satu tahapan yang disebut masih berjalan. Tantangannya ialah menyelaraskan identitas kawasan dengan kebutuhan usaha dan kondisi bangunan yang beragam.
‎
‎6. Realisasi Tambahan Danais Rp100 Juta per Kelurahan
‎
Selain penataan ruang, janji tambahan Dana Keistimewaan atau Danais Rp 100 juta per kelurahan turut menjadi perhatian. Hasto menyampaikan komitmen memperjuangkannya saat masa kampanye Pilkada 2024.
‎
‎“Kita bersama PDI Perjuangan sudah perjuangkan tambahan alokasi Danais per kelurahan minimal seratus juta mulai tahun 2025,” kata Hasto, dikutip ANTARA pada September 2024.
‎
‎Janji tersebut perlu dibaca secara cermat: komitmen memperjuangkan alokasi tidak otomatis berarti seluruh dana telah disetujui dan diterima setiap kelurahan sesuai target awal.
‎
‎Dalam pelaksanaannya, alokasi Danais berkaitan dengan kebijakan Pemerintah Daerah DIY, mekanisme anggaran, serta prioritas program. Karena itu, status realisasi harus diperiksa melalui dokumen resmi terbaru.
‎
‎Enam agenda tersebut menunjukkan beragam pekerjaan yang memerlukan kesinambungan kebijakan, dukungan anggaran, koordinasi lintas pemerintahan, dan partisipasi warga. Setiap program memiliki tahapan serta tantangan berbeda.
‎
‎Sisa masa jabatan hingga 2030 memberi ruang bagi pemerintah untuk memperjelas target, jadwal, indikator keberhasilan, dan capaian terukur. Keterbukaan informasi penting agar masyarakat dapat mengikuti perkembangannya.
‎
‎Bagi warga Yogyakarta, ukuran keberhasilan bukan hanya banyaknya program yang diumumkan. Perubahan nyata di lingkungan, ruang publik, fasilitas edukasi, dan pelayanan masyarakat menjadi hal yang dinantikan.
‎
‎Karena itu, evaluasi berkala terhadap janji politik Hasto-Wawan perlu berpijak pada data, dokumen anggaran, dan perkembangan lapangan. Publik berhak mengetahui mana yang selesai, berjalan, atau masih direncanakan.(waw)