‎Dua Gajah Bertarung, Istana Terancam, Rakyat Kembali Menanggung Dampak

Catatan kritis Hananto S, Aktivis 98, tinggal di Jogja

FAJARLAMPUNG.COM, Jogja – Terbongkarnya dugaan penyadapan memunculkan pertarungan politik antara kekuatan besar yang berpotensi menyeret Istana, sementara rakyat kembali menjadi penonton.
‎
‎Dalam opini Hananto S, aktivis 98, situasi tersebut menggambarkan dua kekuatan besar sedang berhadapan dan sulit menghindari konflik terbuka.
‎
‎”Meskipun nanti di pengadilan geng Oslo tidak terbukti sebagai dalang dan lolos dari hukuman, opini Istana tetap mengarah ke sana,” tulisnya.
‎
‎Menurut Hananto, arah opini tersebut tidak terlepas dari keterangan LSP dan sejumlah pihak yang memilih menjadi Justice Collaborator.
‎
‎”Hanya dengan bernyanyi dan menjadi JC, LSP dan kawan-kawan berpeluang lolos dari hukuman berat atau maksimal,” ungkapnya.
‎
‎Ia menilai, Istana juga mengetahui dugaan agenda besar di balik penyadapan yang kini menjadi perhatian dalam pertarungan politik nasional.
‎
‎Agenda tersebut, menurut Hananto, mencakup sejumlah kepentingan politik keluarga Jokowi dan PSI menjelang kontestasi politik mendatang.
‎
‎”Mulai Gibran menjadi Presiden, Kaesang menjadi Gubernur Jawa Tengah, hingga PSI meraih sepuluh persen suara parlemen pada 2029,” paparnya.
‎
‎Hananto juga menyinggung dugaan adanya kepentingan agar berbagai persoalan selama pemerintahan Presiden Joko Widodo tidak kembali diusut melalui jalur hukum.
‎
‎Pertarungan politik itu, lanjutnya, semakin menarik apabila sosok yang disebutnya sebagai Kancil di bawah pohon Beringin terbukti terlibat.
‎
‎”Jika itu terbukti, opsi paling realistis adalah RI 1 semakin mendekat kepada Mak Banteng,” tulis Hananto dalam analisisnya.
‎
‎Ia berharap kemungkinan perubahan kedekatan politik tersebut turut membawa perubahan kebijakan pemerintah yang selama ini menuai kritik masyarakat luas.
‎
‎Hananto secara khusus menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), hingga kebijakan perpajakan.
‎
‎”Rakyat berharap perubahan politik tidak sekadar menjadi kompromi elite, tetapi benar-benar menghadirkan kebijakan yang meringankan kehidupan masyarakat,” tegasnya.
‎
‎Namun, ia mengingatkan bahwa dalam waktu dekat masyarakat kemungkinan masih menjadi penonton sekaligus pihak yang menanggung dampak pertarungan.
‎
‎”Perkelahian para elite bukan soal membela kepentingan rakyat, tetapi soal membela dan mempertahankan kekuasaan masing-masing,” kritiknya.
‎
‎Pertanyaan berikutnya yang disoroti Hananto adalah kemungkinan perubahan posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di tengah dinamika politik tersebut.
‎
‎”Apakah Fufu Fafa lengser? Jika iya, siapa yang akan menggantikannya?” menjadi pertanyaan besar yang dilontarkan aktivis 98 tersebut.
‎
‎Hananto memprediksi kemungkinan Gibran lengser melalui proses politik di parlemen, meskipun prediksi tersebut belum menjadi kepastian ataupun keputusan resmi.
‎
‎Ia menyebut tiga nama yang menurut perkiraannya berpotensi menjadi pengganti, yakni Dasco, Puan Maharani, dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
‎
‎Menurut Hananto, kompromi tersebut berpotensi memberikan keuntungan kepada kelompok yang disebutnya sebagai geng Oslo, sementara masyarakat menengah bawah menghadapi tekanan.
‎
Ia mengingatkan, kekecewaan masyarakat terhadap kebijakan dan pertarungan elite dapat berkembang menjadi tuntutan perubahan politik yang semakin kuat.
‎
Hananto juga mengingatkan pemerintah agar tidak merespons kritik masyarakat secara represif, karena pendekatan kekerasan justru berisiko memperbesar ketegangan sosial.
‎
“Apakah situasi ini akan mengarah seperti 1965 atau 1998?” tulisnya, menutup opini dengan pertanyaan tentang masa depan demokrasi Indonesia.(waw)