Arsip Jadi Jendela Sejarah, Jogja Book Fair 2026 Ungkap Memori Keistimewaan

FAJARLAMPUNG.COM, Jogja – Yogyakarta kembali menggairahkan pasar buku melalui Jogja Book Fair 2026 yang tahun ini berkolaborasi dengan Pameran Arsip Keistimewaan DIY untuk pertama kalinya bersamaan.
‎
Agenda bertema “Membumikan Literasi, Merawat Memori” itu berlangsung di Grhatama Pustaka, Yogyakarta, pada 29 Agustus hingga 8 September 2026 mendatang bersama seluruh masyarakat.
‎
JBF mengusung tema “Jangka”, sedangkan Pameran Arsip Keistimewaan membawa tema “Jelajah Memori Keistimewaan Budaya di Jogja” untuk memperkuat pesan literasi publik tahun ini.
‎
Kepala DPAD DIY Syam Arjayanti mengatakan JBF 2026 merupakan penyelenggaraan keempat, sedangkan pameran arsip menjadi agenda perdana yang pertama kali digelar tahun ini.
‎
“Kalau kita bicara pameran arsip, ini baru sekali ini,” kata Syam saat menjelaskan kolaborasi dua agenda tersebut kepada para wartawan yang hadir, Senin (24/8/2026)
‎
Menurut Syam, penggabungan dilakukan karena jadwal berdekatan sekaligus menyambut Hari Keistimewaan DIY pada 31 Agustus dan Hari Literasi pada 8 September mendatang tersebut.
‎
“Pameran ini kami arahkan untuk mengenalkan memori budaya dari kabupaten dan kota di DIY,” ujar Syam.
‎
Kota Yogyakarta menampilkan Sekaten, Bantul mengangkat Goa Selarong, Labuhan, dan Nyadran, sementara Sleman menghadirkan sejarah irigasi serta seni masyarakat setempat di wilayah tersebut.
‎
Kulon Progo membawa mitologi Goa Kiskendo dan kehidupan warga, sedangkan Gunungkidul menampilkan sejarah geopark serta bentang alam yang khas bagi masyarakat setempat DIY.
‎
Arsip media cetak dan lembaga penyiaran turut dipamerkan karena media dinilai berperan penting merekam perjalanan sejarah serta kebudayaan Yogyakarta secara berkelanjutan sejarah budaya.
‎
“Harapan kami kegiatan ini tidak hanya sekadar menggelar agenda-agenda, tapi juga meningkatkan perekonomian bagi masyarakat,” ujar Syam saat acara berlangsung hari ini pula.
‎
Ketua IKAPI DIY Wawan Arif menyebut kolaborasi arsip menjadi pembeda JBF tahun ini sekaligus memperkuat identitas literasi khas Yogyakarta yang berkelanjutan Yogyakarta setempat.
‎
“Kami selalu mencari apa kira-kira potensi yang memang hanya bisa muncul di Jogja,” kata Wawan saat menjelaskan arah pengembangan festival buku Yogyakarta tersebut.
‎
Menurut Wawan, kitab-kitab kuno yang tersimpan di berbagai institusi dapat menjadi kekayaan literasi dan dikembangkan dalam penyelenggaraan JBF mendatang secara lebih serius kelak.
‎
“Dan satu saat Indonesia mungkin mempunyai satu event kebanggaan internasional dalam hal buku,” ujarnya optimistis mengenai masa depan JBF Yogyakarta tersebut nasional internasional.
‎
JBF 2026 diikuti sekitar 119 penerbit, namun jumlahnya masih dibatasi ruang, meski animo penerbit mengikuti pameran tetap tinggi hingga saat ini nasional kelak.
‎
Lebih dari 80 acara disiapkan, mulai talkshow, lomba, pertunjukan seni, komunitas, kuliner, donor darah, hingga pemeriksaan kesehatan gratis bagi seluruh pengunjung selama pameran.
‎
“Untuk talkshow kearsipan, kami mendatangkan empat kali talkshow tentang kearsipan,” kata Dewi Ambarwati terkait rangkaian pameran arsip tahun ini secara khusus di Jogja.
‎
Kegiatan berlangsung pukul 08.00–22.00 WIB, menargetkan 1.500 pengunjung harian dan transaksi buku sekitar Rp78 juta per hari, mendekati Rp850 juta keseluruhan selama pameran.(waw)