Apa Beda Fakultas Kedokteran PTKIN? Lahirkan Dokter Berbasis Keilmuan Islam
FAJARLAMPUNG.COM, Jakarta — Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong penguatan pengembangan fakultas kedokteran di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dengan menekankan integrasi keilmuan antara sains medis modern dan khazanah keislaman.
Hal ini disampaikan Menag Nasaruddin Umar saat menerima audiensi rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung di Kantor Kementerian Agama Pusat.
Menag menegaskan bahwa kehadiran fakultas kedokteran di PTKIN tidak boleh sekadar mengikuti pola pendidikan kedokteran konvensional. Menurutnya, PTKIN harus mampu menghadirkan diferensiasi melalui integrasi nilai-nilai keislaman ke dalam praktik dan teori kedokteran.
“Kita tidak hanya mencetak dokter secara teknis, tetapi juga dokter yang memiliki basis keilmuan Islam yang kuat,” tegasnya di Jakarta, pada Selasa (5/5/2026).
Menag juga menggarisbawahi pentingnya menghidupkan kembali warisan intelektual ilmuwan Muslim klasik sebagai rujukan dalam pengembangan keilmuan kedokteran. Ia menyinggung tokoh-tokoh seperti Ibnu Sina dan Ar-Razi yang telah meletakkan fondasi penting dalam sejarah ilmu kedokteran dunia. Menurutnya, khazanah tersebut perlu diaktualisasikan kembali dalam kurikulum sebagai bagian dari identitas akademik PTKIN.
“Tradisi keilmuan kita sangat kaya. Ibnu Sina, Ar-Razi, dan Al-Zahrawi. Hingga berbagai literatur pengobatan dalam tradisi Islam harus menjadi bagian dari referensi akademik yang hidup, bukan sekadar sejarah,” ujarnya.
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Sahiron, menambahkan bahwa pengembangan fakultas kedokteran di PTKIN diarahkan pada penguatan integrasi keilmuan. Salah satu langkah konkret yang tengah didorong adalah penetapan rujukan kitab klasik kedokteran Islam yang akan dipelajari secara sistematis oleh mahasiswa dan dosen, disesuaikan dengan spesialisasi masing-masing institusi.
“Setiap PTKIN nantinya dapat mengembangkan kekhasan keilmuan, termasuk menentukan rujukan literatur klasik yang relevan dengan bidang kedokteran yang dikembangkan. Ini menjadi pembeda sekaligus kekuatan akademik kita,” jelasnya.
Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Rosihon Anwar, dalam kesempatan yang sama melaporkan bahwa proses pengembangan fakultas kedokteran di kampusnya tengah berjalan, termasuk penjajakan kerja sama dengan rumah sakit daerah sebagai bagian dari pemenuhan syarat akademik. Ia optimistis kehadiran fakultas kedokteran akan semakin memperkuat posisi UIN Bandung sebagai kampus unggul.
Menurut Menag, kekuatan utama PTKIN terletak pada kemampuannya mengintegrasikan ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai keislaman. Karena itu, pengembangan kedokteran harus diarahkan untuk melahirkan dokter yang tidak hanya unggul secara akademik dan profesional, tetapi juga memiliki perspektif etik dan spiritual yang kuat. “Di sinilah letak pembeda kita, bagaimana ilmu kedokteran berkembang tanpa kehilangan akar nilai,” ujarnya.
Ia menambahkan, langkah ini dinilai sebagai bagian dari upaya jangka panjang dalam membangun tradisi keilmuan yang tidak hanya adaptif terhadap perkembangan zaman, tetapi juga berakar pada khazanah intelektual Islam.(lsi)
Sumber : Humas kemenag

