1.001 Pembatik Padati Malioboro, Yogyakarta Semarakkan Hari Batik

FAJARLAMPUNG.COM, Jogja – Sebanyak 1.001 pembatik bersiap memenuhi Jalan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer Jogja dalam Simfoni 1001 Pembatik, Sabtu (3/10/2026) mendatang sejak pagi nanti bersama.
‎
Kegiatan tersebut digelar untuk memperingati Hari Batik Nasional 2026 sekaligus memeriahkan HUT ke-270 Kota Jogja dengan semangat pelestarian budaya bersama bersama pelaku usaha lokal.
‎
Wakil Ketua Umum Kadin DIY Bidang Kominfodigi Y. Sri Susilo mengatakan kegiatan ini mengenalkan batik sekaligus menumbuhkan minat generasi muda terhadap pembatikan di Malioboro.
‎
Menurut Sri Susilo, Simfoni 1001 Pembatik tidak sekadar menghadirkan ribuan pembatik, tetapi membuka ruang edukasi mengenai proses dan nilai batik sepanjang agenda berlangsung nanti.
‎
Kegiatan tersebut diharapkan membuat masyarakat melihat langsung bahwa batik bukan sekadar kain bermotif, melainkan karya budaya melalui proses penuh ketelitian di ruang publik tersebut.
‎
“Kadin juga punya komitmen mendukung pengembangan UMKM di bidang batik dan mensosialisasikan batik di kalangan anak muda atau masyarakat yang lebih luas,” ujarnya tegas.
‎
Pernyataan itu disampaikan Sri Susilo saat konferensi pers, Selasa (29/9/2026), di D’Senopati Malioboro Grand Hotel, Yogyakarta, menjelang pelaksanaan acara menjelang agenda budaya tersebut ini.
‎
Menurutnya, pengenalan proses membatik menjadi penting karena generasi muda perlu memahami keterampilan, kesabaran, kreativitas, serta nilai budaya yang terkandung secara langsung kepada masyarakat luas.
‎
Regenerasi menjadi salah satu tantangan serius industri batik, terutama karena semakin sedikit anak muda yang bersedia meneruskan keterampilan membatik tradisional untuk menjaga keberlanjutan tradisi.
‎
“Ini memang tantangan saat ini, semakin langka anak muda yang bersedia untuk meneruskan atau menjadi pembatik,” kata Sri Susilo dalam menghadapi perubahan zaman terus.
‎
Tantangan tersebut terasa semakin kuat pada batik tulis yang membutuhkan ketelitian tinggi, waktu panjang, keterampilan khusus, serta kesabaran dalam pengerjaannya untuk menjaga keberlanjutan batik.
‎
Selain regenerasi, industri batik juga menghadapi persoalan harga karena batik tulis memerlukan proses panjang, keterampilan, dan bahan berkualitas dalam pembuatannya tetap bernilai di pasar.
‎
“Batik tulis harganya mahal karena bukan sekadar produk massal, tetapi ada unsur seni dan prosesnya. Bahan dasarnya juga berkualitas,” tuturnya menjadi bagian penting budaya.
‎
Menurut Sri Susilo, batik berbeda dengan kain bermotif batik hasil printing karena menggunakan malam melalui teknik tulis, cap, atau perpaduan sebagai warisan budaya Indonesia.
‎
Permintaan batik tulis sebenarnya masih tersedia, meski pasarnya relatif terbatas dibandingkan produk yang proses produksinya lebih cepat dan luas di tengah perkembangan industri kreatif.
‎
Sementara itu, perpaduan teknik tulis dan cap dinilai memiliki peluang pasar lebih luas karena motifnya dapat menyesuaikan selera konsumen sesuai kebutuhan pasar masa kini.
‎
Ketua Organizing Committee Indah Rahayu Murniati mengatakan Simfoni 1001 Pembatik dirancang agar masyarakat, terutama generasi muda, menyaksikan langsung proses pembuatan batik di Malioboro Sabtu.
‎
Kegiatan membatik serentak berlangsung sepanjang sekitar 500 meter, mulai dari Simpang Empat Batik Terang Bulan hingga kawasan Titik Nol Kilometer sejak pagi hingga siang.
‎
“Kalau jumlahnya 1.000 pembatik, daya promosinya untuk meneruskan batik lebih tinggi dibandingkan 100 pembatik,” jelas Indah dalam konferensi pers tersebut pada Sabtu mendatang ini.
‎
Indah berharap keterlibatan ribuan pembatik membuat batik semakin dikenal dan mampu menarik perhatian anak muda yang selama ini kurang tertarik memperluas promosi batik nasional.
‎
“Harapannya, batik semakin dikenal terutama di kalangan anak muda,” kata Indah, menegaskan tujuan utama kegiatan tersebut bagi regenerasi pembatik untuk mendorong minat generasi muda.
‎
Tak hanya pembatik, wisatawan dan masyarakat juga dapat berinteraksi langsung dengan proses membatik melalui perlengkapan yang disediakan panitia selama acara berlangsung bagi pengunjung langsung.
‎
Kesempatan mencoba membatik diharapkan membuat pengunjung memahami bahwa setiap motif membutuhkan proses, ketelitian, keterampilan, dan kreativitas sebelum menjadi karya bernilai sekaligus menghargai kerja pembatik.
‎
Indah mengatakan Simfoni 1001 Pembatik juga menjadi bagian dari agenda pariwisata Kota Jogja melalui konsep event tourism yang melibatkan masyarakat yang hadir selama kegiatan.
‎
Kehadiran ribuan pembatik di Malioboro diharapkan menarik wisatawan sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi melalui booth UMKM dan rangkaian kegiatan pendukung dan pelaku UMKM setempat juga.
‎
“Dampak langsungnya lebih ke event tourism. Ada beberapa booth UMKM yang bisa dibeli masyarakat. Event seperti apa pun akan mampu menggerakkan ekonomi,” katanya kini.(ady)