UWM Yogyakarta Dorong Pemuda Wujudkan Ide Kreatif Lewat Business Model Canvas

FAJARLAMPUNG.COM, BANTUL – Generasi muda didorong berani menciptakan peluang usaha melalui pelatihan Business Model Canvas yang digelar Prodi Kewirausahaan UWM Yogyakarta secara langsung bersama pemuda.
‎
Pelatihan bertema Muda Berkarya, Bisnis Terencana: Wujudkan Ide Kreatif dalam Satu Lembar Business Model Canvas berlangsung di Gesikan, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, penuh antusias.
‎
Kegiatan tersebut diikuti 11 anggota organisasi pemuda setempat yang mendapatkan materi kewirausahaan sekaligus praktik menyusun rancangan bisnis secara sederhana dan terarah bersama narasumber.
‎
Ketua Prodi Kewirausahaan UWM, Utami Tunjung Sari, S.E., M.Sc., menjadi narasumber utama dalam pelatihan yang menekankan pentingnya keberanian berwirausaha sejak dini bagi pemuda.
‎
Utami mengatakan masa muda merupakan waktu ideal untuk melatih keterampilan kewirausahaan sebagai bekal membangun kemandirian ekonomi sekaligus membuka peluang pekerjaan baru bagi masyarakat.
‎
“Pemuda perlu membangun entrepreneurial mindset agar kreatif, inovatif, dan berani mengambil risiko,” ujar Utami saat menyampaikan materi kepada peserta pelatihan di Bantul secara langsung.
‎
Menurutnya, perubahan pola pikir tersebut penting karena tantangan pasar kerja semakin kompetitif, sementara kesempatan kerja formal tidak selalu mampu menampung semua generasi muda saat ini.
‎
Karena itu, pemuda tidak cukup hanya menjadi job seeker, tetapi perlu berani berkembang sebagai job creator melalui usaha inovatif dan berkelanjutan sejak muda secara mandiri.
‎
Peserta kemudian diperkenalkan dengan Business Model Canvas atau BMC sebagai alat visual untuk merancang, menggambarkan, menganalisis, serta mengembangkan model bisnis secara sistematis dan terukur.
‎
“Sederhananya, BMC adalah peta yang menggambarkan bagaimana sebuah bisnis bekerja,” jelas Utami, menjelaskan manfaat alat tersebut bagi calon wirausaha muda secara praktis sehari-hari.
‎
BMC membantu peserta melihat hubungan antara kebutuhan pelanggan, solusi bisnis, aktivitas usaha, sumber daya, mitra, biaya, hingga potensi pendapatan secara menyeluruh dan terukur untuk pengembangan.
‎
Utami menjelaskan terdapat tiga alur utama bisnis, yakni create value, deliver value, dan capture value yang perlu dipahami calon pengusaha sejak awal secara praktis.
‎
Create value berkaitan dengan penciptaan manfaat, deliver value menyangkut penyampaian produk atau jasa, sedangkan capture value berhubungan dengan pendapatan bisnis secara berkelanjutan bagi peserta.
‎
Dalam pelatihan tersebut, Utami menggunakan studi kasus GreenBite, bisnis makanan sehat, untuk membantu peserta memahami hubungan masalah pelanggan dengan solusi bisnis tepat sasaran secara sederhana.
‎
Peserta diajak mengidentifikasi kebutuhan pelanggan GreenBite kemudian menyusun solusi yang tepat sasaran melalui elemen-elemen Business Model Canvas secara bertahap dan praktis bersama kelompok peserta.
‎
Materi berikutnya membahas customer segments, value propositions, channels, customer relationships, revenue streams, key resources, key activities, key partnerships, hingga cost structure secara mendalam bagi peserta.
‎
Melalui latihan tersebut, peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga belajar menerjemahkan gagasan kreatif menjadi rancangan bisnis yang lebih konkret dan realistis untuk diterapkan langsung.
‎
Utami berharap pelatihan dan pendampingan dapat mendorong pemuda Gesikan mulai merintis usaha dengan perencanaan matang serta keberanian menghadapi risiko bisnis secara berkelanjutan di lapangan.
‎
“Kami berharap pemuda dapat membangun kemandirian ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada lapangan kerja formal,” kata Utami kepada peserta pelatihan secara langsung.
‎
Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal lahirnya wirausaha muda Gesikan yang inovatif, adaptif, terencana, dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru di masa depan. (waw)