UWM Teguhkan Jati Diri Budaya Lewat Ziarah ke Makam Sultan HB IX

‎FAJARLAMPUNG.COM, ‎Bantul – UWM Yogyakarta menziarahi makam Sri Sultan Hamengku Buwono IX di Imogiri, Bantul, Rabu (23/9), sebagai bagian Dies Natalis ke-44. tahun ini terus berlangsung
‎
Ziarah diikuti Rektor Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, pimpinan fakultas, ketua program studi, dosen, serta mahasiswa baru UWM Yogyakarta.
‎
Kegiatan tersebut menjadi momentum mengenang jasa Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai pendiri sekaligus meneguhkan kembali jati diri UWM.
‎
UWM didirikan pada 7 Oktober 1982 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX bersama KGPH Mangkubumi, kini Sri Sultan Hamengku Buwono X.
‎
Rektor UWM Prof. Edy mengatakan ziarah merupakan agenda rutin universitas untuk mengenang peran pendiri dalam perjalanan kampus hingga kini.
‎
‎“Ini kegiatan kita yang rutin, ziarah kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX,” ujar Prof. Edy sebelum prosesi dimulai.
‎
Menurutnya, ziarah tahun ini terasa berbeda karena selama kepemimpinannya, kegiatan tersebut untuk pertama kalinya dilaksanakan langsung di Kompleks Makam Raja-Raja Imogiri
‎
“Kita mengunjungi makam beliau untuk mengenang peran-peran beliau sehingga berdiri Universitas Widya Mataram sampai usia 44 tahun,” katanya.
‎
Prof. Edy menilai ziarah bukan sekadar mengenang tokoh, tetapi menjadi ruang refleksi bagi seluruh sivitas akademika UWM Yogyakarta.
‎
“Dalam filosofi Widya Mataram, filosofi Kesultanan Jogja, dan juga pemerintah Jogja, ada sangkan paraning dumadi,” tutur Prof. Edy.
‎
Menurut Prof. Edy, filosofi tersebut mengingatkan manusia tentang asal-usul, tujuan kehidupan, serta amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Sang Pencipta.
‎
“Kita mengingat asal-usul dan tujuan kita sampai yaumil akhir nanti,” katanya, menegaskan makna reflektif dalam pelaksanaan ziarah tersebut.
‎
Rektor juga mengingatkan sivitas akademika bahwa setiap orang memiliki amanah sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing dalam kehidupan kampus.
‎
“Pesan-pesan itu harus kita pahami, terutama adik-adik mahasiswa baru. Apalagi dosen dan pendidik, kita harus memahami filosofi itu,” kata Prof. Edy.
‎
Menurutnya, nilai sangkan paraning dumadi, hamemayu hayuning bawana, serta greget, sengguh, ora mingkuh perlu terus dihidupkan dalam pendidikan.
‎
Nilai tersebut menjadi bagian penting karakter UWM sebagai kampus berbasis budaya, sekaligus pedoman membentuk intelektual berkarakter dan bertanggung jawab.
‎
Prof. Edy menegaskan UWM tidak sekadar menambah jumlah perguruan tinggi, tetapi menghadirkan pendidikan berkualitas yang berakar pada budaya Yogyakarta.
‎
‎“Kalau kita melaksanakan pesan-pesan itu, insyaallah Widya Mataram ini bisa mewujudkan cita-cita Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono IX,” ujarnya.
‎
‎Prosesi ziarah kemudian dilanjutkan doa bersama sesuai tata cara dan ketentuan yang berlaku di Kompleks Makam Raja-Raja Mataram, Imogiri.
‎
‎Rangkaian Dies Natalis ke-44 mengusung tema “Transformasi Berkelanjutan Mewujudkan UWM Unggul dan Berkarakter,” sekaligus meneguhkan komitmen pendidikan berbasis budaya.(waw)