Ulama NU KH Asyhari Abdullah Tamrin Berpulang, Tinggalkan Jejak Dakwah

FAJARLAMPUNG.COM, ‎JOGJA – Kabar duka menyelimuti keluarga besar Nahdlatul Ulama setelah KH Asyhari Abdullah Tamrin wafat pada Kamis pagi, 24 September 2026.
‎
Innalillahi wainna ilayhi raji’un, kabar wafatnya ulama tersebut meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, santri, jamaah, dan warga Nahdliyin.
‎
KH Asyhari Abdullah Tamrin dikenal sebagai dai, pengasuh pesantren, pendidik, sekaligus pejuang Nahdlatul Ulama yang aktif berdakwah hingga akhir hayat.
‎
Semasa menjadi guru di Krapyak, beliau berkeliling pelosok desa untuk menyampaikan dakwah dan menghidupkan berbagai majelis pengajian masyarakat.
‎
Beliau juga pernah memimpin Korps Dakwah Mahasiswa atau Kodama di wilayah Kabupaten Bantul dengan berbagai kegiatan dakwah kemasyarakatan.
‎
Tidak hanya di Bantul, KH Asyhari juga memiliki rutinan pengajian di Muntilan, Magelang, yang berlangsung selama bertahun-tahun.
‎
Dalam perjalanan dakwahnya, beliau menjadi badal almarhum KH Mufid Mas’ud ketika berhalangan menghadiri berbagai kegiatan pengajian masyarakat.
‎
Beliau juga mendampingi almarhum KH Atabik Ali mengasuh pengajian Jumat Legi di Krapyak, warisan perjuangan almarhum KH Ali Maksum.
‎
Ceramah KH Asyhari dikenal renyah dan ringan, tetapi tetap memiliki bobot dengan materi akhlak serta ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah.
‎
Dalam berbagai kesempatan, beliau kerap mengutip pangendikan serta pelajaran almarhum KH Ali Maksum untuk disampaikan kepada jamaah.
‎
Selain berdakwah, KH Asyhari juga dikenal sebagai pendidik yang mengajarkan Ilmu Nahwu, Ushul Fiqh, serta berbagai kitab akhlak.
‎
Beliau bertahun-tahun menjadi Wakil Kepala Madrasah Aliyah Krapyak ketika almarhum ayah narasumber menjadi Kepala Madrasah Aliyah Krapyak.
‎
Setelah itu, KH Asyhari dipercaya menggantikan KH Atabik Ali sebagai Kepala Madrasah Aliyah Krapyak dalam melanjutkan perjuangan pendidikan.
‎
Ketika menjabat kepala madrasah, beliau meminta narasumber mendampinginya sebagai Wakil Kepala Madrasah dalam menjalankan tugas pendidikan tersebut.
‎
Di lingkungan NU, perjuangan KH Asyhari juga berlangsung panjang, termasuk sebagai Rois Syuriah PCNU Bantul selama dua periode.
‎
Beliau kemudian dipercaya menjadi Rois Syuriah PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta selama dua periode dalam perjalanan pengabdiannya.
‎
Sepulang dari Sudan, beliau langsung mengajak narasumber masuk jajaran Syuriah PCNU Bantul sebagai bagian dari kaderisasi organisasi.
‎
Setelah menyelesaikan pendidikan di Malaysia, beliau kembali meminta narasumber bergabung dalam jajaran Syuriah PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta.
‎
Setelah tidak lagi menjadi Kepala Madrasah Aliyah Krapyak, KH Asyhari lebih banyak tinggal mengembangkan pesantren rintisannya di Tegalsari.
‎
Pesantren Tegalsari berada di Wedomartani, Ngemplak, Sleman, tempat beliau mengasuh mahasiswa dan membuka pengajian bagi masyarakat setempat.
‎
Meski kondisi kesehatannya mengharuskan cuci darah bertahun-tahun, KH Asyhari tetap memiliki jam mengajar di Madrasah Aliyah Krapyak.
‎
Hal tersebut menjadi salah satu bukti kecintaan beliau terhadap Krapyak, hingga tetap mengabdi di sana menjelang akhir hayatnya.
‎
Semoga Allah Ta’ala melimpahkan kasih sayang, mengampuni segala kekhilafan, serta memberikan balasan terbaik atas seluruh khidmah dan perjuangan beliau.(waw)