Tanggapi Protes Warga, Pemda DIY Minta Kepolisian Perbaiki Koordinasi Terkait Pengamanan Kawat Berduri
FAJARLAMPUNG.COM, Jogja – Pemasangan kawat berduri di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta memicu polemik setelah Pemda DIY menyoroti lemahnya koordinasi pengamanan kepolisian setempat.
Langkah pengamanan tersebut menuai perhatian karena Titik Nol Kilometer merupakan kawasan strategis yang menjadi pusat aktivitas masyarakat, wisatawan, dan berbagai kegiatan publik.
Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, mengapresiasi langkah kepolisian menjaga keamanan wilayah, tetapi mengingatkan pentingnya komunikasi antar lembaga sebelum pelaksanaan kegiatan.
Ia menyayangkan pemasangan kawat berduri tersebut belum didahului koordinasi maupun pemberitahuan resmi kepada pemerintah daerah sebagai pengelola kawasan.
Menurut Ni Made, informasi mengenai pemasangan kawat berduri itu diduga berkaitan dengan kegiatan simulasi pengamanan yang dilakukan pihak kepolisian.
Namun, ia menegaskan setiap kegiatan pengamanan seharusnya mempertimbangkan kondisi lingkungan, karakter kawasan, serta kenyamanan masyarakat yang beraktivitas.
”Ke depan, hal-hal seperti ini kita kuatkan koordinasinya,” tegas Ni Made saat ditemui, Selasa (3/11/2026).
Titik Nol Kilometer bukan sekadar persimpangan jalan, melainkan ruang publik yang memiliki nilai sejarah, budaya, sekaligus identitas Yogyakarta.
Kawasan tersebut juga menjadi bagian penting Sumbu Filosofi Yogyakarta yang terhubung langsung dengan Malioboro dan berbagai destinasi wisata lainnya.
Karena itu, menurut Ni Made, kebijakan pengamanan tidak semestinya hanya berorientasi pada aspek keamanan, tetapi juga memperhatikan kepentingan masyarakat.
”Pengamanan tentu penting, tetapi koordinasi dengan pemerintah daerah juga harus diperhatikan,” menjadi pesan penting dari polemik tersebut.
Pemda DIY berharap kepolisian semakin mengedepankan komunikasi sebelum mengambil langkah pengamanan yang berdampak langsung terhadap ruang publik.
Koordinasi dinilai penting agar setiap kebijakan pengamanan tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun kegelisahan di tengah masyarakat.
Terlebih, Titik Nol Kilometer merupakan kawasan yang setiap hari dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara untuk menikmati suasana Yogyakarta.
Pemasangan atribut pengamanan yang mencolok perlu mempertimbangkan estetika kawasan, sehingga tidak mengganggu citra pariwisata dan kenyamanan pengunjung.
Ni Made menekankan pendekatan humanis harus menjadi bagian penting dalam setiap kegiatan pengamanan, terutama di kawasan bersejarah.
”Jangan sampai upaya menjaga keamanan justru memunculkan persepsi pengamanan berlebihan,” demikian perhatian yang disampaikan pemerintah daerah.
Pemda DIY menginginkan kepolisian dan pemerintah daerah membangun komunikasi lebih intensif agar setiap kegiatan berjalan tertib, terukur, dan saling mendukung.
Dengan koordinasi yang kuat, keamanan kawasan Titik Nol Kilometer diharapkan tetap terjaga tanpa mengorbankan kenyamanan masyarakat maupun citra pariwisata Yogyakarta.(waw)

