Tagih Komitmen Penanganan Korban, Aliansi Jogja Memanggil Minta Hasto Penuhi Tuntutan Warga

FAJARLAMPUNG.COM, Yogyakarta – Aliansi Jogja Memanggil menagih janji Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menanggung biaya pengobatan peserta aksi demonstrasi yang terluka.

Janji tersebut dipertanyakan karena hingga Selasa (3/11/2026), sejumlah korban masih membayar sendiri biaya perawatan rumah sakit.

Peristiwa kekerasan itu terjadi saat demonstrasi di kawasan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Rabu (28/10/2026).

Perwakilan Aliansi Jogja Memanggil, Uli, mengatakan pihaknya masih menerima pengaduan korban yang menggunakan uang pribadi membiayai pengobatan.

“Bahkan, ada korban yang belum diizinkan meninggalkan rumah sakit karena masih memiliki tagihan perawatan,” ungkap Uli.

“Kami ingin menagih komitmen Wali Kota Jogja atas pernyataannya bahwa seluruh biaya pengobatan massa aksi ditanggung,” tegasnya.

Menurut Uli, pemerintah kota harus segera memberikan kepastian pembiayaan karena kondisi korban mengalami tingkat luka berbeda-beda.

Sebagian mengalami memar, sementara lainnya menderita luka berat yang membutuhkan penanganan medis serta perawatan intensif.

Tim Advokasi Catat 32 Korban Luka

Perwakilan Bara Adil, Royyan Juliazka, mengungkapkan tim advokasi telah menerima pengaduan 32 korban kekerasan dalam demonstrasi tersebut.

“Data sementara kami mencatat delapan korban luka berat dan 24 korban luka ringan,” kata Royyan.

Jenis luka yang dilaporkan meliputi luka sobek, kepala bocor, patah tulang, hingga lebam pada sejumlah bagian tubuh.

Namun, jumlah tersebut belum menggambarkan keseluruhan korban karena tim advokasi masih mengumpulkan laporan tambahan dari peserta aksi.

Royyan menyebut dugaan kekerasan terhadap demonstran tidak hanya terjadi pada 28 Oktober, tetapi diduga berlangsung sejak aksi sebelumnya.

“Berdasarkan dokumentasi yang kami himpun, praktik serupa sudah terlihat sejak peringatan Hari Buruh pada 1 Mei 2026,” ujarnya.

Ia juga menyoroti dugaan mobilisasi kelompok sipil tidak dikenal yang disebut berada di sekitar barisan aparat kepolisian.

“Ada mobilisasi kekuatan sipil untuk melakukan kekerasan terhadap massa demonstran,” ungkap Royyan saat memaparkan dokumentasi.

“Dalam sejumlah dokumentasi, mereka terlihat membawa pedang, besi, serta benda lainnya,” lanjutnya.

Aliansi Soroti Penangkapan 34 Orang

Selain korban luka, Aliansi Jogja Memanggil menyoroti penangkapan 34 orang oleh kepolisian dalam rangkaian peristiwa demonstrasi tersebut.

Uli menyebut sebagian orang yang ditangkap bahkan tidak mengikuti demonstrasi, meskipun seluruhnya kini telah dibebaskan.

Aliansi mengaku sempat kesulitan memperoleh akses pendampingan terhadap peserta aksi yang ditahan di Polda DIY.

“Ketika kami mendatangi Polda DIY, kami menemukan sejumlah orang mengalami luka pada wajah, kaki, dan badan,” kata Uli.

Ia turut mengungkap dugaan kekerasan selama pemeriksaan, termasuk terhadap seseorang yang menurut pengakuannya tidak mengikuti demonstrasi.

Korban tersebut mengaku sedang mengendarai sepeda motor ketika pakaiannya ditarik seseorang hingga terjatuh sebelum mengalami pemukulan.

“Dia dipaksa mengakui ikut aksi. Bahkan, saat pemeriksaan masih mengalami kekerasan, seperti ditampar dan dipukul,” ujar Uli.

Desak Polisi Evaluasi Pengamanan Demonstrasi

Aliansi juga mempertanyakan pelaksanaan tes urine terhadap orang-orang yang ditangkap karena dinilai tidak sesuai prosedur penanganan demonstran.

Bersama Bara Adil, mereka mendesak kepolisian menghentikan dugaan kriminalisasi serta mengevaluasi pola pengamanan demonstrasi agar kejadian serupa tidak terulang.

Mereka juga meminta dugaan keterlibatan kelompok sipil dalam kekerasan terhadap demonstran diusut secara transparan dan menyeluruh.

Di sisi lain, Aliansi Jogja Memanggil kembali meminta Hasto Wardoyo merealisasikan janji pembiayaan pengobatan seluruh korban.

Mereka menegaskan korban tidak seharusnya terus menanggung tagihan rumah sakit secara pribadi akibat peristiwa kekerasan tersebut.(waw)