Sambal Beser Gunungkidul Jadi Buruan, Sajian Tradisional dengan Cita Rasa Pedas Khas

FAJARLAMPUNG.COM, GUNUNGKIDUL – Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), memiliki beragam kuliner tradisional yang masih bertahan hingga kini. Salah satunya adalah sambal beser, sajian khas yang memadukan sambal tradisional dengan serangga beser atau sejenis kepik, sehingga menghadirkan cita rasa dan aroma yang khas.

Bagi masyarakat di sejumlah wilayah pedesaan Gunungkidul, sambal beser bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari tradisi kuliner yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Beser merupakan serangga yang banyak ditemukan di area persawahan, kebun, maupun hutan, terutama saat musim hujan. Warga kemudian memanfaatkannya sebagai campuran sambal bawang yang dibuat dari cabai rawit, bawang merah, bawang putih, dan terasi yang diulek menggunakan cobek.

Keunikan sambal ini terletak pada penggunaan beser yang dicampurkan dalam keadaan hidup sesaat sebelum diulek bersama bumbu. Cara pengolahan tersebut menghasilkan aroma yang cukup tajam dan menjadi ciri khas kuliner ini.

“Kami biasanya hanya menambahkan empat sampai lima ekor saja karena aromanya sudah cukup kuat dan justru membuat sambalnya lebih nikmat,” ujar salah seorang warga.

Warga setempat meyakini aroma khas beser memberikan sensasi rasa yang berbeda dibandingkan sambal pada umumnya. Selain pedas, sambal ini juga disebut memiliki cita rasa yang lebih segar.

Mbah Wainah, warga Padukuhan Gendis, Kalurahan Botodayaan, Kapanewon Rongkop, mengatakan beser hanya mudah ditemukan saat musim hujan sehingga keberadaannya cukup dinantikan masyarakat.

“Hewan ini hanya muncul setahun sekali saat musim penghujan. Karena itu kami memanfaatkannya sebagai campuran sambal yang sudah menjadi tradisi keluarga,” kata Mbah Wainah.

Menurut dia, sambal beser paling nikmat disantap bersama sayur waluh hangat. Hidangan tersebut telah menjadi menu sehari-hari masyarakat setempat sejak dahulu.

“Kalau dimakan bersama sayur waluh rasanya semakin enak. Dari dulu makanan seperti ini sudah menjadi favorit keluarga kami,” ujarnya.

Selain dikonsumsi sendiri, beser juga diperjualbelikan di sejumlah pasar tradisional di Gunungkidul. Harganya relatif terjangkau, yakni sekitar Rp1.000 hingga Rp2.000 per 10 ekor, tergantung ketersediaan saat musim penghujan.

Masyarakat setempat juga kerap menyantap sambal beser bersama nasi tiwul, ikan asin, dan aneka lalapan. Kombinasi tersebut dinilai semakin memperkuat cita rasa khas kuliner tradisional Gunungkidul.

Di tengah berkembangnya berbagai kuliner modern, sambal beser tetap bertahan sebagai salah satu warisan gastronomi khas Gunungkidul. Keunikan bahan bakunya menjadikan kuliner ini tidak hanya diminati masyarakat lokal, tetapi juga menarik perhatian wisatawan yang ingin mencoba pengalaman kuliner tradisional yang berbeda.(ady)