Ribuan Pembatik Ramaikan Malioboro, Peserta Kalimantan Rasakan Pengalaman Berbeda

FAJARLAMPUNG.COM, ‎Jogja – Ribuan pembatik memadati kawasan Malioboro, Yogyakarta, Sabtu pagi, menghadirkan Simfoni 1001 Pembatik 2026 dalam suasana budaya yang meriah dan penuh antusiasme masyarakat.
‎
‎Kegiatan tersebut memperingati Hari Batik Nasional 2026 sekaligus menyambut HUT ke-270 Kota Yogyakarta, dengan membatik kolosal dari Simpang Empat Terang Bulan hingga Titik Nol.
‎
‎Pesertanya berasal dari berbagai kalangan, mulai pembatik profesional, ASN, TNI, Polri, pelajar, UMKM, komunitas batik, hingga masyarakat pecinta budaya dari berbagai daerah.
‎
‎Kawasan Malioboro yang biasanya dipenuhi wisatawan dan aktivitas perdagangan berubah menjadi ruang budaya terbuka, memperlihatkan langsung proses membatik kepada masyarakat dan wisatawan.
‎Kadin DIY menempatkan Simfoni 1001
‎
‎Pembatik sebagai ruang pertemuan budaya, edukasi, pariwisata, ekonomi kreatif, sekaligus pemberdayaan masyarakat melalui kolaborasi lintas kelompok dan daerah.
‎
‎Gunarta Adibrata, Wakil Ketua Umum Koordinator 2 Kadin DIY sekaligus Ketua Dewan Pengarah Simfoni 1001 Batik, menegaskan pentingnya keberlanjutan budaya tersebut.
‎
‎“Batik merupakan warisan adiluhung bangsa yang mengandung nilai filosofi, identitas, dan kearifan budaya yang telah diwariskan lintas generasi,” ujar Gunarta.
‎
‎Gunarta berharap Simfoni 1001 Pembatik terus dikembangkan hingga menjadi agenda budaya dan pariwisata tahunan yang memperkuat posisi Yogyakarta sebagai destinasi budaya Indonesia.
‎
‎Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri, Emmy Suryandari, turut mengapresiasi kegiatan tersebut dan menekankan makna angka 1001 bukan sekadar jumlah peserta.
‎
‎“Batik bukan sekadar kain, bukan sekadar selembar kain, tapi filosofi yang ada di dalamnya,” kata Emmy dalam sambutannya di kawasan Malioboro.
‎
‎Emmy juga menyoroti kehadiran generasi muda karena keberlanjutan batik membutuhkan pemahaman terhadap proses, filosofi, sejarah, kreativitas, dan keterampilan yang diwariskan para pembatik.
‎
‎Sementara Sri Sultan menekankan bahwa kekuatan batik justru berada dalam proses pembuatannya yang membutuhkan ketekunan, kesabaran, pengalaman, dan keterampilan tangan manusia.
‎
‎“Dalam proses membatik tradisional, setiap garis harus dilalui satu per satu. Setiap motif membutuhkan ketekunan,” ujar Sri Sultan kepada peserta.
‎
‎Kini, perhatian beralih kepada peserta dari Kalimantan Selatan yang datang mengikuti Simfoni 1001 Pembatik dan merasakan langsung pengalaman membatik untuk pertama kalinya.
‎
‎Diana Puspita, peserta asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mengaku langsung terkesan ketika mengikuti kegiatan membatik kolosal bersama ribuan peserta lainnya di Malioboro.
‎
‎“Pokoknya satu kata, wow. Ini pengalaman yang sangat menarik sekali bagi kami yang tidak pernah membatik,” ujar Diana penuh antusias.
‎
‎Menurut Diana, pengalaman tersebut terasa istimewa karena sebelumnya ia belum pernah mencoba membatik, sementara kegiatan itu mempertemukannya langsung dengan proses budaya Indonesia.
‎
‎“Ini pengalaman pertama kami membatik dan sesuatu banget, karena kami tahu filosofi di dalam batik itu sangat banyak,” kata Diana saat ditemui.
‎
‎Namun setelah mencoba sendiri, Diana menyadari membatik ternyata tidak mudah. Ia merasakan langsung bagaimana ketelitian diperlukan ketika membuat setiap bagian motif pada kain.
‎
‎“Ternyata susah banget membatik,” ujar Diana, menggambarkan pengalaman pertamanya ketika harus mengikuti proses membatik secara langsung bersama peserta lainnya.
‎
‎Diana bahkan membutuhkan sekitar satu setengah jam untuk menyelesaikan proses membatik yang menurutnya membutuhkan konsentrasi, kesabaran, serta ketelitian sejak awal hingga selesai.
‎
‎“Perlu kesabaran, perlu ketelitian, dan benar-benar kayaknya membatik harus dengan hati,” ungkap Diana setelah mengikuti kegiatan kolosal tersebut di kawasan Malioboro.
‎
‎Pengalaman itu membuat Diana menyampaikan pesan kepada masyarakat agar menghargai kerja pembatik, termasuk tidak sembarangan menawar harga ketika membeli kain batik.
‎
‎“Jangan terlalu menawar kalau beli batik beneran, karena kegiatannya sangat berat dan membutuhkan kesabaran,” kata Diana mengingatkan masyarakat dan calon pembeli.
‎
‎Bagi Diana, pengalaman membatik di Malioboro bukan sekadar aktivitas budaya, tetapi kesempatan memahami bahwa setiap karya lahir melalui proses panjang yang penuh ketelitian.
‎
‎Ia pun berharap dapat kembali mengikuti Simfoni 1001 Pembatik pada tahun mendatang (2027), bahkan menginginkan peserta dari seluruh Indonesia semakin banyak hadir bersama.
‎
‎“Untuk tahun ke depan pengen ngikutin lagi, pengen sekalian dari seluruh Indonesia kayaknya ada,” ujar Diana menutup wawancara dengan penuh semangat.(waw)