Refleksi Strategi Gerilya Jenderal Soedirman, Hasto Wardoyo Dorong Warga Jauhi Pragmatisme Wani Piro

‎FAJARLAMPUNG.COM, Jogja – Pemerintah Kota Yogyakarta menggencarkan pendidikan politik berbasis kemantren melalui program Cakrawala Politik yang digelar bersama Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat di Kotagede, Kamis malam kemarin.
‎
‎Kegiatan tersebut dirangkai dengan Kunjungan Malam Pos Kamling atau Kampas Kopling, sekaligus menjadi ruang dialog langsung antara pemerintah dan warga untuk memperkuat demokrasi.
‎
‎Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengatakan, politik sejatinya merupakan upaya mengatasi persoalan yang tampak mustahil diselesaikan melalui pola pikir biasa dan linier.
‎
‎”Politik itu mengatasi masalah yang sebetulnya tidak mungkin dapat diatasi. Politisi sering bisa mengatasi karena cara berpikirnya tidak linier,” ujar Hasto kepada warga.
‎
‎Ia menilai, pandangan negatif terhadap politik perlu diubah karena proses berpolitik seharusnya membentuk kedewasaan, keberanian mencari solusi, serta tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.
‎
‎”Politik itu seolah-olah kotor. Padahal berpolitik itu mendewasakan orang,” kata Hasto saat berdialog dengan warga di Gedongan, Purbayan, Kotagede, malam itu.
‎
‎Hasto kemudian mencontohkan Jenderal Soedirman sebagai negarawan yang menjaga kesucian niat, spiritualitas, dan kecermatan strategi ketika memimpin perjuangan gerilya menghadapi Belanda di Yogyakarta.
‎
‎Ia mengisahkan, Soedirman pernah mengumpulkan warga satu kampung di Pare, Kediri, ketika Belanda berupaya menangkapnya dalam situasi pengepungan yang sangat sulit saat itu.
‎
‎Seluruh warga mengenakan blangkon dan surjan, pakaian yang juga biasa dipakai Soedirman, sehingga pasukan Belanda kesulitan mengenali sosok sang jenderal di tengah kerumunan.
‎
‎Menurut Hasto, strategi tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan membutuhkan cara berpikir di luar dugaan, tetapi tetap harus disertai keyakinan dan tawakal kepada Tuhan.
‎
‎”Satu hal harus dilengkapi dengan bertawakal. Dalam keadaan berperang, Soedirman selalu menjaga kesucian karena Tuhan berpihak kepada yang suci,” ucapnya dalam kesempatan tersebut.
‎
‎Pesan itu, lanjut Hasto, relevan diterapkan masyarakat ketika menghadapi pemilihan kepala daerah maupun pemilihan legislatif agar kompetisi politik tetap berjalan secara bermartabat dan damai.
‎
‎”Saat pilkada dan pileg, warga seperti berperang harus menjaga kesucian. Jangan berpolitik uang, jangan politik wani piro,” tegas Hasto di hadapan warga.
‎
‎Ia mengingatkan praktik politik uang dapat merusak demokrasi dan membuat masyarakat bergantung pada transaksi, bukan gagasan, integritas, maupun kualitas calon pemimpin yang dipilih.
‎
‎Kepala Badan Kesbangpol Kota Yogyakarta Nindyo Dewanto menyebut Cakrawala Politik sebagai pemanasan edukasi menjelang tahapan pemilu yang diperkirakan berlangsung pada 2027 mendatang nanti.
‎
‎Nindyo menyampaikan, indeks demokrasi Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai 89,79 dan menjadi yang tertinggi secara nasional, tetapi capaian tersebut perlu dijaga bersama seluruh elemen.
‎
‎Menurut dia, capaian tersebut bergantung pada kualitas demokrasi di kabupaten, kota, kemantren, hingga kampung, sehingga warga perlu mendapat ruang pendidikan politik berkelanjutan.
‎
‎”Cakrawala Politik menjadi ruang edukasi demokrasi, sedangkan Kampas Kopling menghidupkan semangat ronda untuk menjaga keamanan lingkungan,” jelas Nindyo dalam kegiatan tersebut kepada wartawan.
‎
‎Ketua DPRD Kota Yogyakarta FX Wisnu Sabdono Putro menegaskan pendidikan politik juga harus menumbuhkan nasionalisme, kepedulian wilayah, serta semangat gotong royong masyarakat setempat.
‎
‎Wisnu menilai, nasionalisme dapat dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk kecintaan terhadap kampung halaman, kemantren, dan Kota Yogyakarta sebagai bagian identitas kebangsaan.
‎
‎”Ini sederhana. Sebelum bicara nasionalisme Indonesia, bicara tentang Yogyakarta. Sebelumnya bicara tentang Kotagede, Purbayan dan Gedongan,” ungkap Wisnu.
‎
‎Ia mengajak masyarakat membuktikan kecintaan terhadap daerah melalui kepedulian lingkungan, gotong royong, serta kebersamaan menghadapi berbagai tantangan di tengah derasnya arus digitalisasi.
‎
“Piye carane kalian mencintai wilayah kalian dengan cukup sederhana. Itulah nasionalisme yang diajarkan sebenarnya,” tandas Wisnu menutup pesannya kepada masyarakat.(waw)