Puisi Ubai Dillah Menyusuri Kota, Ingatan, dan Fragmen Kehidupan Manusia

‎FAJARLAMPUNG.COM, ‎JOGJA – Festival Sastra Yogyakarta 2026 mengangkat pengalaman manusia memaknai kota melalui bedah buku Sebuah Kota, Sebuah Umpama karya penyair Ubai Dillah Al Anshori lokal.
‎
Bedah buku berlangsung di Panggung Pasar Sastra, Taman Budaya Embung Giwangan, Minggu (23/8/2026) sore, diikuti puluhan pengunjung yang antusias menyimak diskusi hingga selesai bersama.
‎
Diskusi menghadirkan Ubai Dillah Al Anshori bersama penyair Raudal Tanjung Banua, dengan Polancho S. Achri sebagai moderator yang mengarahkan pembahasan secara menarik mendalam.
‎
Raudal membedah cara Ubai menghadirkan kota, ruang, waktu, ingatan, dan pengalaman manusia melalui bahasa puitis yang tidak sekadar menggambarkan lokasi geografis secara harfiah.
‎
Menurut pembahasan, kota dalam buku tersebut menjadi “ruang pengalaman”, perjumpaan, dan ingatan manusia yang terus berubah sesuai tafsir setiap pembacanya masing-masing di sana.
‎
Ubai menggunakan bahasa impresionis dan metafora tertata untuk menghadirkan suasana kota, sehingga pembaca diajak merasakan kesan tanpa harus melihat peta sebenarnya secara langsung.
‎
Polancho kemudian bertanya bagaimana pembaca menikmati puisi tentang kota tertentu meski belum pernah datang langsung ke tempat yang diceritakan dalam puisi tersebut itu.
‎
Raudal menjawab pengalaman tempat memang berpotensi kehilangan jejak jika pembaca minim referensi, tetapi pendekatan Ubai membuat persoalan geografis terasa lebih cair dan universal.
‎
Menurut Raudal, Ubai membawa pengalaman puitik dari berbagai tempat menuju pengalaman universal, sehingga pembaca tidak wajib mengenal kota untuk memahami pesan puisinya lebih.
‎
Raudal juga menyoroti posisi Ubai dalam puisinya, karena penyair tidak selalu menggunakan sudut pandang “aku” ketika menyampaikan kegelisahan dan pengalaman personalnya sendiri langsung.
‎
Jarak antara “aku”, “kau”, dan “ia” menjadi pilihan penting, membuat subjek puisi tidak sepenuhnya terikat pada identitas Ubai sebagai penyair semata saja.
‎
Pilihan tersebut membuka ruang bagi pembaca untuk melihat pengalaman melalui sudut pandang sendiri, sekaligus merasakan kegelisahan yang disimpan setiap puisi secara lebih dekat.
‎
Ubai mulai mengerjakan buku tersebut pada 2023, kemudian melakukan perjalanan dan riset mengenai sejumlah kota di Sumatra, termasuk Aceh, Bengkulu, dan Palembang kembali.
‎
Berbagai perjalanan itu menjadi proses kreatif untuk membaca ruang, bukan hanya melalui bangunan dan jalan, tetapi juga waktu, manusia, serta suasana yang menyertainya.
‎
Bagi Ubai, kota tidak berhenti sebagai tempat, melainkan menjadi pengalaman yang dapat diterjemahkan menjadi puisi melalui ingatan, perjalanan, dan perjumpaan manusia yang bermakna.
‎
Melalui Sebuah Kota, Sebuah Umpama, Ubai menghadirkan kota sebagai ruang kegelisahan manusia yang menyimpan cerita, ingatan, identitas, serta tafsir berbeda bagi pembacanya mendalam.
‎
Bedah buku tersebut mempertemukan karya, penyair, dan pembaca dalam suasana Festival Sastra Yogyakarta, menunjukkan sastra masih memiliki ruang perjumpaan hidup di tengah masyarakat.
‎
Perbincangan itu menegaskan sastra dapat menjadi cara membaca ruang sekaligus memahami manusia, sehingga kota hadir bukan sekadar latar, tetapi pengalaman yang terus dimaknai.(waw)