PTUN Perkuat Putusan KIP, Sebagian Dokumen Akademik Jokowi Dinyatakan Terbuka

FAJARLAMPUNG.COM, SLEMAN – Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta menolak keberatan UGM terkait putusan Komisi Informasi Pusat mengenai dokumen akademik Presiden ketujuh Joko Widodo seluruhnya.
‎
‎Putusan dibacakan melalui ecourt pada 30 Juli 2026 dengan amar tegas, “Menolak keberatan dari Pemohon Keberatan untuk seluruhnya,” bunyi putusan.
‎
‎Keputusan tersebut sekaligus menguatkan putusan Komisi Informasi Pusat Nomor 055/X/KIP-PSI/2025 mengenai keterbukaan sebagian dokumen akademik Jokowi kepada masyarakat luas.
‎
‎PTUN menyatakan salinan ijazah dan transkrip nilai termasuk informasi publik yang dapat diberikan setelah seluruh proses hukum berkekuatan hukum tetap selesai.
‎
‎Namun, majelis hakim menegaskan ijazah asli tidak termasuk informasi terbuka sehingga tetap memperoleh perlindungan sesuai ketentuan hukum yang berlaku nasional.
‎
‎Perkara tersebut terdaftar dengan nomor 126/G/KI/2026/PTUN.JKT dan menjadi perhatian luas karena menyangkut transparansi dokumen akademik kepala negara Indonesia terdahulu.
‎
‎Dalam amar putusannya, hakim kembali menegaskan, “Menolak keberatan dari Pemohon Keberatan untuk seluruhnya,” sehingga permohonan UGM tidak dikabulkan sedikitpun.
‎
‎Sebelumnya, Komisi Informasi Pusat mengabulkan sebagian permohonan informasi yang diajukan Kelompok Bongkar Ijazah Jokowi atau Bonjowi melalui mekanisme sengketa informasi publik.
‎
‎Pemohon terdiri atas Leony Lidya, Lukas Luwarso, dan Herman yang meminta berbagai dokumen akademik Jokowi untuk dinyatakan sebagai informasi terbuka publik.
‎
‎Dari delapan dokumen yang dimohonkan, tujuh dinyatakan terbuka, sedangkan ijazah asli tetap tidak termasuk informasi yang wajib dibuka kepada masyarakat.
‎
‎Dokumen terbuka mencakup salinan ijazah, transkrip nilai, Kartu Rencana Studi, serta Kartu Hasil Studi selama menempuh pendidikan di UGM dahulu.
‎
‎Selain itu, laporan Kuliah Kerja Nyata, skripsi atau tugas akhir juga dinyatakan sebagai informasi publik berdasarkan putusan Komisi Informasi Pusat tersebut.
‎
‎Surat tugas pembimbing, berita acara sidang, serta Surat Keputusan yudisium juga masuk kategori informasi terbuka yang wajib disediakan setelah inkrah nantinya.
‎
‎Bukti pendaftaran yudisium dan buku wisuda turut dinyatakan terbuka sebagai bagian dokumen akademik yang dapat diakses masyarakat sesuai ketentuan berlaku nasional.
‎
‎Komisi Informasi Pusat sebelumnya memerintahkan UGM menyerahkan dokumen tersebut setelah putusan memperoleh kekuatan hukum tetap tanpa mengabaikan prosedur administratif yang berlaku.
‎
‎Putusan PTUN memperkuat prinsip keterbukaan informasi publik sekaligus menegaskan batas perlindungan terhadap dokumen asli yang tidak termasuk objek keterbukaan informasi nasional.
‎
‎Perkara ini diperkirakan terus menjadi perhatian publik karena menyangkut transparansi, akuntabilitas, serta kepastian hukum mengenai akses dokumen akademik mantan presiden Indonesia. (waw)