Polisi Kawal Tahanan Berpamitan dengan Ibunda, Sisi Kemanusiaan Tetap Dikedepankan
FAJARLAMPUNG.COM, JOGJA – Suasana duka menyelimuti rumah kawasan Gedongtengen, Jogja, Senin (17/8), ketika seorang tahanan mendapat kesempatan berpamitan kepada ibundanya yang meninggal dalam suasana mengharukan.
Pria tersebut masih mengenakan kaos dan celana pendek oranye khas tahanan saat polisi mengantarnya menuju rumah duka dengan pengawalan hati-hati dan humanis.
Langkahnya pelan, sementara isak tangis keluarga terdengar lirih, menciptakan suasana haru membuat batas hukum dan kemanusiaan seolah melebur di tengah keluarga berduka.
Ia datang bukan untuk bebas dari jeratan hukum, melainkan memenuhi kesempatan terakhir sebagai seorang anak yang kehilangan ibunya dengan penuh rasa kehilangan.
Di hadapan jenazah ibundanya, AS (56), pria itu kemudian bersimpuh dan menundukkan kepala dalam suasana penuh kesedihan mendalam yang mengharukan bagi keluarga.
Tak banyak kata terucap. Ia hanya berdoa, memandang jenazah, kemudian memberikan penghormatan terakhir sebelum menjalani proses hukum yang berlaku dengan kehilangan.
Kesempatan tersebut diberikan dengan pengawalan personel Unit Reskrim, Sabhara, dan Bhabinkamtibmas untuk memastikan rangkaian berlangsung aman dan terkendali demi menjaga keamanan bersama.
Polisi tetap mengedepankan kewaspadaan, namun tidak mengabaikan sisi kemanusiaan ketika seorang anak membutuhkan ruang untuk mengucapkan perpisahan terakhir di tengah suasana berkabung.
Suasana rumah duka pun menjadi saksi pertemuan singkat antara seorang tahanan dan ibunya yang telah terbujur kaku untuk selamanya dalam suasana haru.
Pakaian oranye yang dikenakannya terlihat mencolok di tengah keluarga sedang berduka, sekaligus mengingatkan status hukum yang masih melekat di tengah suasana berkabung.
Meski demikian, pengawalan tidak membuat prosesi tersebut kehilangan sentuhan kemanusiaan yang begitu terasa sejak kedatangan hingga keberangkatan tahanan itu sepanjang prosesi berlangsung.
Keluarga tampak larut dalam kesedihan, sementara polisi memastikan penghormatan terakhir berlangsung tertib tanpa mengganggu jalannya prosesi pemakaman keluarga hingga seluruh rangkaian selesai.
Momen tersebut memperlihatkan bahwa penegakan hukum tetap dapat berjalan berdampingan dengan penghormatan terhadap hak dasar manusia dalam situasi duka di suasana berkabung.
Polisi tidak hanya bertugas menjaga keamanan, tetapi juga memberikan ruang kemanusiaan selama prosedur pengawalan tetap dipatuhi dengan ketat demi menjaga keamanan prosesi.
Setelah berpamitan, pria tersebut kembali dibawa petugas menuju Polsek Gedongtengen untuk melanjutkan masa penahanan sesuai proses hukum yang berlaku setelah penghormatan selesai.
Seluruh kegiatan berlangsung aman, tertib, dan kondusif, tanpa adanya gangguan selama tahanan menyampaikan penghormatan kepada ibundanya tercinta di tengah duka penuh kehati-hatian.
Peristiwa ini meninggalkan pesan kuat bahwa di balik pakaian tahanan dan dinding sel, sisi kemanusiaan tetap memiliki tempat di tengah duka mendalam.(waw)

