Pertumbuhan UMKM DIY Tembus 12,4 Persen, RAPIMDA KADIN DIY Telurkan 8 Rekomendasi Strategis

FAJARLAMPUNG.COM, Sleman – Yogyakarta bergemuruh. RAPIMDA KADIN DIY 2026 resmi digelar Sabtu (17/10/2026) di The Alana Hotel dengan tema besar “Ekonomi Kerakyatan Untuk Indonesia Mendunia”.
‎
‎Ketua KADIN DIY membuka laporan tahunan di hadapan ratusan pengusaha. “Ini bukan sekadar rapat, ini titik balik kebangkitan UMKM DIY,” tegasnya.
‎
‎”UMKM harus naik kelas. Jangan hanya bertahan, tapi harus mengekspor,” ujarnya di depan banner besar bertuliskan visi ekonomi berkualitas.
‎
‎Data dipaparkan jelas. Pertumbuhan UMKM DIY 2026 tembus 12,4 persen. Angka tertinggi dalam 5 tahun terakhir, kata laporan resmi KADIN.
‎
‎”Kami dorong digitalisasi 80 ribu UMKM. Hasilnya nyata. Omzet naik, pasar melebar sampai Malaysia dan Timur Tengah,” ungkap Ketua Bidang UMKM.
‎
‎Pemerintah DIY hadir mendukung penuh. Gubernur dalam sambutannya menekankan kolaborasi. “Tanpa KADIN, ekonomi rakyat tidak akan secepat ini bergerak,” katanya.
‎
‎Sorotan utama: program sertifikasi dan pelatihan vokasi. 15.000 tenaga kerja tersertifikasi sepanjang 2026. “Ini investasi SDM untuk 10 tahun ke depan,” ujarnya.
‎
‎Ketua Komite Pelatihan, Martha Sasongko, menegaskan pentingnya kompetensi. “Lulusan harus siap kerja, bukan cari kerja. Itu PR kita bersama,” ucapnya lantang.
‎
‎KADIN juga menggandeng Bank Indonesia dan BPD DIY. Kredit mikro bunga ringan cair Rp 2,1 triliun ke pelaku usaha kecil menengah.
‎
‎”Bank tidak boleh takut pada UMKM. Mereka tulang punggung ekonomi,” kata Direktur BI DIY saat diskusi panel di panggung utama.
‎
‎Isu ekspor jadi pembahasan panas. Produk batik, kerajinan, dan makanan olahan DIY mulai tembus pasar Eropa. “Kualitas kita sudah diakui,” kata eksportir.
‎
‎Namun tantangan tetap ada. Harga bahan baku naik 18 persen. “Pemerintah pusat harus turun tangan stabilkan harga,” desak Ketua Bidang Perdagangan.
‎
‎RAPIMDA melahirkan 8 rekomendasi strategis. Fokusnya: hilirisasi, green economy, dan penguatan koperasi. Semua ditarget tuntas sebelum akhir 2027.
‎
‎”Kita tidak bisa kerja sendiri. Sinergi dengan BUMN, swasta, dan kampus wajib diperkuat,” tegas Ketua Umum KADIN Indonesia yang hadir virtual.
‎
‎Peserta antusias. Ratusan pengusaha dari 5 kabupaten/kota se-DIY datang. Suasana diskusi hidup, bahkan sempat debat soal regulasi perizinan usaha.
‎
‎”Perizinan masih berbelit. Kami butuh satu pintu, cepat, dan transparan,” keluh seorang pelaku UMKM kuliner dari Bantul dalam sesi tanya jawab.
‎
‎Menanggapi itu, KADIN janji kawal ke Pemda. “Tahun depan kita buat dashboard perizinan real time. Tidak ada lagi pungli,” janjinya.
‎
‎Sektor pariwisata juga disorot. KADIN dorong “Tourism First” dengan standar F.I.R.S.T: Finest, Integrity, Responsible, Sincerity, Togetherness.
‎
‎”Hotel, homestay, dan UMKM wisata harus satu ekosistem. Jangan jalan sendiri-sendiri,” kata Ketua Bidang Pariwisata di hadapan peserta.
‎
‎Penutupan RAPIMDA ditandai deklarasi bersama. “Ekonomi DIY Berkualitas dimulai dari kita. Dari desa, dari UMKM,” teriak peserta serentak.
‎
‎Laporan 2026 ini menjadi bukti. KADIN DIY tidak hanya bicara, tapi bekerja. Hasilnya: lapangan kerja baru, omzet naik, dan optimisme tinggi.
‎
‎”2027 targetnya lebih tinggi. Kita ingin DIY jadi barometer ekonomi kerakyatan nasional,” pungkas Ketua KADIN DIY menutup acara dengan penuh semangat.(waw)