Pernyataan Prabowo soal Pakar Jadi Sorotan, Ini Analisis Pakar Komunikasi UMY
FAJARLAMPUNG.COM, Yogyakarta – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyindir sejumlah pakar karena dinilai terlalu mengandalkan kepintaran menjadi sorotan publik. Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta pada Jumat (18/9/2026).
Dalam kesempatan itu, Prabowo menyebut ada pakar yang karena terlalu merasa pintar justru melontarkan tudingan yang menurutnya tidak berdasar. Pernyataan tersebut kemudian memunculkan beragam respons di ruang publik, terutama melalui media sosial.
Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Filosa Gita Sukmono, M.A., menjelaskan perbedaan respons tersebut menunjukkan bahwa pesan seorang pemimpin di ruang publik tidak selalu diterima secara seragam oleh masyarakat.
Menurut Filosa, fenomena tersebut dapat dipahami melalui konsep khalayak aktif atau active audience dalam kajian komunikasi. Masyarakat saat ini tidak hanya menjadi penerima pesan, tetapi juga memiliki kemampuan menafsirkan ulang pesan berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dan sudut pandang masing-masing.
“Dalam komunikasi ada konsep khalayak aktif. Ketika Presiden berbicara seperti itu, Presiden maupun tim komunikasinya harus memahami bahwa khalayak tidak semuanya bisa menerima pesan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh komunikator,” ujar Filosa saat diwawancarai pada Kamis (24/9).
Ia menjelaskan, teori khalayak aktif dari Stuart Hall membagi posisi audiens dalam tiga bentuk, yakni dominant reading, negotiated reading, dan oppositional reading.
Dalam posisi dominant reading, audiens menerima pesan sesuai dengan makna yang ingin disampaikan komunikator. Sementara itu, negotiated reading terjadi ketika audiens menerima sebagian pesan, tetapi tetap melakukan penyesuaian pemahaman. Adapun oppositional reading muncul ketika audiens memahami pesan dengan sudut pandang berbeda, bahkan memberikan kritik terhadap pesan tersebut.
“Mayoritas respons hari ini bisa berada pada posisi oposisi, yaitu audiens yang melihat pesan tersebut secara kritis dan memberikan tanggapan yang berlawanan dengan pesan awal,” kata Filosa.
Pesan Presiden Mengalami Reproduksi Makna di Media Sosial
Filosa mengatakan perkembangan media sosial membuat sebuah pernyataan publik tidak berhenti ketika disampaikan oleh komunikator. Pesan tersebut dapat terus berkembang melalui berbagai bentuk respons masyarakat.
Menurutnya, masyarakat digital memiliki kemampuan mengolah kembali pesan melalui komentar, unggahan ulang, potongan video, hingga perbandingan dengan informasi lain.
“Pesan yang disampaikan dan sudah meluncur itu tidak bisa direvisi. Ada filosofi dalam komunikasi bahwa pesan itu sifatnya irreversible. Pesan akan mengalami reproduksi makna, sehingga makna terus berkembang,” jelas Filosa.
Ia menjelaskan, fenomena tersebut terjadi karena audiens tidak hanya mendengar pesan, tetapi juga ikut membangun makna baru terhadap pesan tersebut.
“Warganet atau audiens bisa mengomentari kembali, melakukan posting ulang, melakukan komparasi, dan seterusnya,” tambahnya.
Menurut Filosa, kondisi ini menjadi karakter komunikasi politik di era digital. Pernyataan tokoh publik dapat berkembang menjadi berbagai interpretasi karena dikonsumsi masyarakat dengan latar belakang, kepentingan, dan referensi yang berbeda.
Hal tersebut juga terlihat dari respons terhadap pernyataan Prabowo. Selain pemberitaan mengenai pernyataan tersebut, respons dari kelompok akademisi turut berkembang di ruang publik. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, misalnya, mengingatkan pentingnya keberadaan pakar yang memiliki kedalaman ilmu, analisis tajam, serta berbasis data dan objektivitas.
Akurasi Data Penting dalam Komunikasi Publik
Selain aspek penyampaian pesan, Filosa menyoroti pentingnya kualitas informasi yang menjadi dasar komunikasi seorang pemimpin publik. Menurutnya, pesan yang tidak didukung data kuat dapat berpengaruh terhadap tingkat kepercayaan masyarakat.
“Pesan yang tidak berbasis data sebenarnya akan menurunkan tingkat kepercayaan publik,” ujar Filosa.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan praktik jurnalistik. Menurutnya, media juga bergantung pada akurasi data karena kesalahan informasi dapat menyebabkan publik kehilangan kepercayaan.
“Sama seperti ketika kita menulis berita. Ketika data kita tidak akurat, salah, akhirnya media kita akan ditinggalkan,” katanya.
Karena itu, ia menilai diperlukan evaluasi terhadap proses penyampaian informasi sebelum pesan tersebut dikonsumsi masyarakat luas.
“Kalau lama-kelamaan ini tidak dievaluasi, setiap pesan yang disampaikan bisa mulai dianggap oleh audiens sebagai sesuatu yang perlu dipertanyakan kebenarannya,” jelas Filosa.
Komunikasi Pemimpin Publik Menghadapi Tantangan Era Digital
Filosa menilai gaya komunikasi pemimpin saat ini menghadapi tantangan berbeda karena perkembangan teknologi informasi. Setiap pernyataan publik berpotensi tersebar luas melalui berbagai platform digital, termasuk dalam bentuk potongan video yang beredar di media sosial.
“Dengan era saat ini, ketika Presiden hadir dalam berbagai undangan, semua komentarnya bisa dikutip oleh warganet karena akan ada video yang dipotong di TikTok dan seterusnya,” ujar Filosa.
Ia mengatakan kondisi tersebut membuat komunikator publik perlu memahami konteks komunikasi, termasuk siapa audiens yang menjadi sasaran pesan.
“Indonesia memiliki masyarakat dengan berbagai macam latar belakang dan tingkat pendidikan. Maka, pesan yang disampaikan harus benar-benar sesuai dengan siapa komunikannya,” katanya.
Filosa menambahkan, era digital membuat masyarakat tidak hanya memperhatikan isi pesan, tetapi juga cara penyampaian seorang komunikator.
“Bahkan mimik wajah pun tidak akan luput dari sorotan kamera. Itu akan diulas oleh warganet. Eranya memang sudah berbeda,” tuturnya.
Menurutnya, tantangan utama komunikasi publik saat ini adalah memastikan pesan dapat dipahami secara tepat di tengah masyarakat yang memiliki banyak ruang untuk memberikan tafsir. Karena itu, pemimpin publik perlu memperhatikan akurasi data, pilihan diksi, konteks penyampaian, serta keberagaman audiens yang menerima pesan tersebut. (lsi)
Sumber : Humas umy

