Mukernas Forum Arimatea Bahas Tantangan Mualaf dan Fenomena Agnostik

FAJARLAMPUNG.COM, Yogyakarta – Forum Arimatea menggelar Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) mulai Sabtu (30/5/2026) sebagai langkah strategis memperkuat pendampingan mualaf di berbagai daerah sekaligus mempererat dialog lintas agama.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini diikuti puluhan peserta dari berbagai kota di Indonesia, mulai dari Makassar, Medan, Jakarta, Malang, Salatiga, Bali, Yogyakarta hingga Gunungkidul.

Ketua Umum Forum Arimatea, Yayat Hidayat, mengatakan tantangan yang dihadapi para mualaf saat ini semakin kompleks sehingga membutuhkan pendampingan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.

“Kadang dalam proses hijrahnya ada berbagai persoalan yang dihadapi. Karena itu kami menyediakan rumah singgah sebagai tempat pendampingan dan penguatan bagi para mualaf,” ujar Yayat.

Menurut Yayat, Forum Arimatea saat ini membina sekitar 700 mualaf di Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Jumlah terbesar berada di Kulonprogo, selain kelompok binaan yang tersebar di sejumlah wilayah lain seperti Margodadi dan Seyegan,” katanya.

Ia menegaskan pembinaan tidak hanya menyentuh aspek keagamaan, tetapi juga kehidupan sosial dan ekonomi para mualaf.

“Forum Arimatea memberikan konseling, bantuan sosial, pelatihan keterampilan hingga program pemberdayaan ekonomi agar para mualaf bisa lebih mandiri,” jelas Yayat.

Ia menambahkan keberadaan rumah singgah menjadi ruang aman bagi para mualaf yang sedang beradaptasi dengan lingkungan dan kehidupan baru mereka.
‎Selain fokus pada pembinaan mualaf,

Forum Arimatea juga aktif mengembangkan dialog lintas agama sebagai sarana memperkuat kerukunan.

“Kami ingin menghadirkan wajah dakwah yang lebih santun, menyejukkan, dan membawa hikmah. Karena itu dialog lintas agama terus kami lakukan agar tercipta saling menghormati dan menghargai,” tegasnya.

Yayat juga menyoroti meningkatnya fenomena agnostik di kalangan masyarakat.

‎Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan yang harus direspons dengan pendekatan edukatif dan dialogis.

“Pendekatan yang mengedepankan dialog, pemahaman, dan penghormatan terhadap sesama menjadi sangat penting dalam menghadapi perkembangan sosial yang terjadi saat ini,” ungkapnya.

Hari pertama Mukernas digelar di Kasihan, Bantul, sedangkan hari kedua diisi pelatihan pertanian di Seyegan, Sleman, dengan menghadirkan narasumber ahli.

Menariknya, pelatihan tersebut melibatkan peserta dari berbagai latar belakang agama.

“Kami berharap Forum Arimatea terus menjadi rumah pembinaan bagi para mualaf sekaligus jembatan yang memperkuat persaudaraan, toleransi, dan harmoni antar umat beragama,” pungkas Yayat. (and)