Mahasiswa UMY Ubah Limbah Popok Jadi Pupuk, Raih Pendanaan beVisioneers Mercedes-Benz
FAJARLAMPUNG.COM, YOGYAKARTA – Empat mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dari tiga program studi berbeda berhasil memperoleh pendanaan internasional melalui beVisioneers: The Mercedes-Benz Fellowship. Tim tersebut mengusung proyek bertajuk ReBumi: A Systematic Approach to Repurposing Used Diapers into Organic Fertilizer: The Way Forward in Solving Indonesia’s Used Diaper Waste.
Proyek ReBumi memperoleh pendanaan senilai 3.000 euro untuk mengembangkan metode sistematis dalam mengolah limbah popok sekali pakai menjadi pupuk organik. Inovasi tersebut diarahkan sebagai salah satu alternatif solusi terhadap persoalan sampah popok yang terus meningkat di Indonesia.
Tim ReBumi diketuai Mohamed Baillor Jalloh, mahasiswa Program Studi IPIEF UMY. Tiga anggota lainnya adalah Muhammad Nabil Adha dan Raffi Ahmad Taupik dari Program Studi Agribisnis, serta Ilman Muhtar dari Program Studi Agroteknologi. Tim tersebut berada di bawah bimbingan Cahyo Wisnu Rubiyanto, M.App.Sc., Ph.D., dosen Program Studi Agribisnis UMY, sebagai project supervisor.
Keterlibatan Baillor sebagai ketua tim turut menunjukkan peran mahasiswa internasional dalam pengembangan riset kolaboratif di UMY. Komposisi tim yang melibatkan tiga program studi juga mencerminkan pendekatan interdisipliner dalam merancang solusi terhadap persoalan lingkungan.
Limbah popok sekali pakai merupakan salah satu jenis sampah rumah tangga yang sulit terurai secara alami. Melalui ReBumi, tim berupaya mengembangkan pendekatan yang memungkinkan limbah tersebut diolah menjadi produk bernilai guna bagi sektor pertanian.
Program beVisioneers: The Mercedes-Benz Fellowship sendiri merupakan program global untuk para inovator muda di bidang lingkungan. Program ini didanai Mercedes-Benz dan diimplementasikan oleh The DO School Fellowships. Peserta mendapatkan akses terhadap pelatihan, pendampingan, jejaring, serta peluang memperoleh project scholarship untuk mengembangkan proyek lingkungan.
Dari Pengelolaan Limbah Rumah Tangga ke Inovasi Pertanian
Semangat proyek ReBumi sejalan dengan kegiatan pengabdian masyarakat yang sebelumnya dipimpin Cahyo Wisnu Rubiyanto di Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping. Dalam kegiatan Lomba Kreasi Popok Menjadi Pot pada Kamis (20/8), masyarakat diajak melihat kembali potensi pemanfaatan limbah rumah tangga secara kreatif.
“Melalui kegiatan sederhana seperti ini, kami ingin memperkenalkan bahwa limbah rumah tangga masih dapat memiliki nilai guna ketika dikelola secara kreatif,” ujar Cahyo saat diwawancarai, Jumat (21/8).
Cahyo menambahkan, kegiatan tersebut tidak hanya memiliki dimensi lingkungan, tetapi juga nilai sosial.
“Kegiatan ini juga menjadi cara yang menyenangkan untuk mengajak masyarakat memperingati kemerdekaan sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan,” imbuhnya.
Salah satu peserta kegiatan juga menyampaikan bahwa praktik pengolahan limbah tersebut memberikan wawasan baru mengenai cara memanfaatkan kembali sampah rumah tangga yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai guna.
Pendanaan Internasional untuk Pengembangan Proyek
Pendanaan melalui beVisioneers menjadi salah satu bentuk dukungan internasional terhadap proyek lingkungan yang dikembangkan mahasiswa UMY. Program tersebut memang ditujukan bagi inovator muda yang memiliki komitmen kuat terhadap perubahan lingkungan dan pengembangan solusi berkelanjutan.
Menurut informasi resmi program, beVisioneers memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengembangkan proyek melalui pembelajaran, pendampingan, dan akses terhadap project scholarship hingga 20.000 euro pada tahap tertentu.
Melalui pendanaan awal yang diterima, Tim ReBumi berencana melanjutkan pengembangan metode pengolahan limbah popok, melakukan pengujian lebih lanjut, serta menyiapkan implementasi proyek dalam skala yang lebih luas.
Bagi tim, proyek tersebut tidak hanya berorientasi pada pengurangan sampah, tetapi juga pada penciptaan model ekonomi sirkular yang menghubungkan pengelolaan limbah rumah tangga dengan pemanfaatan kembali material untuk kebutuhan pertanian.
Ke depan, Tim ReBumi berharap hasil pengembangan proyek dapat diterapkan secara lebih luas dan menjadi salah satu alternatif solusi pengelolaan limbah popok di Indonesia. (GLA)
Sumber : humas umy

