Mahasiswa UMY Kembangkan Kebun Toga untuk Dukung Pencegahan Stunting dan Pengendalian Hipertensi

FAJARLAMPUNG.COM, Yogyakarta – Lahan percontohan milik Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kalurahan Tuksono, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, kini dikembangkan menjadi kebun tanaman obat keluarga (toga). Jahe, temulawak, dan serai dibudidayakan sebagai bagian dari program pemberdayaan masyarakat yang mendukung pencegahan tengkes (stunting) dan pengendalian hipertensi.

Inisiatif tersebut digagas oleh mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Farmasi (HIMFA) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa).

Ketua Tim PPK Ormawa HIMFA UMY, Danish Rizky Kurniawan, mengatakan Tuksono dipilih setelah tim melakukan observasi di sekitar sepuluh kalurahan. Berdasarkan hasil observasi, Tuksono dinilai memiliki persoalan kesehatan sekaligus potensi lokal yang dapat dikembangkan bersama masyarakat.

Berdasarkan data yang dihimpun tim, terdapat 1.669 kasus hipertensi di Tuksono. Sementara itu, jumlah kasus stunting disebut meningkat dari 19 kasus pada 2024 menjadi 32 kasus pada 2025.

Demplot Sayuran Dikembangkan Menjadi Kebun Toga

Dalam menjalankan program, tim didampingi dosen Program Studi Farmasi UMY, apt. Sri Tasminatun, S.Si., M.Si. Tim menemukan bahwa tanaman obat keluarga dan lahan percontohan milik KWT belum dimanfaatkan secara optimal.

Potensi tersebut kemudian dikembangkan melalui program Hortus Medicinalis. Program ini berfokus pada pembudidayaan jahe, temulawak, dan serai di lahan yang sebelumnya lebih banyak digunakan untuk menanam sayuran.

“Kami melihat lahan percontohan di Tuksono masih didominasi tanaman sayuran. Karena itu, kami berinisiatif mengembangkan sebagian lahan tersebut menjadi kebun tanaman obat keluarga,” ujar Danish saat diwawancarai pada Jum’at (17/9).

Pengembangan kebun toga tidak berhenti pada kegiatan budidaya. Hasil panen juga diolah menjadi sejumlah produk pendamping yang diperkenalkan kepada masyarakat.

Untuk mendukung edukasi mengenai hipertensi, tim mengembangkan minuman bernama Siji yang terbuat dari serai, jahe, dan jeruk nipis. Sementara itu, temulawak diolah menjadi bakpao sebagai salah satu bentuk inovasi dan diversifikasi pangan bagi anak-anak.

Produk tersebut ditempatkan sebagai bagian dari edukasi dan pemberdayaan masyarakat, bukan sebagai pengganti pemeriksaan medis, obat antihipertensi, pemenuhan gizi seimbang, maupun intervensi kesehatan yang diberikan tenaga profesional.

Empat Program Dijalankan secara Terintegrasi

Pengembangan kebun toga merupakan salah satu bagian dari rangkaian program yang disiapkan mahasiswa. Tim PPK Ormawa HIMFA UMY memulai kegiatan dengan observasi pada Januari 2026, kemudian memasuki tahap pelaksanaan lapangan pada Juli hingga September 2026.

Danish menjelaskan, terdapat empat inisiatif yang dijalankan. Aksi Tangguh berfokus pada edukasi dan pengendalian hipertensi, sedangkan Genesa diarahkan untuk mendukung pencegahan stunting. Sembada berfokus pada pengelolaan sampah dan Gemati diarahkan pada pemberdayaan KWT.

Melalui program Sembada, tim tidak hanya mengembangkan pengelolaan sampah secara konvensional, tetapi juga mendorong digitalisasi bank sampah kalurahan. Sistem tersebut dirancang agar kegiatan pemilahan dan penukaran sampah dapat memberikan manfaat ekonomi kepada warga.

“Program Sembada telah menghasilkan digitalisasi bank sampah. Warga yang menukarkan sampah akan memperoleh poin yang dapat dikonversi menjadi bahan kebutuhan pokok melalui kerja sama dengan sejumlah toko mitra,” ungkap Danish.

Pelaksanaan keempat program tersebut melibatkan masyarakat serta sejumlah pemangku kepentingan, antara lain Puskesmas Sentolo II, Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo, dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kulon Progo.

Pendampingan Ditargetkan Berlanjut hingga 2029

Bagi tim HIMFA UMY, keberhasilan program tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana selama periode PPK Ormawa. Keberlanjutan program menjadi bagian penting agar berbagai inisiatif dapat diteruskan secara mandiri oleh masyarakat.

Danish mengatakan tim menargetkan perbaikan indikator stunting dan hipertensi hingga 50 persen dalam tiga tahun mendatang. Pencapaian target tersebut memerlukan pemantauan berkala bersama puskesmas dan pemerintah setempat agar hasil program dapat diukur secara jelas.

Keberlanjutan program juga akan didukung melalui kaderisasi tenaga kesehatan lokal serta penerbitan surat keputusan lurah mengenai pembentukan satuan tugas untuk setiap subprogram.

“Kalurahan Tuksono akan menjadi wilayah binaan HIMFA UMY selama empat tahun ke depan, menggantikan Kalurahan Hargorejo yang menjadi wilayah binaan pada periode empat tahun sebelumnya. Status tersebut diharapkan dapat menjamin pendampingan berkelanjutan hingga program benar-benar mandiri pada 2029,” pungkas Danish. (lsi)

Sumber : Humas Umy