Langen Beksan Resmi Digelar: Momentum Kolaborasi Masyarakat Merawat Seni Tari Klasik Yogyakarta
FAJARLAMPUNG.COM, Jogja – Sanggar Langen Beksan Yogyakarta memasuki perjalanan menuju usia tujuh tahun dengan semangat pelestarian tari tradisional sekaligus membuka ruang berkesenian bagi masyarakat luas di Yogyakarta.
Didirikan pada 27 Oktober 2019, sanggar ini lahir dari kecintaan terhadap seni tari, khususnya tari klasik gaya Yogyakarta, yang diwariskan lintas generasi hingga kini.
Ketua sekaligus pendiri Langen Beksan Yogyakarta, Adjeng Mithayani, menggagas wadah tersebut agar kegemaran menari berkembang melalui proses belajar bersama, pendampingan, dan latihan rutin bersama-sama.
Menurut Adjeng, anggota sanggar pada awalnya bukan penari profesional, melainkan orang-orang yang memiliki ketertarikan dan kesenangan menari dalam kehidupan sehari-hari di sanggar setiap pekan.
Mereka kemudian berlatih bertahap, mempelajari teknik, gerak, serta pemahaman tari, sehingga kemampuan menari berkembang melalui proses terarah dan konsisten dari waktu ke waktu bersama.
“Memberikan wadah kepada siapa pun yang awalnya bukan penari, tetapi suka menari, khususnya tari klasik gaya Yogyakarta, menjadi tujuan sanggar,” ujar Adjeng saat ditemui di Taman Budaya Embung Giwangan, Minggu (1/11/2026).
Semangat itu dirangkum melalui yel-yel “Langen Beksan, Seneng Njoged” yang menggambarkan kegembiraan menari sekaligus keterbukaan sanggar bagi siapa saja yang ingin bergabung dan belajar.
Nama Langen Beksan berakar dari bahasa Jawa, yakni langen yang berarti kesukaan atau kegemaran, sedangkan beksan berarti tari dalam khazanah budaya Jawa masyarakat setempat.
Karena itu, Langen Beksan dimaknai sebagai kumpulan orang yang menyukai kegiatan menari, belajar bersama, serta menjaga keberlanjutan seni budaya Jawa secara bersama-sama hingga kini.
Selain mempelajari tari tradisional klasik gaya Yogyakarta, sanggar memberi ruang bagi anggota mengeksplorasi kreativitas dan menghasilkan karya tari bersama melalui proses kolaboratif secara kreatif.
Proses berkarya dilakukan melalui latihan, diskusi, dan pengembangan gerak, sehingga anggota tidak hanya mempelajari warisan tari, tetapi ikut menciptakan ekspresi baru bersama-sama secara kolektif.
Profil sanggar menyebutkan latihan rutin berlangsung setiap Selasa dan Jumat pukul 16.00 WIB di Pendapa Gamelan, Yogyakarta, sebagai ruang belajar dan berkesenian bersama seluruh anggota.
Keanggotaan Langen Beksan terbuka untuk masyarakat umum dari semua usia, sehingga siapa pun berkesempatan belajar dan merasakan kegembiraan menari bersama tanpa batasan latar belakang.
Visi sanggar adalah menjadi rumah seni tari yang hangat dan terbuka untuk merawat budaya, sekaligus memberi ruang bagi setiap orang mengekspresikan diri secara bebas.
Adjeng ingin suasana sanggar menjadi tempat anggota saling mendukung, berbagi kegembiraan, serta membangun kepercayaan diri melalui kegiatan seni tari yang menyenangkan dan penuh kebersamaan.
Misi tersebut diwujudkan melalui pelestarian budaya, ruang terbuka bagi semua, pementasan interaktif, serta kegiatan silaturahmi dan ekspresi diri bagi seluruh anggota sanggar secara nyata.
Memasuki peringatan hari ulang tahun ketujuh, Adjeng berharap Langen Beksan semakin guyub, mampu berproses, dan berkembang maju melalui kebersamaan seluruh anggota sanggar secara kolektif.
“Sesuai angka tujuh, tujuan kami adalah lebih guyub, berproses, dan berkembang maju bersama,” kata Adjeng mengenai harapannya pada usia ketujuh sanggar pada masa mendatang.
Ia berharap sanggar terus berkontribusi melestarikan budaya, terutama seni tari, agar warisan leluhur tetap dikenal, dipelajari, dan dekat dengan kehidupan masyarakat hingga masa mendatang.
Adjeng berharap setiap proses mendapat dukungan energi positif dari alam semesta, serta pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa agar seluruh kegiatan berjalan lancar dan baik.
“Semoga kebersamaan dalam setiap proses selalu diberi kelancaran,” tuturnya, seraya mengajak masyarakat ikut merawat warisan leluhur melalui kecintaan terhadap seni tari tradisional Yogyakarta bersama.(waw)

