Kirab Budaya RW 34 Kaliwaru Hidupkan Kampung dengan Ragam Kesenian Tradisional

FAJARLAMPUNG.COM, SLEMAN – Kirab Budaya RW 34 Kaliwaru meriahkan HUT Kemerdekaan dengan kesenian tradisional dan keterlibatan sekitar 450 warga lintas generasi secara semarak bersama kompak.
‎
Kirab berlangsung Selasa (25/8/2026), menghidupkan jalan kampung melalui barongsai, bregada, warok, jaranan, gedruk, gunungan, dan mobil hias warga meriah.
‎
Kegiatan dimulai pukul 07.00 hingga 12.00 WIB, dibuka Carik Condongcatur Riska Dian Nur Lestari mewakili Pemerintah Kalurahan Condongcatur secara langsung.
‎
Riska mengapresiasi warga RW 34 karena konsisten memberi ruang bagi kesenian tradisional, sekaligus mengenalkannya kepada generasi penerus sejak usia dini.
‎
“Pemerintah Kalurahan Condongcatur sangat senang RW 34 Kaliwaru melestarikan kesenian tradisional. Semoga kegiatan seperti ini terus dilestarikan,” ujar Riska bersama warga.
‎
Rombongan berangkat dari Gapura RW 34 Kaliwaru, menyusuri Kampung Kaliwaru, Kampung Sanggrahan, hingga kawasan Ring Road Utara dengan berbagai atraksi budaya.
‎
Berbagai kelompok menampilkan barongsai, bregada, gunungan, mobil hias, warok, jaranan anak-anak, gedruk, serta kreasi warga lintas usia sepanjang perjalanan kirab setempat antusias.
‎
Antusiasme masyarakat terlihat dari tepian jalan. Warga turut mengikuti gerakan penampil, sementara sebagian lainnya memberikan saweran sebagai apresiasi terhadap kelompok kesenian.
‎
Ketua RW 34 Kaliwaru Ahmad Fathoni mengatakan kirab menjadi manifestasi RW Berbudaya sekaligus sarana regenerasi kesenian bagi anak-anak dan remaja setempat.
‎
“Kirab Budaya ini manifestasi RW 34 sebagai RW Berbudaya dan upaya menanamkan budaya Jawa kepada generasi penerus,” kata Fathoni saat membuka acara meriah.
‎
Regenerasi tampak dalam kesenian warok. Tahun sebelumnya hanya dua warga tampil, kini meningkat menjadi delapan orang, termasuk seorang anak balita.
‎
Anak-anak dan remaja juga menjadi paraga jathilan, pemain gedruk, anggota bregada, serta peserta berbagai penampilan warga sepanjang rangkaian kirab budaya bersama penuh semangat.
‎
Kirab tidak sekadar menghadirkan kesenian sebagai tontonan, tetapi memberi kesempatan anak-anak mengalami langsung proses berkesenian bersama orang tua dan warga senior.
‎
Dukuh Kaliwaru Widiyatmoko menilai keterlibatan lintas generasi menjadi modal penting menjaga tradisi sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat Kaliwaru dalam kehidupan sehari-hari.
‎
“Yang penting bukan hanya ramainya kirab, tetapi bagaimana budaya diwariskan. Ketika anak-anak ikut menjadi paraga, regenerasi mulai berjalan,” ujar Widiyatmoko di tengah warga.
‎
Gunungan berisi hasil bumi dan jajanan anak-anak menjadi daya tarik. Setelah diarak, gunungan menjadi bagian tradisi rayahan yang meriah dan dinanti warga.
‎
Usai menyelesaikan rute, peserta berkumpul menikmati sarapan soto bersama. Acara berlanjut dengan tausiah dan doa dipimpin Ustadz Aminuddin selaku Rois Kaliwaru.
‎
Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW mempertemukan semangat kemerdekaan, pelestarian budaya, kebersamaan, dan nilai keagamaan dalam satu perayaan warga yang penuh makna penuh kebersamaan. (ady)