Kesbangpol Sleman Sosialisasi Pancasila untuk Bumikan Toleransi di Balecatur

FAJARLAMPUNG.COM, Sleman – Keberagaman bukan alasan untuk terpecah, melainkan kesempatan membangun kehidupan harmonis. Pesan itulah mengemuka dalam kegiatan Sinau Bhineka Tunggal Ika di Balecatur.
‎
Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Sleman menggelar kegiatan tersebut di Kalurahan Balecatur, Gamping, Senin (12/10/2026), untuk memperkuat wawasan kebangsaan.
‎
Praktisi psikologi dan pendidikan, Sinta yang dikenal sebagai Bunda Cinta, hadir sebagai narasumber. Ia mengajak masyarakat mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
‎
Menurut Sinta, pemahaman terhadap Pancasila tidak cukup berhenti pada hafalan. Nilai-nilainya harus tercermin melalui sikap, perilaku, dan hubungan sosial masyarakat.
‎
“Tujuannya mengajak masyarakat dan tokoh-tokoh yang hadir semakin memaknai Pancasila, sekaligus memahami bagaimana mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Sinta.
‎
Ia menekankan pentingnya toleransi karena Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki masyarakat dengan latar belakang beragam. Kondisi tersebut membutuhkan sikap saling menghormati.
‎
Sinta juga mengingatkan masyarakat menghadapi tantangan zaman yang terus berkembang. Penguatan wawasan kebangsaan diperlukan agar keberagaman tetap menjadi kekuatan bersama.
‎
Dalam pemaparannya, Sinta menggunakan pendekatan psikologi untuk menjelaskan perbedaan antar manusia. Setiap individu memiliki karakteristik, potensi, dan kebutuhan yang tidak selalu sama.
‎
“Dalam psikologi, setiap orang terlahir unik dan berbeda. Karena itu, kita perlu memahami bahwa perbedaan merupakan bagian alami kehidupan manusia,” jelasnya.
‎
Ia menyebut keberagaman hadir dalam berbagai bentuk, mulai agama, suku, budaya, kondisi ekonomi, hingga latar belakang pendidikan. Semua membutuhkan penghormatan setara.
‎
Menurut Sinta, perbedaan tersebut semestinya tidak menghalangi masyarakat membangun hubungan harmonis. Sebaliknya, keberagaman perlu dikelola melalui komunikasi, empati, dan sikap saling menghargai.
‎
“Perbedaan seharusnya tidak menghalangi kita hidup rukun. Kita harus menciptakan suasana nyaman, menyenangkan, dan membuat setiap orang merasa diterima,” katanya.
‎
Sinta kemudian menjelaskan pentingnya menerapkan lima sila Pancasila dalam tindakan nyata. Nilai kebangsaan harus dirasakan masyarakat melalui perlakuan adil tanpa diskriminasi.
‎
Ia berharap seluruh warga dapat merasakan ketenangan dan kenyamanan dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak boleh ada seseorang merasa direndahkan karena identitas maupun latar belakangnya.
‎
“Implementasi Pancasila harus membuat masyarakat merasa nyaman, tanpa ada yang dibeda-bedakan satu dengan lainnya,” tegas Sinta saat menyampaikan materi toleransi.
‎
Pendidikan toleransi, lanjutnya, sebaiknya dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua memiliki peran penting membiasakan anak menerima perbedaan sejak usia dini.
‎
Sinta mencontohkan perbedaan pendapat, gaya belajar, potensi, dan hobi antar anak. Setiap perbedaan perlu disikapi dengan penghargaan, bukan paksaan atau perbandingan.
‎
“Ketika anak saling menghormati, mereka akan merasa dihargai. Keluarga menjadi tempat pertama untuk belajar memahami toleransi,” ungkapnya.
‎
Kebiasaan menghargai perbedaan di rumah menjadi bekal ketika anak berinteraksi dengan lingkungan lebih luas. Sikap tersebut membantu mencegah konflik dalam pergaulan.
‎
Menurut Sinta, pembentukan karakter toleran membutuhkan keteladanan orang tua. Anak tidak hanya membutuhkan nasihat, tetapi juga contoh nyata dalam keseharian keluarga.
‎
Ia turut menyoroti posisi Yogyakarta sebagai daerah tujuan wisata dan pendidikan. Pendatang dari berbagai wilayah datang untuk belajar, bekerja, berwisata, maupun menetap.
‎
“Jogja menjadi tuan rumah bagi banyak pendatang. Karena itu, lingkungan pergaulan harus menyenangkan dan memberikan ruang bagi semua orang,” tuturnya.
‎
Sinta berharap nilai toleransi terus tumbuh agar Yogyakarta tetap menjadi tempat nyaman bagi masyarakat dari beragam latar belakang. Kerukunan perlu dijaga bersama.
‎
Antusiasme peserta terlihat selama diskusi berlangsung. Materi psikologi dan keberagaman menjadi pendekatan untuk memahami pentingnya menghormati sesama dalam kehidupan bermasyarakat.
‎
Melalui Sinau Bhineka Tunggal Ika, penguatan wawasan kebangsaan diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Nilai Pancasila perlu diwujudkan melalui tindakan sederhana setiap hari.(ady)