Jamasan Tombak Kyai Turunsih Digelar Khidmat di Pendopo Parasamya

FAJARLAMPUNG.COM, ‎SLEMAN – Pemerintah Kabupaten Sleman kembali menggelar upacara adat jamasan Pusaka Tombak Kyai Turunsih secara khidmat di Pendopo Parasamya pada Senin (13/7/2026) pagi.
‎
Prosesi sakral tersebut menjadi tradisi tahunan setiap Bulan Suro sebagai wujud penghormatan, pelestarian budaya, sekaligus perawatan pusaka kebanggaan Kabupaten Sleman bersama.
‎
Abdi Dalem Keraton Yogyakarta memimpin prosesi pembersihan, penyucian, dan perawatan Tombak Kyai Turunsih dengan tata cara adat penuh penghormatan dan makna.
‎
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa bersama jajaran pejabat pemerintah daerah menghadiri langsung prosesi jamasan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya leluhur.
‎
Danang Maharsa menegaskan jamasan bukan sekadar tradisi, melainkan pengingat pentingnya menjaga identitas budaya, persatuan, serta nilai luhur masyarakat Sleman bersama.
‎
“Upacara jamasan ini merupakan bentuk pelestarian warisan budaya takbenda sekaligus upaya merawat benda pusaka yang memiliki arti tersendiri,” ujar Danang Maharsa.
‎
Ia menambahkan Pusaka Tombak Kyai Turunsih melambangkan berkah, perlindungan, pengayoman, serta harapan besar bagi seluruh masyarakat Kabupaten Sleman sepanjang masa.
‎
“Terima kasih kepada para abdi dalem dan semua pihak yang telah membantu pelaksanaan jamasan pusaka ini,” kata Danang Maharsa penuh apresiasi.
‎
“Semoga kita selalu diberikan kesehatan dan kelancaran menjalankan ketugasan demi menyejahterakan warga masyarakat Kabupaten Sleman,” lanjut Danang Maharsa penuh harapan bersama.
‎
Tombak Kyai Turunsih merupakan pusaka resmi Pemerintah Kabupaten Sleman pemberian Sri Sultan Hamengku Buwono X pada Hari Jadi ke-83 tahun 1999.
‎
Pusaka tersebut diberikan sebagai petenger atau hadiah kehormatan yang mengandung makna mendalam mengenai kepemimpinan, pengabdian, serta tanggung jawab kepada masyarakat luas.
‎
Nama Turunsih memiliki makna turunnya rasa kasih sayang atau welas asih yang menjadi pedoman moral bagi pemimpin serta seluruh masyarakat Sleman.
‎
Nilai welas asih diharapkan terus menguatkan semangat saling mencintai, menghormati, bergotong royong, serta menjaga persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat setiap harinya bersama.
‎
Pusaka Tombak Kyai Turunsih juga memiliki Pamor Beras Wutah yang menyimpan filosofi penting mengenai kemakmuran, kesejahteraan, serta keberlanjutan kehidupan agraris masyarakat.
‎
Pamor Beras Wutah melambangkan Kabupaten Sleman sebagai lumbung beras Daerah Istimewa Yogyakarta yang wajib dijaga keberlanjutannya oleh seluruh generasi penerus bangsa.
‎
Melalui tradisi jamasan, Pemerintah Kabupaten Sleman menegaskan komitmen merawat budaya, memperkuat persatuan, serta mewariskan nilai luhur kepada masyarakat lintas generasi mendatang. (ady)