ISI Yogyakarta Kukuhkan Irwandi sebagai Guru Besar Fotografi
FAJARLAMPUNG.COM, Bantul – ISI Yogyakarta mengukuhkan Irwandi sebagai Guru Besar Fotografi dalam sidang senat terbuka yang digelar di Concert Hall ISI Yogyakarta, Senin 5/10/2026).
Pengukuhan Rektor ISI Yogyakarta tersebut menegaskan posisi fotografi sebagai bidang keilmuan penting, sekaligus memperkuat tradisi akademik seni Indonesia di tengah era digital pesat.
Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Nomor 18309/M/KPT.KP/2026 menetapkan Irwandi sebagai Profesor Ilmu Fotografi terhitung sejak 1 Agustus 2026 secara resmi.
Ketua Senat ISI Yogyakarta, Prof Andre Indrawan, membacakan keputusan sekaligus mengukuhkan Irwandi dalam prosesi resmi tersebut disaksikan sivitas akademika kampus dan tamu undangan.
Sedangkan Sekretaris Senat ISI Yogyakarta, Oscar Samaratungga, membacakan biodata Irwandi sebelum sang profesor menyampaikan pidato pengukuhan tentang praktik sintesis fotografi dan kritik kemanusiaan.
Irwandi mengangkat tema Praktik Sintesis Fotografi: Cyanogram sebagai Dialek dan Modus Retoris untuk Kritik Kemanusiaan dalam pidato pengukuhan yang disampaikannya di hadapan undangan.
Menurut Irwandi, fotografi tidak sekadar teknologi perekaman, melainkan bahasa visual yang mampu menyusun gagasan, argumen, dan kritik terhadap persoalan manusia secara lebih tajam.
“Teknik tidak lagi menjadi tujuan, tetapi menjadi sumber daya visual untuk membangun makna,” kata Irwandi dalam bagian penutup pidato pengukuhan yang disampaikannya tersebut.
Ia menyebut profesor fotografi di Indonesia masih “sangat langka”, sehingga pengukuhan tersebut menjadi momentum penting bagi perkembangan fotografi nasional, tradisi akademik, dan Indonesia.
ISI Yogyakarta mencatat Prof Soeprapto Soedjono sebagai Guru Besar Fotografi pertama Indonesia, yang dikukuhkan pada 15 Agustus 2009 melalui pidato budaya visual Indonesia.
Pengukuhan Irwandi berlangsung 17 tahun setelah momentum tersebut, menghadirkan babak baru perjalanan fotografi sebagai disiplin akademik sekaligus praktik artistik di Indonesia nasional modern.
Irwandi menjadi dosen pertama ISI Yogyakarta yang menapaki jabatan Guru Besar melalui jalur karya seni dan rekam penciptaan artistik yang konsisten selama bertahun-tahun.
Menurutnya, pengalaman tersebut dapat menjadi kemungkinan model bagi dosen seni lain membangun rekognisi akademik melalui penciptaan, diseminasi, dan eksibisi karya akademik di kampus.
Rekam akademik Irwandi berakar dari Fotografi ISI Yogyakarta, setelah menempuh S1 Fotografi pada 1998 hingga 2003 sebelum kemudian menjadi dosen di kampus tersebut.
Ia melanjutkan pendidikan magister pengkajian seni dan fotografi, kemudian meraih doktor Universitas Gadjah Mada pada 2016 melalui penelitian retorika fotografis dalam studio potret.
Sebelum menjadi Rektor ISI Yogyakarta periode 2024-2028, Irwandi pernah menjabat Sekretaris Jurusan Fotografi, Ketua Jurusan, dan Dekan FSMR sebelum memimpin kampus tersebut resmi.
Sejak 2003, Irwandi mendalami fotografi cetak tua ketika fotografi analog menghadapi percepatan digital dan perubahan besar dalam praktik penciptaan visual di Indonesia kontemporer.
Ia mempelajari cyanotype, salt print, Van Dyke brown print, albumen print, printing-out paper, dan gum bichromate sebagai warisan teknik fotografi abad kesembilan belas.
Pengetahuan tersebut kemudian turut mendorong Fotografi Cetak Tua menjadi mata kuliah wajib Jurusan Fotografi ISI Yogyakarta dan diperkenalkan kepada publik melalui berbagai pameran.
Sejak 2016, Irwandi mengembangkan cyanogram, sintesis cyanotype dan photogram yang memadukan tubuh, benda, warna, material, serta proses cetak menjadi bahasa gagasan kritis kontemporer.
Karya Bleeding Mind: Cost of Automation menjadi contoh terbaru yang mengkritik ancaman otomasi kecerdasan artifisial terhadap kemampuan berpikir manusia di tengah perubahan teknologi.
Irwandi juga dijadwalkan berbicara dalam konferensi preservasi fotografi Paris November 2026 dan mengisi lokakarya cyanotype Uruguay pada Desember mendatang untuk memperluas jejaring akademiknya.(waw)

