Geopix Soroti Kematian Gajah Indro, Tuntut Perbaikan Tata Kelola dan Perawatan Satwa
FAJARLAMPUNG.COM, JOGJA – Kematian Indro, gajah sumatera jinak yang tergabung dalam Flying Squad di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau, memicu sorotan tajam dari Geopix.
Organisasi tersebut mendesak pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem perawatan gajah jinak setelah Indro dinyatakan mati pada Senin (29/6/2026) usai menjalani penanganan medis akibat komplikasi kesehatan saat memasuki fase musth atau puncak hormonal pada gajah jantan.
Menurut keterangan resmi Balai Taman Nasional Tesso Nilo, kondisi Indro memburuk setelah menjalani tindakan pembiusan medis pada 24 Juni 2026.
Nafsu makan dan minumnya menurun drastis hingga akhirnya mengalami perubahan kondisi secara mendadak pada dini hari.
Kematian Indro juga terjadi hanya delapan hari setelah kematian Indra, gajah jantan lain di Taman Nasional Way Kambas. Rentetan peristiwa ini dinilai menjadi pukulan serius bagi upaya konservasi gajah sumatera di Indonesia.
Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, mengaku sangat prihatin atas peristiwa tersebut.
“Geopix menyampaikan keprihatinan mendalam atas kematian Indro. Kehilangan ini harus menjadi peringatan keras bahwa ada permasalahan mendasar yang harus segera dievaluasi dan diperbaiki dalam pengelolaan serta pemanfaatan gajah pada fasilitas konservasi,” tegas Annisa, Selasa (30/6/2026) malam.
Ia menambahkan, penggunaan gajah jinak dalam mitigasi konflik manusia dan gajah harus mengutamakan kesejahteraan satwa.
Geopix pun mendesak Kementerian Kehutanan bersama seluruh pihak terkait untuk membuka hasil evaluasi kematian Indro secara transparan kepada publik.
“Kami meminta audit menyeluruh terhadap seluruh gajah jinak yang digunakan dalam program Flying Squad, patroli, edukasi, maupun mitigasi konflik,” ujar Annisa.
Menurutnya, audit harus mencakup kesehatan, usia, beban kerja, sistem pakan, fasilitas kandang, protokol penanganan kondisi khusus seperti musth dan cedera, standar pembiusan, kesiapan tenaga medis, hingga rencana pensiun bagi gajah lanjut usia.
Lebih lanjut, Geopix menilai masa depan konservasi gajah sumatera tidak boleh hanya bertumpu pada penanganan konflik manusia dan satwa.
“Konservasi harus dimulai dari penyelamatan habitat, pemulihan koridor jelajah, penghentian perusakan kawasan, penegakan hukum terhadap jerat dan perburuan, serta mengurangi tekanan terhadap ruang hidup gajah,” kata Annisa.
Ia menegaskan bahwa setiap kematian individu gajah merupakan kehilangan besar bagi kelangsungan spesies yang populasinya terus terancam.
Annisa juga mengingatkan bahwa gajah jinak bukan sekadar alat pendukung konservasi.
“Gajah-gajah jinak bukanlah alat kerja konservasi. Mereka adalah individu satwa dilindungi yang memiliki kebutuhan biologis, psikologis, sosial, dan ekologis yang kompleks,” ujarnya.
Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan, “Tempat terbaik Gajah Sumatera adalah di alam liarnya. Tugas kita memastikan selalu ada ruang terbaik bagi Gajah Sumatera untuk hidup sejahtera di rumahnya sendiri.”(WAW)

