Gelar Aksi Menuntut Keadilan, Warga Madura Jogja Desak Kasus Kriminalisasi Pengurus Dituntaskan

‎FAJARLAMPUNG.COM, Jogja – Suasana tegang menyelimuti aksi warga Madura Yogyakarta di halaman Mapolresta Yogyakarta, Senin (13/10/2026). Mereka berorasi menuntut keadilan dan perlindungan hukum bagi paguyuban mereka.
‎
‎Dalam orasinya, perwakilan warga menegaskan tuntutan agar kepolisian bertindak objektif, transparan, dan profesional dalam menangani kasus yang menimpa pengurus Keluarga Madura Yogyakarta (KMY) dan paguyuban.
‎
‎”Warga Madura Yogyakarta menuntut penegakan hukum pertimbangkan konteks sosial dan keadilan,” ucap orator dengan lantang di atas mobil komando.
‎
‎Ia menilai hukum tidak boleh hanya berdasarkan pertimbangan yuridis semata. Menurutnya, inisiatif warga melalui kesepakatan internal harus dihormati untuk mencegah konflik lebih besar.
‎
‎”Kepolisian terhadap pengurus warga Madura Yogyakarta dan pengurus paguyuban harus mencermati anggota internal organisasi,” tegasnya di hadapan massa aksi.
‎
‎Tuntutan utama yang disuarakan adalah penghentian proses hukum terhadap pengurus KMY dan tokoh paguyuban Madura Jogjakarta yang dianggap tidak adil.
‎
‎”Minta proses hukum terhadap pengurus KMI dan paguyuban dihentikan,” seru orator sambil mengepalkan tangan, disambut teriakan “Hidup” dari peserta.
‎
‎Alasannya, tindak pidana dalam laporan tersebut dinilai sangat lemah dan tidak berdasar. Warga merasa dikriminalisasi tanpa bukti kuat dan mengada-ada.
‎
‎”Keluarga Madura Jogjakarta menuntut laporan terhadap diproses secara adil dan di hadapan hukum,” katanya lagi dengan nada penuh penekanan.
‎
‎Selain itu, mereka juga meminta perlindungan dari kepolisian dan Pemda DIY. Paguyuban Madura disebut sebagai bagian UMKM yang mendukung ekonomi Jogja.
‎
‎”Kepolisian dan Pemda DIY melindungi paguyuban Madura sebagai bagian UMKM,” ujarnya, mengingatkan peran ekonomi warga Madura di Yogyakarta.
‎
‎Orator menekankan bahwa warga Madura selama ini hidup rukun dan berkontribusi positif. Karenanya, tindakan hukum harus bijaksana dan tidak memecah belah.
‎
‎Massa memakai atribut “Brigade Komando” dan “Pencinta Sholawat” berkumpul rapi. Aparat kepolisian tampak berjaga mengawasi jalannya aksi.
‎
‎Suasana orasi berlangsung kondusif meski penuh semangat. Beberapa warga membawa kertas berisi pernyataan sikap yang kemudian dibacakan secara bergantian.
‎
‎”Kami bukan pembuat onar. Kami hanya ingin keadilan ditegakkan,” ujar salah satu peserta aksi kepada awak media di sela-sela kegiatan.
‎
‎Warga juga menyinggung pentingnya menghormati kesepakatan internal masyarakat. Hal itu disebut efektif sebagai upaya pencegahan konflik horizontal di masyarakat.
‎
‎”Penegak hukum semestinya tidak menutup terhadap inisiatif warga yang membuat kesepakatan,” jelas orator mengutip aspirasi yang tertuang dalam pernyataan sikap.
‎
‎Mereka berharap pemerintah daerah bisa menjadi penengah. Dialog disebut jalan terbaik dibanding menempuh jalur hukum yang berlarut-larut dan merugikan semua pihak.
‎
‎Aksi ini menjadi penutup rangkaian kegiatan warga Madura di Jogja. Mereka menegaskan komitmen menjaga persatuan meski tengah menghadapi persoalan hukum.
‎
‎”Secara objektif transparan dan profesional,” ulang orator menutup orasinya, sebelum massa membubarkan diri dengan tertib dan damai.
‎
‎Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak kepolisian maupun Pemda DIY terkait tuntutan yang disampaikan warga Madura Yogyakarta.(waw)