Forum Jogja Damai Ingatkan Massa Aksi: Sampaikan Aspirasi Tanpa Anarkis
FAJARLAMPUNG.COM, YOGYAKARTA — Forum Jogja Damai menilai penyampaian aspirasi melalui aksi demonstrasi merupakan bagian dari hak masyarakat yang harus dihormati. Namun, aksi tersebut dinilai perlu dilakukan secara tertib, tidak anarkis, serta tidak mengganggu aktivitas warga dan perekonomian.
Ketua Forum Jogja Damai, Kusnanto, mengatakan pihaknya tidak mempermasalahkan masyarakat, termasuk mahasiswa, yang ingin menyampaikan aspirasi melalui demonstrasi. Menurutnya, penyampaian pendapat merupakan hak warga negara yang dilindungi undang-undang.
“Sebetulnya kami tidak masalah. Mereka demo menyampaikan aspirasi buat kami tidak masalah. Sesuai dengan waktu dan tidak anarkis silakan,” kata Kusnanto saat ditemui wartawan di kawasan McDonald’s Sudirman, Yogyakarta, Selasa (1/9/2026).
Namun, Kusnanto menyoroti aksi yang dinilai telah melewati batas waktu serta berdampak terhadap aktivitas masyarakat. Ia menyebut kondisi tersebut membuat sejumlah warga merasa terganggu, terutama para pedagang, pengemudi ojek online (ojol), dan pengguna jalan.
“Yang kami permasalahkan pertama kalau anarkis, kedua sudah mengganggu. Tadi sudah melampaui batas waktu menurut saya,” ujarnya.
Kusnanto mencontohkan kondisi di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman yang terdampak aksi demonstrasi. Menurut dia, penutupan atau terganggunya akses jalan membuat aktivitas perdagangan masyarakat ikut terdampak.
“Bayangkan sepanjang Jalan Sudirman itu sepi, tidak ada pembeli. Itu sudah kerugian bagi warga. Jalan Sudirman tadi tertutup oleh adanya demo. Ojol terganggu, perdagangan juga terganggu,” katanya.
Ia berharap aksi demonstrasi ke depan dapat dilakukan di lokasi yang tidak mengganggu kepentingan umum. Menurutnya, penyampaian aspirasi tetap dapat dilakukan tanpa harus menggunakan ruang publik yang menjadi jalur utama aktivitas masyarakat.
“Kami berharap ke depan kalau demo silakan, tetapi pada tempat. Jangan di tempat umum, di tempat yang mungkin sesuai dengan aspirasi dan harapan mereka,” tutur Kusnanto.
Terkait tuntutan massa aksi, Kusnanto mengaku tidak mempermasalahkan substansi aspirasi yang disampaikan. Ia menyebut terdapat sejumlah tuntutan yang dibawa peserta aksi, tetapi tidak seluruhnya ia dengar secara langsung.
“Wah, tuntutannya tadi banyak. Salah satunya ada keinginan masalah MBG dijadikan tuntutan, masalah lainnya banyak tadi, tapi saya tidak begitu mendengarnya,” katanya.
Ia juga menyebut terdapat tuntutan terkait pemerintahan. Namun, bagi Forum Jogja Damai, substansi tuntutan bukan menjadi persoalan utama selama penyampaiannya dilakukan secara damai.
“Saya tidak mempersoalkan tuntutan mereka. Yang penting jaga Jogja itu damai. Jangan sampai ada keributan, jangan sampai ada anarkis,” tegasnya.
Kusnanto menegaskan Forum Jogja Damai memegang prinsip menjaga ketenteraman dan ketertiban di Yogyakarta. Menurutnya, masyarakat tetap memiliki ruang untuk menyampaikan berbagai pendapat dan kritik, tetapi harus dilakukan dengan cara yang tidak merugikan masyarakat lainnya.
“Dia mau ngomong apa saja silakan. Tapi jangan sampai mengganggu ketenteraman dan keterlibatan Yogyakarta. Prinsip Forum Jogja Damai adalah itu,” ujarnya.
Kusnanto juga menilai penggunaan Jalan Jenderal Sudirman sebagai lokasi aksi demonstrasi memberikan dampak besar terhadap mobilitas masyarakat.
Menurutnya, kawasan tersebut merupakan salah satu jalur yang ramai dan berada di sekitar pusat aktivitas ekonomi serta perdagangan. Ketika akses jalan terganggu, dampaknya dirasakan tidak hanya oleh pengguna jalan, tetapi juga pelaku usaha dan pekerja yang menggantungkan aktivitasnya dari kawasan tersebut.
“Bayangkan di perempatan, harus selalu ada yang sibuk. Sebelah barat, timur itu tempat ekonomi, perdagangan dan sebagainya. Itu sangat merugikan mereka yang berjualan di sana,” katanya.
Selain aktivitas perdagangan, kemacetan juga menjadi persoalan yang disorot. Ia menyebut pengemudi ojek online turut terdampak akibat terganggunya akses lalu lintas.
“Jalanan juga macet semua. Jadi sangat mengganggu kepentingan warga Jogja. Ojol-ojol juga terganggu,” ucapnya.
Menanggapi adanya anggapan bahwa kelompok yang tergabung dalam Forum Jogja Damai bukan warga asli Yogyakarta atau memiliki kepentingan tertentu, Kusnanto membantah tudingan tersebut.
Ia menegaskan Forum Jogja Damai merupakan kelompok yang berasal dari sejumlah komunitas dan elemen masyarakat yang memiliki komitmen menjaga kondisi Yogyakarta tetap aman dan damai.
“Kami murni warga Jogja. Kami sudah lama berkomitmen untuk jaga Jogja tanpa ada perintah siapa pun. Tulus ikhlas, kesadaran kami bersama-sama dari warga,” ujarnya.
Kusnanto mengatakan Forum Jogja Damai terdiri atas berbagai unsur masyarakat dan komunitas. Ia menyebut gerakan tersebut membawa semangat menjaga Yogyakarta melalui pendekatan yang damai.
“Forum Jogja Damai dari beberapa komunitas dan elemen masyarakat. Jaga Jogja dengan cinta. Itu prinsip kami, motto kami begitu,” katanya.
Kusnanto kemudian menyampaikan pesan kepada mahasiswa yang hendak menyampaikan aspirasi. Ia meminta mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa dapat mengedepankan gagasan dan argumentasi dalam menyuarakan tuntutan.
“Kalian adalah generasi penerus, generasi pengganti negara dan bangsa. Sampaikanlah aspirasi secara cerdas, sampaikan gagasan-gagasan yang brilian dengan dasar-dasar yang kuat,” ujarnya.
Menurutnya, aksi demonstrasi akan lebih mudah mendapatkan dukungan masyarakat apabila dilakukan secara elegan dan tidak menimbulkan kerusakan maupun keresahan.
“Kalau penyampaiannya elegan, betul-betul ingin memperjuangkan rakyat, tentu kami juga akan mendukung mereka,” kata Kusnanto.
Ia kembali mengingatkan agar aksi demonstrasi tidak berujung pada tindakan anarkis, provokatif, maupun perusakan fasilitas umum.
“Silakan demo, sampaikan aspirasi. Akan lebih bagus sampaikan aspirasi dengan gagasan, jangan dengan kekerasan. Jangan anarkis, jangan bakar-bakar ban. Terutama bakar-bakar ban, itu dilarang,” pungkasnya. (Aga)

