Dynamic Pricing Picu Lonjakan Harga Tiket Jelang Mudik Lebaran

‎FAJARLAMPUNG.COM, Jogja – Lonjakan harga tiket transportasi saat musim mudik Lebaran kembali menuai sorotan publik.
‎
Fenomena ini disebut dipicu oleh penerapan sistem dynamic pricing, yakni mekanisme penentuan harga yang mengikuti tingkat permintaan, waktu pemesanan, hingga kapasitas layanan.
‎
Kenaikan harga yang terjadi secara tiba-tiba kerap memicu keluhan masyarakat yang ingin pulang kampung.
‎
Dosen Program Studi Kewirausahaan Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, Antonius Satria Hadi, Ph.D., menjelaskan bahwa sistem ini lazim digunakan oleh maskapai hingga platform transportasi daring.
‎
“Harga tiket bisa berubah sewaktu-waktu, tergantung kapan dipesan dan seberapa banyak kursi yang sudah terisi,” ujarnya.
‎
Ia menegaskan, lonjakan harga saat mudik merupakan konsekuensi dari meningkatnya permintaan.
‎
“Ketika permintaan meningkat tajam seperti saat arus mudik Lebaran, harga biasanya ikut naik karena perusahaan menyesuaikan dengan lonjakan permintaan,” katanya.
‎
Menurutnya, fenomena ini merupakan mekanisme pasar yang secara ekonomi dinilai wajar.
‎
Lebih lanjut, ia menyebut arus mudik sebagai salah satu mobilitas manusia terbesar di Indonesia setiap tahun.
‎
“Jutaan orang melakukan perjalanan ke kampung halaman untuk merayakan Idulfitri bersama keluarga, sehingga permintaan transportasi meningkat signifikan,” jelasnya.
‎
Namun demikian, ia mengakui bahwa bagi masyarakat Indonesia, mudik bukan sekadar perjalanan biasa.
‎
‎“Bagi masyarakat Indonesia, mudik memiliki makna emosional yang kuat. Karena itu kenaikan harga transportasi yang tajam sering dianggap menjadi hambatan untuk pulang kampung,” ungkapnya.
‎
Ia menambahkan, pemerintah diharapkan tetap hadir menjaga keseimbangan, melalui kebijakan seperti tarif batas atas, penambahan armada, hingga program mudik gratis.
‎
“Masyarakat juga sebaiknya merencanakan perjalanan lebih awal agar mendapatkan harga yang lebih terjangkau,” pungkasnya. (waw)