Dugaan Kolusi Tender Pengamanan di Jogja, Arus Bawah PDIP Angkat Suara

‎FAJARLAMPUNG.COM, Jogja – Arus Bawah PDI Perjuangan Yogyakarta menyampaikan keprihatinan serius atas dugaan praktik sertifikasi satpam bodong di lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta.
‎
Mereka menilai kasus ini tidak hanya merugikan para pekerja, tetapi juga berpotensi menyeret jejaring kekuasaan hingga elit politik di kawasan Timoho.
‎
“Ini bukan sekadar pelanggaran administratif, tapi sudah mengarah pada dugaan sistematis yang harus diusut tuntas,” tegas pernyataan resmi mereka.
‎
Berdasarkan temuan yang berkembang, sosok terduga pelaku berinisial ND disebut kerap beraktivitas di lingkungan kantor wakil rakyat di Timoho.
‎
Tak hanya itu, keterkaitan lain muncul dari dugaan bahwa istri pelaku sempat bekerja sebagai tenaga keamanan di lokasi tersebut.
‎
“Yang bersangkutan diberhentikan secara mencurigakan setelah kasus ini mencuat ke publik,” ungkap Santoso sumber dalam siaran pers.
‎
Kecurigaan semakin menguat ketika muncul dugaan keterlibatan perusahaan pemenang tender yang disebut memiliki afiliasi dengan elit tertentu.
‎
Perusahaan tersebut bahkan diduga menjadi pemenang tender pengamanan di gedung wakil rakyat kawasan Timoho.
‎
“Pola ini mengarah pada praktik kolusi dan pengkondisian tender yang tidak sehat,” lanjut pernyataan tersebut.
‎
Arus Bawah juga menyoroti besarnya anggaran outsourcing di lingkungan Pemkot Yogyakarta yang mencapai sekitar Rp60 miliar pada tahun 2026.
‎
Anggaran tersebut mencakup berbagai sektor seperti tenaga pengamanan, cleaning service, hingga layanan lainnya di OPD, BUMD, dan rumah sakit daerah.
‎
“Nilai sebesar ini rawan disalahgunakan jika tidak diawasi secara ketat dan transparan,” tegas mereka.
‎
Lebih lanjut, mereka menilai adanya indikasi penguasaan tender oleh segelintir perusahaan tertentu yang berpotensi menciptakan monopoli terselubung.
‎
Kondisi ini dinilai merusak prinsip keadilan dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran publik.
‎
“Jika benar terjadi, ini mencederai kepercayaan masyarakat karena seluruh anggaran berasal dari rakyat melalui APBD,” bunyi pernyataan tersebut.
‎
Atas dasar itu, Arus Bawah mendesak aparat penegak hukum segera bertindak.
‎
“Kami meminta Polda DIY melakukan penyelidikan menyeluruh, Kejaksaan mengawal potensi tindak pidana korupsi, dan Pemkot membuka seluruh proses tender secara transparan,” tegas mereka.
‎
Mereka juga memastikan akan terus mengawal kasus ini.
‎
“Ini bagian dari komitmen menghadirkan keadilan sosial dan pemerintahan yang bersih serta berpihak kepada rakyat,” pungkasnya. (waw)