Dorong Sawit Berkelanjutan, LPP Agro Nusantara Tingkatkan Produktivitas 88 Pekebun di Sumbar

FAJARLAMPUNG.COM, Padang – LPP Agro Nusantara memperkuat kapasitas 88 pekebun swadaya melalui pelatihan budidaya sawit berkelanjutan, menutup kesenjangan produktivitas perkebunan rakyat.
‎
Pelatihan berlangsung di Rocky Plaza Hotel Padang, Sumatera Barat, pada 22-27 September 2026 dengan melibatkan pekebun strategis dari dua kabupaten.
‎
Sebanyak 88 pekebun berasal dari Kabupaten Dharmasraya dan Kabupaten Agam, mengikuti pembelajaran intensif mengenai praktik budidaya kelapa sawit yang baik.
‎
Program tersebut digelar LPP Agro Nusantara setelah kembali dipercaya BPDP dan Kementan sebagai pelaksana Pelatihan SDM Pekebun dengan tema budidaya sawit.
‎
Materi pelatihan diarahkan pada penerapan Good Agricultural Practices atau GAP sebagai fondasi meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan pengelolaan perkebunan rakyat.
‎
Peserta mendapatkan materi mengenai pengelolaan bahan tanam unggul, pemupukan berimbang, pengendalian hama terpadu, hingga manajemen panen dan pascapanen.
‎
Manajemen LPP Agro Nusantara menilai peningkatan produktivitas menjadi tantangan strategis dalam memperkuat posisi pekebun swadaya pada peta bisnis sawit nasional.
‎
“Produktivitas masih menjadi isu strategis dalam memperkuat peran pekebun sawit swadaya dalam peta bisnis kelapa sawit nasional,” tegas manajemen.
‎
Menurut manajemen, peningkatan keterampilan serta pemerataan pemahaman praktik budidaya yang baik merupakan tanggung jawab bersama seluruh pelaku industri sawit Indonesia.
‎
“Karena itu, peningkatan keterampilan dan pemerataan pemahaman mengenai praktik budidaya yang baik menjadi tanggung jawab bersama,” lanjut manajemen.
‎
Direktur LPP Agro Nusantara, Pranoto Hadi, menekankan transformasi budidaya sebagai fondasi penting untuk memperkuat daya saing pekebun sawit swadaya nasional.
‎
Pranoto menyebut pekebun swadaya saat ini menguasai sekitar 40 persen lahan perkebunan sawit yang tersebar pada 26 provinsi Indonesia.
‎
Namun, kontribusi pekebun swadaya terhadap produksi CPO nasional masih berada pada kisaran 30-35 persen, sehingga peningkatan produktivitas menjadi perhatian penting.
‎
“Intervensi budidaya menjadi kunci,” ujar Pranoto Hadi saat menekankan pentingnya transformasi pengelolaan kebun secara berkelanjutan.
‎
Menurut dia, penguatan kapasitas pekebun tidak cukup dilakukan melalui pembelajaran teori, tetapi harus disertai pengalaman langsung mengenai pengelolaan perkebunan produktif.
‎
Karena itu, pelatihan dirancang menggunakan kombinasi metode pembelajaran dalam kelas dan kunjungan lapangan untuk memperluas pemahaman peserta.
‎
Peserta mengikuti field trip benchmarking ke Perkebunan Kelapa Sawit Kebun Ophir PT Perkebunan Nusantara IV sebagai contoh pengelolaan kebun produktif.
‎
Kunjungan tersebut memberikan kesempatan peserta melihat penerapan praktik budidaya sekaligus pengelolaan perkebunan yang mengedepankan produktivitas dan prinsip keberlanjutan.
‎
Slamet Santoso, salah satu peserta, menyambut positif pelatihan yang dinilainya memberikan materi praktis dan relevan dengan kebutuhan pekebun sehari-hari.
‎
“Materi budidayanya sangat praktis dan bisa langsung saya terapkan di kebun,” kata Slamet Santoso seusai mengikuti rangkaian pelatihan.
‎
Pelatihan tersebut diharapkan mendorong peserta membawa pengetahuan baru ke kebun masing-masing serta meningkatkan efisiensi pengelolaan tanaman secara berkelanjutan.
‎
Penguatan kapasitas pekebun menjadi bagian penting untuk mempersempit kesenjangan produktivitas sekaligus memperbesar kontribusi perkebunan rakyat terhadap industri sawit nasional.
‎
Kegiatan secara resmi dibuka Ir Afniwirman, Kadis Perkebunan TPH Sumbar, Ipentri SH, Kabid Perkebunan Dharmasraya, dan Ir Darmansyah Basyaruddin M.Sc.
‎
Pembukaan pelatihan turut dimeriahkan penampilan Tari Indang Bapayuang, menghadirkan sentuhan budaya lokal dalam agenda peningkatan kapasitas pekebun Sumatera Barat tersebut.(waw)