Diam Seribu Bahasa, Suporter PSIM Desak Akses Mandala Krida Dibuka

FAJARLAMPUNG.COM, ‎Jogja – Ribuan pendukung PSIM Yogyakarta menggelar topo bisu mengelilingi Stadion Mandala Krida pada malam 1 Suro, Selasa(16/6/2026) malam, menyuarakan harapan.
‎
Aksi hening tersebut menjadi simbol kegelisahan suporter terhadap nasib PSIM yang belum dapat kembali bermarkas di Mandala.
‎
Tanpa yel-yel dan nyanyian lantang, para peserta memilih berjalan khidmat sambil membawa doa serta harapan bersama.
‎
Mereka menegaskan perjuangan kali ini bukan sekadar soal sepak bola, melainkan menjaga identitas dan kebanggaan kota.
‎
“Mandala Krida adalah rumah kami. Kami ingin PSIM kembali bermain di sini,” ujar sejumlah peserta topo bisu.
‎
Para suporter berharap pemerintah serta pihak terkait segera menemukan solusi terbaik demi mengakhiri ketidakpastian berkepanjangan.
‎
Sebelumnya, aspirasi serupa telah disampaikan melalui mural dan pamflet yang tersebar di berbagai sudut Yogyakarta.
‎
Tulisan “Usut Tuntas Korupsi Mandala Krida” menjadi pesan keras yang ramai menghiasi tembok-tembok kota beberapa waktu.
‎
“Bukan hanya sepak bola, kami ingin keadilan ditegakkan dan persoalan stadion segera diselesaikan,” kata suporter.
‎
Kasus dugaan korupsi pembangunan Mandala Krida mencuat sejak 2022 dan menyeret tiga orang sebagai tersangka.
‎Akibat proses hukum tersebut, Stadion
‎
Mandala Krida berstatus barang bukti sehingga renovasi belum dapat dilakukan.
‎
Kondisi itu berdampak langsung terhadap pemenuhan standar penyelenggaraan kompetisi Liga 1 musim 2026/2027 mendatang.
‎
PSIM Yogyakarta akhirnya harus meninggalkan kandang bersejarahnya dan berpindah menggunakan Stadion Sultan Agung, Bantul.
‎
“Kami tidak lelah bersuara. PSIM harus pulang ke Mandala Krida,” tegas perwakilan suporter dalam aksi.
‎
Topo bisu malam 1 Suro menjadi pengingat bahwa cinta suporter, harapan keadilan, dan marwah PSIM belum padam.(WAW)