Desainer Muda PDIP Sarah Ukir Prestasi, Lolos ke Final Nasional Fatmawati Trophy
FAJARLAMPUNG.COM, Semarang – Sarah Azzahra, desainer muda binaan DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta, mencuri perhatian setelah menembus final nasional Fatmawati Trophy bergengsi di Bali mendatang.
Langkah itu diraih setelah karya Sumbu Kartika sukses menempati tiga besar Kurasi Region 7 yang berlangsung meriah di Semarang, Jawa Tengah akhirnya.
Bersama kontingen Kabupaten Sleman dan Wonosobo, Sarah memastikan tiket final nasional yang dijadwalkan berlangsung di Bali pada Oktober mendatang nanti secara resmi.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta Eko Suwanto menilai prestasi tersebut membuktikan anak muda mampu tampil terdepan ketika diberi kesempatan terbaik maksimal.
“Ini soft campaign dan inspirasi luar biasa, di luar ekspektasi saya,” tegas Eko dalam diskusi Anak Muda dan Dunia Digital, Sabtu tersebut.
Ia menyebut peserta rata-rata berusia di bawah 25 tahun, namun mampu menghasilkan karya berkualitas sekaligus menunjukkan keberanian mengambil panggung nasional bergengsi Indonesia.
“Yang muda bisa berada di depan dan menghasilkan sebuah karya berkualitas,” ujar Eko yang juga Ketua Komisi A DPRD DIY saat ditemui.
Eko menegaskan Fatmawati Trophy bukan sekadar ajang busana atau kebaya, tetapi ruang meresapi sejarah perjuangan Ibu Fatmawati Soekarno secara mendalam bagi generasi.
“Setiap langkah di panggung harus membawa spirit Ibu Fatmawati, Bung Karno, dan Bung Hatta dalam memerdekakan Republik ini,” tuturnya dengan tegas, jelas.
Menurut Eko, capaian fesyen tersebut harus dikembangkan menjadi ekosistem industri kreatif terintegrasi, mencakup tata busana, perias pengantin, hingga event organizer lokal berkelanjutan.
“Menjelang Bali, kami ingin membuat pameran outdoor di tempat bersejarah Yogya sebagai wadah latihan dan berekspresi anak muda,” cetusnya penuh optimisme.
Rancangan Sumbu Kartika memadukan tiga filosofi kearifan lokal, yakni Akar, Nyala, dan Cahaya, yang diterjemahkan melalui bahasa desain kontemporer penuh makna kuat.
Konsep tersebut kemudian berpadu dengan motif Batik Nitik, warisan budaya sejak abad ke-18 sekaligus indikasi geografis khas Daerah Istimewa Yogyakarta yang bernilai.
“Persiapannya cukup singkat, sekitar satu bulan. Motif saya buat seperti pantulan cahaya, merepresentasikan sosok Ibu Fatmawati,” ujar Sarah kepada wartawan tersebut.
Sarah juga memadukan Batik Nitik menggunakan teknik titik-titik khas Yogyakarta, sehingga rancangan tetap kuat secara budaya sekaligus tampil modern dan elegan semakin.
Karya tersebut diperagakan model belia, termasuk Desvi Erinda, yang mengaku bangga membawa pesan perjuangan melalui penampilan di atas panggung nasional bergengsi nasional.
“Semoga Mbak Sarah bisa merevisi dan menyempurnakan detail desain agar memberikan hasil terbaik dan menang di tingkat nasional,” ungkap Desvi penuh harapan.(waw)

