Demi Keselamatan Publik, Sultan Minta Detail Proyek DPRD DIY Rp307 Miliar Dikaji Ulang

FAJARLAMPUNG.COM, ‎JOGJA – Gedung baru DPRD DIY di Jalan Kenari kini mencapai progres 81,7 persen dengan pembangunan terus dikebut menjelang target penyelesaian akhir tahun mendatang.

‎Bangunan senilai Rp307 miliar itu tampil megah, sementara eskalator, lift, serta fasad putih khas Yogyakarta telah terpasang semakin rapi dan menarik.

Sri Sultan Hamengku Buwono X meninjau langsung proyek tersebut sambil memberikan berbagai catatan penting kepada pelaksana pembangunan dan jajaran terkait.

“Bangunan megah harus tetap mengutamakan keselamatan masyarakat,” pesan Sultan saat menyoroti berbagai detail konstruksi yang masih memerlukan penyempurnaan demi kenyamanan bersama.

Sultan mengingatkan material tangga berbahan marmer berpotensi licin sehingga membahayakan pengunjung, terutama perempuan bersepatu hak tinggi maupun kalangan lanjut usia.

“Kalau wanita memakai sepatu hak dan berkain, itu berbahaya,” tegas Sultan sambil meminta pemasangan handrail pada kedua sisi tangga segera dilakukan.

Menurut Sultan, fasilitas keselamatan bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan utama agar seluruh masyarakat merasa aman ketika mengakses seluruh area gedung tersebut.

Sultan juga menilai lengkungan bagian luar gedung masih terkesan kaku sehingga meminta sentuhan artistik agar tidak menyerupai benteng yang tertutup bagi rakyat.

“Gedung DPRD harus terasa terbuka dan ramah untuk masyarakat,” ujar Sultan, menekankan filosofi pelayanan publik melalui desain bangunan yang lebih bersahabat.

Perhatian Sultan juga tertuju pada ruang rapat dewan yang harus dirancang berdasarkan kebutuhan gerak manusia, bukan sekadar perhitungan kapasitas di atas kertas.

“Hitung ruangnya secara nyata agar semua nyaman bergerak,” pesan Sultan kepada tim perencana sekaligus memastikan fungsi ruangan benar-benar optimal nantinya.

Sekretaris DPRD DIY Yudi Ismono menjelaskan nilai proyek meningkat dari Rp293 miliar menjadi Rp307 miliar karena adanya penambahan fasilitas publik pendukung.

“Penambahan anggaran bukan akibat kenaikan harga material,” kata Yudi, melainkan pembangunan pedestrian selebar 1,8 meter serta pagar keliling kawasan gedung tersebut.

Yudi memastikan seluruh pengadaan fasilitas utama telah direncanakan lebih awal sehingga proyek tidak terdampak gejolak ekonomi maupun dinamika perdagangan global belakangan ini.

“Lift dan eskalator sudah kami siapkan sejak Desember 2025,” ujar Yudi, sehingga tidak terjadi pembengkakan biaya akibat kondisi ekonomi dunia berubah.

Gedung empat lantai lengkap dengan basemen itu diharapkan menjadi pusat kegiatan legislatif yang modern, aman, nyaman, serta semakin berpihak kepada masyarakat Yogyakarta.

“Kami menargetkan gedung mulai ditempati Januari hingga Februari 2027,” tutup Yudi, optimistis seluruh penyelesaian proyek berjalan sesuai rencana dan harapan masyarakat. (lsi)