Dari Pos Satpam ke Gelar Doktor: Perjalanan Agung Sulistyo Menembus Batas Pendidikan

FAJARLAMPUNG.COM, Langkah kaki Dr. Agung Sulistyo, S.E., M.M., CHE, saat menaiki panggung wisuda di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Kamis (11/6) lalu, membawa serta memori masa lalunya. Tidak banyak yang menyangka, doktor baru dari Program Doktor Manajemen UMY ini dulunya harus membagi waktu antara berjaga malam di pos keamanan dan menuntaskan tugas-tugas kuliahnya.

Lahir dari keluarga sederhana di Tangerang, Agung tumbuh dengan orang tua yang bekerja sebagai buruh. Setelah lulus Sekolah Menengah Teknik (STM) jurusan Teknik Gambar Bangunan pada 2002, ia sempat mencoba mengikuti seleksi TNI dan Polri sesuai harapan ayahnya. Namun jalan hidup membawanya ke arah yang berbeda.

Pada 2005, Agung datang ke Yogyakarta sebagai relawan. Dari sanalah ia mulai mengenal dunia pendidikan lebih dekat. Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 2008, ia memperoleh pekerjaan pertamanya sebagai tenaga keamanan atau satpam di salah satu media massa terkenal di Yogyakarta, Harian Kedaulatan Rakyat.

“Sebagai satpam, saya tidak pernah membayangkan bisa sampai di titik ini,” ungkap Agung saat ditemui usai prosesi wisuda UMY, Kamis (11/06).

Tujuh tahun setelah lulus STM, Agung mengambil keputusan penting dalam hidupnya. Pada 2009, ia mendaftar kuliah kelas karyawan di salah satu sekolah tinggi ilmu ekonomi di Yogyakarta. Keputusan itu diambil di tengah keterbatasan ekonomi dan tuntutan pekerjaan yang harus tetap dijalankan.

Saat banyak orang memilih menyerah pada keadaan, Agung justru menjadikan pendidikan sebagai jalan perjuangan. Setiap bulan ia menyisihkan sebagian gajinya untuk membayar biaya kuliah secara mencicil.

“Tantangan terbesar waktu itu adalah membagi waktu antara pekerjaan, kuliah, dan mengerjakan tugas. Kalau sedang jaga malam, setelah kuliah saya langsung ke tempat kerja, lalu mengerjakan tugas di pos satpam sampai pagi,” kenangnya.

Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Ia berhasil menyelesaikan studi sarjana pada 2013. Namun langkahnya tidak berhenti di sana. Karena merasa masih memiliki kesempatan untuk belajar, ia melanjutkan pendidikan magister dan lulus pada 2015.

Titik balik hidup Agung datang setelah menikah pada 2014. Sang istri menjadi sosok yang membuka cakrawala berpikirnya. Dari dorongan istri pula, Agung mulai mempertimbangkan profesi yang sebelumnya tidak pernah terlintas dalam pikirannya: menjadi dosen.

“Saya tidak pernah membayangkan menjadi pengajar. Tapi istri saya terus mendorong dan membuka cara pandang baru tentang masa depan,” tuturnya.

Kesempatan itu akhirnya datang ketika ia diterima sebagai dosen di Sekolah Tinggi Pariwisata di Yogyakarta pada 2015. Dari seorang satpam yang bertugas menjaga keamanan, Agung bertransformasi menjadi pendidik yang membimbing mahasiswa.

Sebagai dosen, ia merasa perlu terus meningkatkan kapasitas keilmuan. Pilihannya kemudian jatuh pada Program Doktor Manajemen UMY. Menurutnya, rekomendasi para dosen pembimbing saat menempuh studi sebelumnya menjadi alasan utama memilih UMY sebagai tempat melanjutkan pendidikan.

Meski telah menjadi dosen, perjuangan menempuh pendidikan doktor tetap bukan perkara mudah. Ia harus membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan studi. Namun pengalaman hidup yang keras sejak muda membuatnya terbiasa menghadapi tantangan.

“Orang tua saya mendidik dengan disiplin yang tinggi. Mungkin itu yang membentuk mental saya untuk tidak mudah menyerah,” katanya.

Bagi Agung, pendidikan bukan sekadar gelar akademik. Ia menyebut salah satu doa yang paling sering dipanjatkannya sejak masih menjadi satpam adalah memohon agar Allah mengangkat derajatnya melalui ilmu pengetahuan.

Doa itu kini terjawab. Dari seorang tenaga keamanan, ia berhasil menyelesaikan pendidikan doktoral dan menjadi bagian dari dunia akademik. Namun menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari dukungan banyak pihak, mulai dari orang tua, istri, dosen pembimbing, hingga rekan kerja yang selalu memberinya ruang untuk berkembang.

“Lingkungan yang baik sangat berpengaruh. Saya beruntung berada di lingkungan yang mendukung dan percaya bahwa saya bisa maju,” ujarnya.

Kepada generasi muda, Agung berpesan agar tidak takut bermimpi besar meski berasal dari latar belakang sederhana. Baginya, mimpi adalah bahan bakar yang membuat seseorang terus bergerak maju.

“Saya selalu bilang kepada mahasiswa, jangan takut bermimpi tinggi. Kalau pun jatuh, kita tidak akan jatuh terlalu jauh dari apa yang kita impikan,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa setiap orang memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak. Berbagai peluang beasiswa dan dukungan pendidikan saat ini, menurutnya membuka jalan yang lebih luas bagi siapa pun yang ingin belajar.

Menutup kisahnya, Agung menyampaikan pesan sederhana yang selama ini ia tanamkan kepada dirinya sendiri ketika menghadapi masa-masa sulit.

“Sabar, kuatkan mental, semua akan ada waktunya. Saya pernah menjadi satpam dan tidak tahu masa depan saya seperti apa. Tapi ternyata usaha-usaha baik yang terus dilakukan akan menemukan jalannya sendiri,” tuturnya.

Kini, setelah resmi menyandang gelar doktor, Agung bertekad melanjutkan pengabdian sebagai dosen melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ia berharap kisah perjalanannya dapat menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Sebab bagi Agung Sulistyo, pendidikan telah membuktikan satu hal: jalan hidup seseorang tidak ditentukan oleh dari mana ia memulai, melainkan oleh keberanian untuk terus melangkah. (Jeed)