Dari Gotong Royong, Warga Bantul Wujudkan Asrama Yatim

FAJARLAMPUNG.COM, BANTUL – Semangat gotong royong warga Gerjen, Pleret, Bantul, terus menyala melalui pembangunan asrama bagi anak yatim piatu dan kaum dhu’afa secara swadaya bersama warga.
‎
Bangunan dua lantai tersebut berdiri di atas tanah wakaf almarhumah Hj. Rukinem Suwandi, menjadi tumpuan pengasuhan puluhan anak penerima manfaat secara berkelanjutan.
‎
Fasilitas itu dibangun Yayasan Anak Yatim Piatu dan Dhu’afa Uswatun Khasanah bersama tokoh masyarakat, relawan, serta donatur yang bergerak sukarela untuk kemanusiaan bersama.
‎
Gerakan kemanusiaan tersebut memiliki sejarah panjang, sebagaimana tercatat dalam prasasti pendirian yayasan tertanggal 17 September 2015 di wilayah
‎
Pleret dan sekitarnya hingga kini.
‎Para pendiri meliputi Hj. Rukinem Suwandi, Setyadi, KPH. Ir. Nurdiantoro Darmaningrat, serta H. Rusman yang berkomitmen memperluas manfaat sosial bagi masyarakat sekitar.
‎
Di lapangan, Bondan Supriyanto, anggota SAR DIY, turut aktif mengawal kegiatan kemanusiaan, mendampingi relawan, dan memastikan berbagai program berjalan bersama secara konsisten bersama warga.
‎
Awalnya, gerakan tersebut lahir dari kepedulian terhadap anak-anak yang kehilangan orang tua setelah bencana gempa bumi melanda kawasan setempat dan sekitarnya secara luas.
‎
Pengurus kemudian mengasuh 13 anak yatim piatu di lingkungan sekitar, sebelum pelayanan sosial berkembang melalui dukungan warga dan relawan secara bertahap hingga sekarang.
‎
Perkembangan itu semakin kuat melalui sinergi dengan warga perkumpulan Minggu Wage Kampung Tambalan RT 06, yang ikut memperluas jangkauan pengasuhan hingga kini bersama.
‎
Saat ini, yayasan membina 42 anak yatim internal dan berkolaborasi dengan HIMATU Pleret, sehingga total penerima pengasuhan mencapai 54 anak secara keseluruhan hingga kini.
‎
Selain anak yatim, kegiatan sosial tersebut juga menyantuni sekitar 60 kaum dhu’afa yang membutuhkan perhatian dan dukungan masyarakat setempat secara berkelanjutan setiap waktu.
‎
Untuk menghadirkan hunian representatif, pengurus memanfaatkan tanah wakaf Hj. Rukinem Suwandi sebagai lokasi pembangunan asrama dua lantai yang terpusat dan layak digunakan.
‎
Pembangunan fisik asrama telah dimulai sejak 2018, mengandalkan pendanaan swadaya, dukungan relawan, dan kepedulian donatur yang tergerak membantu secara sukarela bersama warga.
‎
Meski berjalan perlahan karena keterbatasan dana, pengurus tetap menjaga komitmen untuk membangun fasilitas tanpa mengajukan proposal bantuan formal kepada pihak manapun secara khusus.
‎
Pak Bondan mengungkapkan, “Prinsip kami murni untuk kemanusiaan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kami tidak mematok target atau mengajukan proposal bantuan.”
‎
“Jika ada dermawan yang tergerak membantu secara sukarela, baik berupa material bangunan maupun dukungan operasional, kami sangat terbuka,” ungkap Pak Bondan kepada relawan.
‎
Menurut pengurus, bantuan sukarela menjadi bentuk kemitraan kemanusiaan yang menjaga semangat kebersamaan, sekaligus mempercepat terwujudnya fasilitas layak bagi anak penerima manfaat.
‎
Selain asrama, jaringan pendiri dan relawan juga menjalankan Program Bedah Rumah untuk membantu warga kurang mampu memperoleh hunian lebih layak dan sehat bagi keluarga.
‎
Hingga kini, sebanyak 18 rumah warga kurang mampu telah direhabilitasi melalui gotong royong relawan SAR dan RAPI bersama donatur secara bertahap di lapangan.
‎
Program tersebut mendapat dukungan Antoni Sudarsono Group, sehingga perbaikan rumah dapat dilakukan bertahap sesuai kebutuhan dan kondisi warga penerima manfaat di lapangan bersama relawan.
‎
“Dari keterbatasan dana tidak menjadi penghalang untuk menebar kebaikan,” menjadi semangat relawan dalam menjalankan berbagai aksi sosial bagi masyarakat setempat secara konsisten bersama-sama.
‎
Dari tanah wakaf hingga kerja sukarela, warga Bantul terus menumbuhkan harapan bagi puluhan anak yatim dan kaum dhu’afa melalui gotong royong bersama masyarakat.(waw)