Belajar Dakwah di Negeri Sakura, Mahasiswa KPI UMY Jalani Magang Internasional di Japan Da’wah Centre
FAJARLAMPUNG.COM, Jepang – Pengalaman berdakwah di tengah masyarakat dengan latar budaya yang berbeda menjadi kesempatan berharga bagi tiga mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Melalui program magang internasional di Japan Da’wah Centre (JDC), Osaka, Jepang, mereka berkesempatan mempelajari secara langsung praktik komunikasi dakwah di Jepang, negara dengan populasi muslim yang relatif minoritas.
Ketiga mahasiswa tersebut adalah Muhammad Hilmi Hudaifa, Atif Ahmad Rifai, dan Desi Aulia. Mereka merupakan peserta angkatan kedua program magang KPI UMY di JDC yang berlangsung pada 14 Oktober hingga 11 November 2026.
Selama menjalani program, ketiganya terlibat dalam berbagai aktivitas yang berkaitan dengan pengelolaan media dan komunikasi dakwah digital. Penugasan mereka juga mencakup pelayanan penerimaan mualaf, penyambutan tamu muslim maupun nonmuslim, hingga kepanitiaan kegiatan seperti Kids Expo dan persiapan peresmian Masjid JDC di Prefektur Wakayama.
Bagi Muhammad Hilmi Hudaifa, kesempatan tersebut menjadi pengalaman yang telah lama ingin diwujudkan. Ketertarikannya terhadap budaya Jepang mendorong rasa ingin tahu lebih jauh mengenai kehidupan masyarakat muslim minoritas dan bagaimana dakwah dijalankan di tengah lingkungan sosial yang berbeda.
Pengalaman tinggal dan beraktivitas di Jepang memberinya perspektif baru. Ia melihat sejumlah kebiasaan masyarakat setempat, seperti menjaga kebersihan, keteraturan, dan kedisiplinan, yang menurutnya memiliki keselarasan dengan nilai-nilai Islam.
“Pengalaman ini memberikan kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana dakwah dilakukan di negara dengan masyarakat muslim minoritas. Kami juga belajar memahami budaya dan kebiasaan masyarakat setempat,” ungkap Hilmi saat diwawancarai secara daring pada Jum’at (30/10).
Belajar Beradaptasi dengan Budaya dan Kebiasaan Masyarakat Jepang
Di balik pengalaman internasional tersebut, proses adaptasi menjadi tantangan tersendiri bagi para mahasiswa. Atif Ahmad Rifai dan Desi Aulia mengungkapkan sejumlah perbedaan yang mereka temui selama berada di Jepang, mulai dari kebutuhan makanan halal hingga aturan kehidupan sehari-hari.
Ketersediaan makanan halal menjadi salah satu tantangan, terutama karena makanan yang memiliki sertifikasi halal cenderung lebih mahal. Selain itu, mereka perlu menyesuaikan diri dengan regulasi transportasi, termasuk aturan penggunaan sepeda dan ketertiban berlalu lintas.
Kebiasaan masyarakat Jepang dalam menjaga ketenangan ruang publik juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Mahasiswa harus membiasakan diri untuk tidak membuat kebisingan di area umum.
“Kalau di Jepang itu, aturan privasi masyarakat setempat cukup ketat, terutama dalam pengambilan foto dan video apalagi yang melibatkan anak-anak” ucap Athif.
Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting bagi mahasiswa KPI, khususnya dalam memahami etika komunikasi visual dan produksi konten di lingkungan lintas budaya. Mereka dituntut tidak hanya mampu menghasilkan dokumentasi, tetapi juga memahami batasan sosial dan privasi masyarakat yang menjadi objek dokumentasi.
Di sisi lain, fasilitas pejalan kaki dan tingkat keamanan lingkungan menjadi hal positif yang mereka rasakan selama berada di Jepang. Kondisi tersebut turut membantu mahasiswa menjalani aktivitas harian dengan lebih nyaman.
Tantangan Bahasa dan Komunikasi Lintas Budaya
Hambatan lain yang dirasakan adalah komunikasi lintas bahasa. Hilmi menyampaikan bahwa penggunaan bahasa Inggris dalam interaksi sehari-hari dengan sebagian masyarakat lokal masih cukup terbatas. Kondisi ini membuat mereka perlu mencari cara lain agar komunikasi tetap berjalan.
Untuk mengatasi kendala tersebut, mahasiswa menggunakan bahasa isyarat sederhana serta mempelajari ungkapan dasar bahasa Jepang. Kemampuan ini dibutuhkan terutama ketika beraktivitas di tempat umum, seperti stasiun kereta, minimarket, dan restoran.
“Kami akhirnya banyak pakai bahasa isyarat saat berkomunikasi di toko, stasiun, restoran. Untungnya mereka cukup memahami maksud kami”, jelas Hilmi.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa komunikasi dakwah tidak cukup hanya mengandalkan penguasaan materi keagamaan. Kemampuan memahami konteks budaya, membaca situasi, serta membangun komunikasi dengan pendekatan yang sesuai juga menjadi bekal penting, terutama ketika berhadapan dengan masyarakat yang memiliki latar bahasa dan budaya berbeda.
Menyiapkan Kompetensi untuk Peluang Internasional
Memasuki penghujung masa magang, para mahasiswa masih memiliki sejumlah agenda yang akan dijalankan. Di antaranya kunjungan ke sekolah pada 4 November 2026, pengenalan budaya Keraton Yogyakarta pada 8 November 2026, serta kegiatan pengajaran mengaji rutin setiap Sabtu.
Pengalaman di Jepang juga membuka wawasan mereka mengenai peluang karier internasional. Hilmi menyebut skema visa kerja profesional atau Gijinkoku sebagai salah satu jalur yang dapat dipelajari oleh mahasiswa yang tertarik membangun karier di Jepang.
Dari pengalaman tersebut, ia menilai terdapat sejumlah kompetensi yang perlu dipersiapkan oleh mahasiswa yang ingin mengikuti program magang serupa. Kemampuan penyuntingan video, riset cepat, serta penguasaan bahasa Jepang menjadi keterampilan yang dinilai penting untuk menunjang pelaksanaan tugas di lapangan.
Bagi mahasiswa KPI UMY, magang internasional di Japan Da’wah Centre bukan hanya kesempatan mengenal kehidupan di luar negeri. Program ini menjadi ruang pembelajaran untuk menguji kemampuan komunikasi, mengembangkan keterampilan produksi media, sekaligus memahami praktik dakwah dalam lingkungan masyarakat multikultural.
Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi komunikasi dan penyiaran Islam yang lebih adaptif, terbuka, serta mampu menjangkau masyarakat lintas budaya.(lsi)
Sumber : Humas Umy

