Bawaslu Yogyakarta Libatkan MPK dalam Gerakan Demokrasi dan Pengawasan Muda

FAJARLAMPUNG.COM, ‎Jogja- Bawaslu Kota Yogyakarta membekali puluhan pelajar untuk memahami demokrasi sekaligus mengawasi prosesnya melalui program pendidikan partisipatif di sekolah secara langsung aktif.
‎
Sebanyak 79 pengurus Majelis Perwakilan Kelas dari 18 SMA dan SMK Negeri se-Kota Yogyakarta mengikuti kegiatan Training of Trainers tersebut dengan antusias.
‎
Kegiatan berlangsung Kamis (24/09/2026), dengan tujuan mencetak pelajar yang mampu menjadi agen pengawasan partisipatif serta penggerak demokrasi di lingkungan sekolah masing-masing di sekolah.
‎
Ketua Bawaslu Kota Yogyakarta Andie Kartala menegaskan demokrasi perlu dipraktikkan sejak usia sekolah melalui berbagai aktivitas yang dekat dengan kehidupan pelajar sehari-hari bersama peserta.
‎
Menurut Andie, MPK memiliki posisi strategis sebagai wadah pembelajaran kepemimpinan, ruang dialog, sekaligus tempat mengambil keputusan secara jujur dan berintegritas bersama warga sekolah.
‎
“Sekolah bisa menjadi laboratorium demokrasi, tempat siswa belajar bagaimana proses demokrasi berjalan dengan jujur dan adil,” ujar Andie dalam kegiatan tersebut.
‎
Ia menjelaskan demokrasi tidak hanya berlangsung ketika pemilu digelar atau berada di gedung parlemen, tetapi tumbuh melalui praktik keseharian sekolah dan organisasi siswa.
‎
Materi pertama disampaikan Siti Nurhayati, Koordinator Divisi Hukum, Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat Bawaslu Kota Yogyakarta kepada peserta dalam sesi pelatihan.
‎
Siti mengangkat tema “Sekolah sebagai Laboratorium Demokrasi: Tahu & Awasi” dengan menjadikan Pemilu OSIS sebagai miniatur demokrasi bagi pelajar di lingkungan sekolah.
‎
Menurut Siti, Pemilu OSIS mengajarkan proses, aturan, tanggung jawab, sekaligus pentingnya keterlibatan pelajar dalam menjaga demokrasi di lingkungan sekolah bertanggung jawab.
‎
Para peserta kemudian dikenalkan empat langkah pengawasan partisipatif, yakni lihat, pahami, cek, dan tindak saat menghadapi berbagai informasi yang beredar secara kritis.
‎
Mereka juga diajak kritis terhadap hoaks, kampanye hitam, serta informasi belum terverifikasi yang beredar melalui lingkungan sekolah maupun media sosial sehari-hari yang beredar.
‎
Siti menekankan ruang digital kini menjadi bagian penting pengawasan karena pelajar aktif berinteraksi dan menerima informasi melalui media sosial setiap hari secara kritis.
‎
Selanjutnya, Andie Kartala menyampaikan materi “Dari MPK Menjadi Penggerak Demokrasi” untuk mendorong pelajar memperluas peran organisasi di sekolah secara nyata kini.
‎
Andie menegaskan, “MPK harus menjadi motor yang menghidupkan semangat demokrasi di sekolah,” bukan sekadar struktur organisasi formal atau penyelenggara kegiatan rutin setiap hari.
‎
Menurut Andie, pelajar harus mampu mengidentifikasi persoalan, membangun kolaborasi, melakukan aksi nyata, kemudian membagikan praktik baik kepada seluruh warga sekolah lainnya secara nyata.
‎
Materi penutup disampaikan Jantan Putra Bangsa dengan tema “BERTINDAK! Ketika Masalah Muncul, Apa yang Harus Dilakukan?” melalui simulasi dugaan kecurangan.
‎
Jantan melatih peserta membedakan fakta dan dugaan, memeriksa bukti, mendengar seluruh pihak sebelum menilai, serta menentukan tindak lanjut secara adil dan transparan.
‎
“Tugas pengawas bukan mencari siapa yang harus dihukum, melainkan menjaga agar proses demokrasi tetap berjalan jujur, setara, dan berintegritas,” tegasnya kepada peserta.
‎
Antusiasme peserta terlihat dalam diskusi ketika mereka membahas kampanye hitam, informasi belum terverifikasi, serta pentingnya menjaga netralitas penyelenggara Pemilos di sekolah tetap bersama.(waw)