Bakesbangpol DIY Bergerak Cepat bentengi Anak dari Ancaman Paham Radikal

FAJARLAMPUNG.COM, Sleman – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) DIY mengajak masyarakat memperkuat toleransi, merawat kebhinekaan, dan mencegah radikalisme sejak dini.
‎
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan penguatan Bhinneka Tunggal Ika di Ruang Wacana Loka, Kalurahan Condongcatur, Depok, Sleman, Selasa (13/10/2026).
‎
Sekitar 50 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka diajak membangun persatuan sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap intoleransi, radikalisme, dan penyebaran paham kekerasan melalui media digital.
‎
Tiga narasumber hadir, yakni anggota Komisi A DPRD DIY Satia Rahayu, perwakilan Satgaswil DIY Densus 88 Antiteror Polri Ipda Bagus, dan peneliti Pusat Studi Pancasila UGM Diasma Sandi Swandaru.
‎
Pelaksana Tugas Lurah Condongcatur, Budi Arto, menilai penguatan wawasan kebangsaan semakin penting ketika masyarakat menghadapi derasnya arus informasi dan beragam perbedaan.
‎
“Saya berharap kita semua semakin memahami pentingnya sikap toleransi, saling menghormati, gotong royong, serta menjaga kerukunan di tengah masyarakat,” ujar Budi.
‎
Ia juga mengingatkan warga agar tidak mudah terprovokasi informasi menyesatkan yang berpotensi merusak hubungan sosial dan memicu perselisihan antarmasyarakat.
‎
“Mari kita hindari segala bentuk perpecahan, berita bohong, dan sikap intoleransi yang dapat merusak persaudaraan,” tegasnya.
‎
Menurut Budi, nilai Pancasila harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar menjadi slogan dalam kegiatan formal maupun peringatan kebangsaan.
‎
“Marilah kita terus menjaga suasana yang aman, damai, harmonis, dan menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila,” ajaknya.
‎
Anggota Komisi A DPRD DIY, Satia
‎Rahayu, menegaskan persatuan Indonesia hanya dapat terpelihara ketika masyarakat menghargai perbedaan suku, agama, bahasa, adat istiadat, dan budaya.
‎
Ia mengingatkan falsafah Jawa, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, sebagai pedoman menghormati norma dan tradisi lingkungan tempat seseorang tinggal.
‎
Satia juga menyoroti bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang menyatukan masyarakat di tengah kekayaan bahasa daerah. Semangat tersebut ditegaskan melalui Sumpah Pemuda 1928.
‎
Sementara itu, Ipda Bagus mengangkat tema pencegahan radikalisasi dan kekerasan terhadap anak. Ia mengingatkan ancaman konten ekstrem di berbagai platform digital.
‎
“Anak-anak dan remaja menjadi kelompok yang memerlukan perhatian khusus karena berada pada fase pencarian jati diri dan memiliki akses luas terhadap informasi digital,” ungkapnya.
‎
Ia menyebut perundungan, konflik keluarga, lemahnya komunikasi orang tua-anak, serta paparan kebencian berulang sebagai sejumlah faktor kerentanan yang perlu diwaspadai.
‎
Paparan tersebut juga menyinggung kasus seorang anak berusia 15 tahun di DIY yang teridentifikasi merencanakan penyerangan terhadap sekolah pada April 2026.
‎
Kasus itu menjadi pengingat pentingnya pencegahan sejak dini. Orang tua diminta mendampingi aktivitas digital anak, mengenali lingkungan pergaulan, dan memperhatikan perubahan perilaku.
‎
Pendampingan, kata dia, perlu disertai komunikasi terbuka tanpa menghakimi. Keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah harus bekerja bersama membangun perlindungan terhadap anak.
‎
Peneliti Pusat Studi Pancasila UGM, Diasma Sandi Swandaru, menegaskan toleransi perlu ditanamkan melalui keteladanan keluarga, interaksi sosial, dan pendidikan sekolah.
‎
Menurut Diasma, anak belajar menghormati perbedaan bukan hanya dari nasihat, tetapi terutama dari perilaku orang dewasa yang mereka saksikan setiap hari.
‎
“Toleransi tidak boleh berhenti sebagai ucapan, slogan, atau simbol seremonial. Toleransi harus diwujudkan dalam tindakan nyata,” ujarnya.
‎
Ia mencontohkan tindakan tersebut melalui penghormatan terhadap keyakinan orang lain, penolakan diskriminasi, kerja sama, kepedulian sosial, dan pemberian kesempatan setara.
‎
“Persatuan tidak dibangun dengan menghapus perbedaan, melainkan dengan membiasakan diri hidup bersama, saling menghormati, dan bekerja sama di tengah perbedaan,” tegas Diasma.
‎
Melalui kegiatan ini, Bakesbangpol DIY berharap masyarakat Condongcatur semakin aktif merawat kerukunan, menangkal intoleransi, dan menjadi teladan dalam mengamalkan Pancasila.
‎
Semangat Bhinneka Tunggal Ika harus tumbuh dari keluarga, menguat di lingkungan masyarakat, dan berlanjut melalui pendidikan agar generasi muda mampu menjaga persatuan Indonesia.(ady)
‎