Aksi Mahasiswa UMY dan UII di DPRD DIY: Soroti Program MBG dan Desak Pelanggaran HAM Dituntaskan

‎FAJARLAMPUNG.COM, Jogja – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD DIY, Selasa (20/10/2026).
‎
‎Mereka menyuarakan tujuh tuntutan kepada pemerintah, mulai evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), tata kelola subsidi BBM, hingga penuntasan kasus pelanggaran HAM berat.
‎
‎Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan aspirasi melalui orasi di depan gedung dewan sebelum bergerak menuju kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
‎
‎Massa menilai sejumlah kebijakan publik perlu dievaluasi secara menyeluruh, terutama menyangkut transparansi program pemerintah, efisiensi anggaran, serta perlindungan hak masyarakat.
‎
‎Salah satu tuntutan mereka adalah evaluasi total penanggulangan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, disertai percepatan pemulihan masyarakat terdampak.
‎
‎Mahasiswa juga mendesak pemerintah memberlakukan moratorium dan mengevaluasi program strategis nasional, terutama MBG serta Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).
‎
‎Mereka meminta pelaksanaan kedua program tersebut dilakukan secara transparan, sehingga masyarakat dapat mengawasi kebijakan, penggunaan anggaran, dan manfaatnya.
‎
‎Tuntut Transparansi Subsidi BBM
‎
‎Dalam tuntutan ketiga, massa mendesak pemerintah memperjelas regulasi pengadaan, tata kelola, serta distribusi bahan bakar minyak bersubsidi di seluruh Indonesia.
‎
‎Mereka menekankan pentingnya transparansi agar penyaluran subsidi BBM memiliki aturan jelas dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
‎
‎Mahasiswa turut menyoroti pola komunikasi pemerintah, khususnya Presiden, yang mereka nilai perlu mengedepankan penghormatan terhadap rakyat dan keterbukaan informasi.
‎
‎Menurut tuntutan massa, komunikasi pemimpin dengan masyarakat seharusnya dibangun melalui sikap saling menghormati, bukan pernyataan yang dianggap merendahkan.
‎
‎Desak Kabinet Ramping dan Hentikan Militerisme
‎
‎Tuntutan berikutnya menyasar struktur kabinet pemerintahan. Mahasiswa mendesak restrukturisasi dan perampingan kabinet yang mereka nilai terlalu gemuk.
‎
‎Mereka menilai langkah tersebut diperlukan untuk mendorong efisiensi birokrasi sekaligus memastikan penggunaan anggaran negara berjalan lebih efektif.
‎
‎Massa juga mendesak penghentian militerisme di ranah sipil, terutama keterlibatan militer dalam urusan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat sipil.
‎
‎Tuntutan tersebut menempatkan pembatasan peran militer dalam urusan sipil sebagai salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian pemerintah.
‎
‎Desak Pengadilan atas 13 Peristiwa HAM
‎
‎Pada tuntutan ketujuh, mahasiswa meminta penegakan proses peradilan HAM terhadap 13 peristiwa pelanggaran HAM berat masa lalu.
‎
‎Mereka menekankan pentingnya penyelesaian kasus melalui proses hukum agar penegakan keadilan dan pertanggungjawaban atas pelanggaran HAM tidak terabaikan.
‎
‎Setelah menyampaikan orasi di depan Gedung DPRD DIY, massa melanjutkan aksi menuju Titik Nol Kilometer Yogyakarta sebagai bagian rangkaian demonstrasi.
‎
‎Tujuh tuntutan tersebut mencakup persoalan lingkungan, program strategis nasional, subsidi energi, komunikasi pemerintah, birokrasi, peran militer, hingga penegakan HAM.
‎
‎Aksi mahasiswa UMY dan UII itu menjadi ruang penyampaian aspirasi publik mengenai berbagai kebijakan yang mereka nilai membutuhkan evaluasi dan pertanggungjawaban pemerintah.(lsi)