Ahmad Syauqi Dorong Masjid Berperan Aktif Perkuat Ekonomi Warga

‎FAJARLAMPUNG.COM, Jogja – Anggota DPD RI Ahmad Syauqi Soeratno mendorong masjid memperkuat pemberdayaan ekonomi dan solidaritas sosial melalui Sosialisasi
‎Empat Pilar Kebangsaan di Yogyakarta secara konsisten berkelanjutan.
‎
Kegiatan bersama Dewan Masjid Indonesia Wilayah DIY itu berlangsung di Aula Gedung DPD RI Provinsi DIY, Rabu (1/10), di tengah masyarakat secara konsisten berkelanjutan.
‎
Forum tersebut mempertemukan pimpinan DMI DIY, pengurus masjid, pegiat masjid, tokoh masyarakat, dan akademisi dari berbagai wilayah Yogyakarta untuk berdialog untuk memperkuat peran masjid.
‎
Ahmad Syauqi menegaskan, sila pertama Pancasila harus menjadi kompas moral dalam menjalankan kehidupan sosial, ekonomi, dan kebangsaan secara nyata bagi kehidupan masyarakat Yogyakarta luas.
‎
“Sila pertama menjadi kompas moral sekaligus ruh yang menggerakkan kita dalam menjalankan setiap aktivitas,” ujar Ahmad Syauqi Soeratno dalam kegiatan tersebut bermasyarakat dan berbangsa.
‎
Menurutnya, nilai ketuhanan tidak cukup diwujudkan melalui ibadah personal, tetapi harus diterjemahkan menjadi kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, serta kemaslahatan bersama di tengah masyarakat langsung.
‎
Karena itu, Ahmad Syauqi melihat masjid memiliki potensi besar sebagai institusi sosial yang mampu menggerakkan berbagai aktivitas bermanfaat bagi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan warga.
‎
“Masjid memiliki modal sosial yang sangat besar. Ada jamaah, ada pengurus, ada jejaring, dan ada kepercayaan masyarakat,” katanya untuk kepentingan masyarakat lebih luas.
‎
Ahmad Syauqi menyebut sedikitnya enam peran strategis masjid, yakni ruang ibadah, pendidikan dan literasi, advokasi, pemberdayaan, ekonomi, serta solidaritas sosial dapat diperkuat secara berkelanjutan.
‎
Sebagai ruang pendidikan, masjid dapat mengembangkan kajian keagamaan sekaligus memperkuat literasi sosial, kebangsaan, ekonomi, digital, dan pengetahuan sesuai kebutuhan sesuai perkembangan zaman saat ini.
‎
Masjid juga dapat menjalankan fungsi advokasi dengan mendengar persoalan warga, mengidentifikasi kebutuhan, menyuarakan aspirasi, serta membangun jejaring untuk mencari solusi bersama berbagai pihak terkait.
‎
Pada sektor pemberdayaan, masjid didorong meningkatkan kapasitas warga melalui pelatihan keterampilan, pengembangan usaha, pendampingan kelompok rentan, dan berbagai program kemandirian untuk membangun kemandirian warga.
‎
“Kalau seluruh potensi itu dikelola dengan baik, masjid dapat menjadi pusat pemberdayaan yang memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitarnya,” kata Ahmad bagi masyarakat sekitar.
‎
Ahmad Syauqi juga menyoroti masjid sebagai ruang hidup bagi semangat Bhinneka Tunggal Ika karena mempertemukan warga dari berbagai latar belakang dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
‎
“Masjid adalah ruang di mana persatuan dirawat dari akar rumput. Di sinilah warga dapat duduk bersama menyelesaikan persoalan,” tuturnya dalam suasana kebersamaan dan persaudaraan.
‎
Menurut Ahmad Syauqi, semangat persatuan harus diwujudkan melalui solidaritas sosial, kepedulian kepada warga membutuhkan, pengelolaan bantuan, serta respons kemanusiaan secara nyata di tengah masyarakat.
‎
Dalam bidang ekonomi, ia mendorong masjid membangun ekosistem yang memperkuat kemandirian jamaah melalui pengelolaan ZIS secara transparan dan akuntabel bagi jamaah dan warga sekitar.
‎
Pengembangan Baitul Mal serta pemberdayaan UMKM berbasis masjid juga dinilai dapat membuka akses ekonomi dan memperluas manfaat bagi masyarakat bagi jamaah dan pelaku usaha.
‎
“Ruang ekonomi masjid bukan berarti menjadikan masjid semata-mata sebagai pusat transaksi,” jelas Ahmad Syauqi, menegaskan orientasi utamanya dan bukan tujuan akhirnya secara lebih luas.
‎
“Yang kita dorong adalah bagaimana masjid dapat menjadi ekosistem yang memperkuat kemandirian ekonomi jamaah dan masyarakat,” lanjutnya secara luas dan berkelanjutan secara lebih luas.
‎
Ia menilai penguatan fungsi masjid sekaligus menghadirkan sila kelima Pancasila, yakni Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, dalam kehidupan sehari-hari secara nyata dan berkelanjutan.
‎
“Ketika pelaku UMKM semakin berdaya, masyarakat mendapatkan pendampingan, dan dana umat dikelola secara amanah, di situlah keadilan sosial mulai hadir,” ujarnya di lingkungan masyarakat.
‎
Sinergi DPD RI dan DMI Wilayah DIY diharapkan memperkuat fungsi masjid secara berkelanjutan sebagai pusat pendidikan, ekonomi, dan solidaritas sosial di berbagai wilayah DIY.
‎
Ketua DMI Wilayah DIY menyambut sinergi tersebut, sementara peserta dialog menyampaikan aspirasi mengenai tantangan masjid menghadapi perubahan sosial yang berlangsung cepat terbuka dan konstruktif.
‎
Ahmad Syauqi berharap kolaborasi berlanjut agar masjid menjadi tempat masyarakat beribadah, belajar, memperoleh pendampingan, berdaya ekonomi, dan saling menguatkan demi kemanfaatan masyarakat luas bersama.(waw)