Ahli Kebencanaan Nasional Berkumpul di Jogja Bahas Mitigasi dan Adaptasi Bencana

‎FAJARLAMPUNG.COM, Jogja – Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) menggelar Pertemuan Ilmiah Tahunan ke-9 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta selama tiga hari, 6 hingga 8 Mei 2026.
‎
Forum nasional itu menjadi ajang berkumpulnya para ahli kebencanaan, akademisi, hingga pegiat kemanusiaan untuk memperkuat tata kelola risiko bencana di Indonesia.
‎
Ketua Umum Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Harkunti Rahayu, menegaskan bahwa cara pandang masyarakat terhadap bencana harus segera diubah.
‎
Menurutnya, bencana tidak bisa lagi dianggap sekadar peristiwa alam yang datang tiba-tiba tanpa sebab.
‎
“Bencana dipengaruhi keputusan pembangunan, kualitas tata kota, hingga kapasitas adaptasi masyarakat. Karena itu mitigasi harus menjadi budaya bersama,” tegasnya.
‎
Tema besar yang diusung tahun ini yakni “Penguatan Tata Kelola Risiko Bencana untuk Ketangguhan”.
‎
Tema tersebut dinilai relevan dengan kondisi Indonesia yang masih menghadapi ancaman gempa, banjir, longsor, hingga perubahan iklim ekstrem.
‎
“Ketangguhan masyarakat harus dibangun dari sekarang, bukan saat bencana sudah terjadi,” ujar Harkunti dalam forum ilmiah tersebut.
‎
Pertemuan ilmiah itu juga bertepatan dengan peringatan 20 tahun Gempa Yogyakarta 2006 yang menjadi salah satu tragedi paling membekas di DIY.
‎
Anggota Unsur Pengarah Penanggulangan Bencana dari Masyarakat Profesional untuk BNPB, Rahmawati Husein, menyebut Yogyakarta masih memiliki modal sosial yang sangat kuat dalam menghadapi bencana.
‎
“Modal sosial itu terbukti efektif mempercepat masa pemulihan pasca Gempa 2006,” katanya.
‎
Rahmawati menilai kekuatan gotong royong masyarakat DIY menjadi faktor penting dalam proses rehabilitasi dan pemulihan.
‎
Ia menegaskan, pengalaman Yogyakarta harus menjadi pelajaran nasional dalam membangun kesiapsiagaan berbasis komunitas. “Solidaritas masyarakat menjadi energi besar saat kondisi krisis terjadi,” ungkapnya.
‎
Selain presentasi paper ilmiah dari para ahli, kegiatan di UMY juga diisi pameran kebencanaan yang melibatkan berbagai lembaga kemanusiaan dan organisasi penanggulangan bencana.
‎
Forum itu diharapkan melahirkan rekomendasi strategis sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor demi menciptakan Indonesia yang lebih tangguh menghadapi ancaman bencana di masa depan. (waw)