Danais Rp120 Juta per Kelurahan Dinilai Perkuat Intervensi Penanganan Stunting di Jogja

‎FAJARLAMPUNG.COM, Jogja – DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta menyatakan dukungan penuh terhadap kebijakan pengalokasian Dana Keistimewaan sebesar Rp120 juta per kelurahan untuk mempercepat penanganan stunting di Kota Yogyakarta.

‎Program itu dinilai menjadi langkah nyata agar target penurunan angka stunting bisa tercapai secara maksimal pada 2026.

‎Ketua DPC PDIP Kota Yogyakarta, Eko Suwanto, mengatakan seluruh elemen masyarakat perlu ikut bergerak mendukung program tersebut.

‎Menurutnya, penanganan stunting tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan warga di tingkat kampung hingga keluarga.

‎“DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta memberikan dukungan pengalokasian anggaran Rp120 juta tiap kelurahan guna percepatan penanganan stunting. Kami berharap masyarakat ikut bergerak bersama agar anak-anak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik,” ujarnya, Jumat (8/5/2026).

‎Eko menjelaskan, program tahun 2026 merupakan kelanjutan dari penanganan stunting tahun sebelumnya.

‎Pada 2025, setiap kelurahan menerima Rp100 juta dengan total anggaran Rp4,5 miliar dan berhasil menurunkan angka stunting dari 14,6 persen menjadi 8,4 persen.

‎“Harapan kami tahun 2026 dengan dukungan Rp5,4 miliar, Pemerintah Kota Jogja bisa bekerja lebih keras lagi menekan angka stunting hingga target 4 sampai 5 persen di akhir tahun,” katanya.

‎Menurut Eko yang juga menjabat Ketua Komisi A DPRD DIY, skema Bantuan Keuangan Khusus Danais menjadi instrumen penting untuk mempercepat intervensi langsung kepada kelompok rentan.

‎Dana Rp5,4 miliar itu akan difokuskan pada program pemberian makanan tambahan berbasis pangan lokal bagi balita dan keluarga berisiko stunting.

‎“Intervensi langsung harus menyasar calon pengantin, ibu hamil, sampai balita agar pencegahan dilakukan sejak awal,” tegasnya.

‎Ia menambahkan, setiap kelurahan di Kota Yogyakarta nantinya menjalankan langkah strategis dengan pola pendampingan dan pemberian makanan tambahan secara berkelanjutan.

‎Program tersebut tidak hanya mengejar angka statistik, tetapi juga memastikan kualitas kesehatan anak meningkat secara nyata.

‎“Percepatan penanganan stunting harus dilakukan serius dan terukur supaya generasi masa depan Jogja lebih sehat dan kuat,” ujar Eko.

‎Namun demikian, Eko menegaskan persoalan stunting tidak bisa diselesaikan hanya lewat perbaikan gizi semata. Lingkungan sehat dan pengelolaan sampah juga menjadi faktor penting yang harus dibenahi bersamaan.

‎“Apakah cukup hanya memperbaiki makanan dan minuman? Tentu tidak. Komitmen penanganan stunting wajib diikuti kehendak bersama menciptakan lingkungan hidup yang sehat.

‎”Karena itu selain anggaran Rp5,4 miliar untuk stunting, juga dialokasikan Rp2,9 miliar untuk penanganan sampah berbasis partisipasi masyarakat dengan Rp65 juta per kelurahan,” pungkasnya. (waw)