Lindungi Anak Korban Ekstremisme, DIY Tekankan Pentingnya SOP Pemulihan

‎FAJARLAMPUNG.COM, Jogja – Pemda DIY bersama Densus 88, BNPT, Satgaswil dan YPP memperkuat mekanisme pemulihan anak korban jaringan ekstremisme melalui sinergi lintas sektor.
‎
Penguatan tersebut dibahas dalam audiensi di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Rabu (7/10/2026), dengan melibatkan pemerintah, aparat, akademisi, tenaga kesehatan, serta masyarakat sipil.
‎
Pertemuan ini menyoroti pentingnya standar operasional prosedur (SOP) sebagai pedoman bersama untuk memastikan penanganan anak berlangsung terarah, terkoordinasi, dan berkelanjutan.
‎
Salah satu penekanan utama adalah penyamaan persepsi antarpemangku kepentingan, mengingat kapasitas layanan dan ketersediaan sumber daya setiap kabupaten/kota di DIY berbeda.
‎
“Yang terpenting adalah SOP. Bagaimana penyelamatannya, bagaimana pendekatan lintas level diarahkan untuk pemulihan,” demikian penegasan yang mengemuka dalam pembahasan tersebut.
‎
SOP diharapkan memperjelas tahapan identifikasi, pendampingan, rujukan, hingga pemulihan, sekaligus mencegah perbedaan prosedur yang berpotensi menghambat pemenuhan kebutuhan anak korban ekstremisme.
‎
Para pihak juga sepakat mengoptimalkan mekanisme yang sudah tersedia, daripada membangun sistem baru yang berisiko menambah beban koordinasi dan kebutuhan sumber daya.
‎
“Tidak perlu membuat yang baru, kita maksimalkan yang sudah ada,” menjadi penekanan penting dalam upaya memperkuat layanan pemulihan anak di DIY.
‎
Kesamaan bahasa dan pemahaman dinilai krusial agar setiap institusi memiliki acuan seragam ketika menghadapi kasus, menentukan kebutuhan pendampingan, serta menghubungkan layanan terkait.
‎
Pendekatan pemulihan tidak cukup mengandalkan prosedur formal. Anak juga membutuhkan dukungan keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial agar mampu membangun kembali rasa aman.
‎
“Pendekatan formal perlu diimbangi dengan pendekatan kultural,” demikian pesan yang menegaskan pentingnya memahami kondisi sosial dan budaya dalam proses pendampingan anak.
‎
Prinsip tersebut selaras dengan tiga pilar pendidikan Ki Hajar Dewantara, yakni sekolah, lingkungan, dan keluarga, yang perlu saling menopang dalam mendampingi anak.
‎
“Tiga pilar Ki Hajar Dewantara: sekolah, lingkungan, keluarga yang harus saling menopang,” menjadi pengingat bahwa pemulihan membutuhkan keterlibatan lingkungan terdekat anak.
‎
Salah satu modalitas yang dibahas ialah TESAGA, yang menyediakan kanal pengaduan melalui WhatsApp dan Instagram serta menghubungkan anak, keluarga, konselor, dan PUSPAGA.
‎
Keberadaan kanal tersebut dinilai dapat diperkuat untuk merespons kebutuhan anak, termasuk memberikan dukungan psikologis maupun mengarahkan mereka menuju layanan lanjutan sesuai kebutuhan.
‎
Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP) menyatakan dukungan terhadap penguatan mekanisme yang sudah dimiliki DIY, termasuk optimalisasi fungsi Satgas dan sistem rujukan antarlembaga.
‎
“YPP akan mengaktivasi dan memperkuat modalitas yang sudah ada di provinsi,” menjadi komitmen untuk mendorong koordinasi penanganan yang lebih efektif.
‎
YPP juga menekankan pentingnya memperkuat perangkat kerja Satgas melalui mekanisme rujukan, sehingga kebutuhan anak dapat ditangani sesuai kapasitas dan kewenangan setiap lembaga.
‎
“Memperkuat fungsi Satgas untuk support Satgas punya alat kerja yang disebut mekanisme rujukan,” menjadi salah satu fokus penguatan koordinasi dalam pembahasan tersebut.
‎
Aspek kesehatan jiwa turut menjadi perhatian, bersamaan dengan dukungan implementasi RAD Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme di wilayah DIY.
‎
Perguruan tinggi, khususnya kampus dengan sumber daya psikologi, juga berpeluang mendukung pengembangan pola pengasuhan, penguatan kohesi sosial, dan program pengabdian masyarakat.
‎
“Kesempatan dengan kampus-kampus psikologi, bagian mana yang bisa dimanfaatkan. Mungkin pengabdian masyarakatnya,” menjadi dorongan melibatkan akademisi dalam memperluas dukungan pemulihan.
‎
Pembahasan akan berlanjut melalui Focus Group Discussion pada 8 Oktober 2026, mempertemukan pemerintah, aparat, psikolog forensik, YPP, dan pemangku kepentingan terkait.
‎
Melalui penguatan SOP, optimalisasi layanan, serta koordinasi lintas sektor, DIY menargetkan mekanisme pemulihan anak semakin terhubung, mulai identifikasi, pendampingan, rujukan, hingga pemulihan berkelanjutan.(waw)